Showing posts with label Abi Zaenal. Show all posts
Showing posts with label Abi Zaenal. Show all posts
Aku sedang duduk sambil memerhatikan Aldi, anakku yang baru menginjak tiga tahun tapi tampak bersemangat untuk mewarnai buku gambar yang baru didapatnya dari tempat belajarnya tadi. Untung saja cuaca saat ini tak terlalu panas. Mungkin karena sekarang masih bulan Februari.
Aku bergegegas ke dapur untuk mengambil kan susu kotak dari kulkas. Anakku Aldi memang suka sekali susu, apalagi yang rasa coklat.
Tapi baru saja aku menutup pintu lemari pendinginku, aku mendengar suara bel. Ah, siapa gerangan tamu siang-siang begini? Akupun bergegegas memakai lagi kerudungku lantas segera menjunjung ke arah pintu.
Pintu terbuka, dan satu senyum sederhana terulas dari orang yang lamat-lamat ku ingat. Di kanan kirinya kulihat ada satu buah dus berikat rapia dan juga karung. Aku mengernyit sampai akhirnya dia memperkenalkan dirinya sebagai kerabat jauh di kampungku dulu. Setelah sedikit berbincang-bincang, dia mohon pamit untuk segera pulang, dan menolak dengan halus tawaranku untuk sekedar minum. Tapi sebelum pamit, dia menyerahkan secarik amplop putih padaku. Titipan untukku, ucapnya.
Punggungnya sudah tak terlihat sekarang dan aku segera membawa karung dan dus yang entah berisi apa. Akupun segera membuka karung itu, ternyata berisi beberapa ruas singkong, jagung serta buah-buahan. Aku mengernyit. Siapa yang repot-repot mengirimkan umbi dan sayuran semacam ini? Toh kalau beli disini tak akan merogoh kocek banyak, dan juga tak perlu repot-repot menenteng barang yang cukup berat ini. Dan saat rapia itu kulepas, penutup dus itu kusibak, bagian teratasnya sedikit membelalakkan mataku. Tanganku bergetar. Lamat-lamat kain berwarna putih itu kujangkau. Baunya masih sama seperti dulu. Warnanya pun tam

Assalam alaykum warohmatulloh wabarokatuh
“Bagaimana kabar Aldi? Apa dia sudah bisa jalan sekarang?
“Abah ingat, bagaimana kamu berjalan tertatih, berpegangan ke dinding, bingung harus berjalan ke arah mbu atau abah, dan kamu tak tahu betapa bahagianya abah waktu kamu meniti dinding dan menghampiri abah, kamu tertawa-tawa menggemaskan, sedang waktu itu perasaan abah was-was, takut kamu jatuh. Dan abah menjunjung kamu setinggi-tingginya. Itu waktu kamu masih berumur dua tahun, entah kamu ingat atau tidak.”
“Abah tahu, derajat ibu tiga tingkat di atas abah. Dan surga pun memang derajatnya ada di bawah telapak kaki ibu saking mulianya ibu. Tapi apa karena sekarang sudah tak ada Mbu, kamu enggan pulang?Apa abah sudah tak layak dapat secangkir kopi dari anak perempuan abah?”
Tuhan, air mata yang menggenang kini telah meluncur dengan sukses di pipiku. Aku hanya menutup mulutku, tak mampu berkata-kata. Suara parau beliau terasa menyakitkan sekali.
Tuhan, anak macam apa aku? Dan satu yang semakin membuatku sesak adalah aku melihat beberapa titik kertas yang berkerut. Itu adalah tetes air mata abah yang telah mengering. Abah menangis. Abah menangis ketika menulis surat ini.
Aku tersungkur dan menangis sesenggukan.
Aku ingat, ini adalah kain mukena yang abah hadiahkan ketika aku juara kelas. Dulu aku sering diledek setiap hendak mengaji karena mukena yang kukenakan saat sholat sudah lusuh. Dan Abah berjanji akan menghadiahkan itu kalau aku bisa meraih juara di TPA itu.
Kucium mukena hadiah dari abah, kubaui dan kurasakan bau tubuh abah, bau yang sama saat kupeluk abah sepulangku mengaji.
*****
Dengan tangan gemetar dan dada bergemeuruh aku mengetuk pintu. Tak sabar rasanya ingin memeluk tubuh ringkih ayah. Tubuh dengan tangannya yang kokoh yang dulu selalu menjunjungku setinggi-tingginya. Menceritakan kisah epik masa lalunya.
Pintu pun terbuka. Beberapa  detik kami berdua hanya terdiam. tapi kulihat matanya mulai memerah, kantung matanya yang mulai mengendur seolah menampung air mata yang ingin beliau curahkan. Bibirnya mulai kisut dan gemetar. Aku ambruk dan langsung bersungkur di kakinya. Memeluk erat betisnya. Aku terisak, tak mampu berkata-kata, tapi hatiku memohon maaf karena rasa tercampakan yang menderanya. Aku mohonkan ampunan pada tuhan atas orang yang paling berjasa dalam hidupku.
Aku memegang pisin berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepul, kopi kesukaan abah, dengan dua sendok gula. Mata beliau masih berkaca-kaca, memandang ke luar lewat jendela kayu yang sudah tampak lapuk itu. pandnagannya tertuju pada pohon jambu tempat aku sering bergelayut didahan itu dulu. Kutaruh cangkir itu diatas meja. Abah tersenyum padaku, dan aku hanya mampu mengulas sedikit senyum karena mataku rasanya tak berhenti berair. Aku melihat Aldi yang tampak bersemangat bertanya banyak hal pada kakeknya yang baru sekarang dia lihat. Kakek yang harusnya dia lihat dua atau tiga kali setahun. Kakek yang akan membantunya mencari capung dan belalang di sawah. Mengajaknya memetik mentimun atau cabe di ladang. Dan kakek yang akan menceritakan tentang petuah hidup.
Untuk abah di seluruh dunia. Terkadang kami anak-anakmu ini memang sering terlena oleh kehidupan kami yang baru. Kami terbuai oleh indah dan gemerlap kota yang melenakan. Kami acap terlupa pada sosok yang dulu menjunjung kami di pundak untuk memetik jambu. Kami sering tak ingat bahwa dulu engkau yang mengajari kami naik sepeda, mengangkat tubuh kami yang sering tertidur di depan tv. Kami sering buta oleh jasamu. Kami tak tahu bahwa dalam diammu, hatimu mendoakan yang terbaik untuk kami. Di balik ketiadak adaanmu di rumah, engkau bekerja terlampau keras hingga tubuhmu kaku. Kami sering membantah, menolak hanya untuk menyuguhkan secangkir kopi sepulangmu dari ladang.
Mungkin derajat ibu lebih tinggi darimu, tak ada hari istimewa atas namamu, tapi engkau akan terus hidup dalam ingatan. Sosok yang mengajarkan tentang kesabaran, keteguhan, dan kegigihan. Engkau marah agar kami sadar atas kesalahan kami, engkau diam bukan tak sayang,

Aku tahu, banyak orang yang mengabaikan begitu besar jasa seorang ayah. Ketika seorang ibu diagungkan, diperingati setiap tahunnya, seorang ayah hanya bisa tersenyum. Seorang ayah tak pernah minta pengahrgaan. Atau pengagungan. Seorang ayah hanya ingin diingat, meski diingat setelah ibu.
Ketika seorang ayah memerahi anaknya yang pulang larut malam, bukan karena dia pemarah. Tapi karena beliau takut anaknya akan menyesal kemudian marah. Ketika kamu menangis dan dibelai ibu, bukan karena ayah tak peduli, tapi ayah harus.
Ayah yang tercampakkan.
Senja meniupkan anginnya pada daun-daun terserak di halaman belakang rumahku. Menebar hawa dingin yang membuatku merekatkan jaket yang kugunakan. Jingga sudah meraja di barat, dengan awan kelabu-keemasan yang memesona, meski tak nampak hewan-hewan yang kembali ke peraduannya.  Kursi besi yang panjang ini masih saja hangat, karena satu cangkir kopi dan sebatang rokok yang menemaniku menikmati momen menghipnotis ini.
Aku menyesap kopi yang masih mengepul di tanganku ini sambil tersenyum kecut. Aromanya menebarkan wangi yang membuatku terdiam beberapa saat, membuat pikiranku kembali pada beberapa waktu sebelum aku hijrah ke kota ini. Masa dimana aku menikmati momen-momen mengesankan bersama sosok hebat itu. sosok yang mengajarkan aku pada banyak hal, pada banyak petuah hidup. Sosok tegar yang pendiam, sosok jenaka yang arif. Ah, mataku selalu saja basah setiap mengingat sosok itu. Abah.
Kini pikiranku bermain-main dengan masa kecilku, masa dimana abah menggendongku di punggungnya selepas mengunjungi makam ibu. Ketika itu aku bertanya, apa aku bisa sekolah di tempat belajarnya Habibie, idolaku dulu. Abah yang waktu itu bahkan tak mampu belikan aku mobil batman yang kuingin hanya diam saja. Tapi ketika kami berdua melintasi kebun jambu milik kami, beliau menjunjung tubuhku dipundaknya, menyuruhku memetikkan beberapa buah jambu yang telah ranum.
Kami berdua terduduk di atas batu besar menghadap barat, menikmati momen dimana alam menjalankan titah tuhan, menenggelamkan siang dan menghadirkan malam. Beberapa butir ranum itu kukumpulkan dalam raupan tanganku, lantas kugosok jambu itu dengan kaosku. Abah mengusap rambutku dan tersenyum tipis padaku.
“Lihatlah bagaimana alam mengajarkan banyak hal pada kita. Maha karya Tuhan ini mengajarkan esensi hidup. Matahari mengajarkan kita untuk tanpa pamrih. Burung mengajarkan kita pada kerja keras dan kasih sayang. Angin mengajarkan kita untuk menebar kesejukan pada setiap yang ditemuinya. Belajarlah pada alam jika kamu ingin menjadi bijak, karena alam mengajarkan apa itu esensi bahagia dan cinta.”
Aku yang waktu itu masih terlalu muda untuk memahami kalimat yang dalam itu hanya terdiam, berusaha mencerna apa yang dimaksudkan Abah.

“Hidup itu untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk meminta atau bahkan mengiba. Belajarlah pada daun yang menghidupi satu pohon. Bahkan dia rela mengorbankan dirinya saat kemarau menjelang. Dia gugurkan dirinya untuk menjaga inangnya, dia korbankan dirinya untuk hewan-hewan kecil. Dan kamu De, jangan pernah takut untuk berkorban, karena tuhan menghitung segala keikhlasan kita. Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih hebat.”
Aku terpana mendengar kalimat hebatnya itu. Ayahku yang pendiam, kini berapi-api membekaliku ilmu hidup.
*****
Dua puluh tiga. Ah, umurku sudah lebih banyak tiga tahun dari waktu dulu abah menikahi ibu. Lagi-lagi aku teringat ketika abah mengisahkan lahirnya kakakku yang sulung dengan berapi-api. Meski sekarang si sulung itu telah menjadi seorang yang brengsek. Entah apa yang membuat Abah begitu sabar menghadapi anak yang seperti setan tingkahnya.
Abah selalu bilang padaku bahwa menjadi seorang ayah adalah kebanggaan seorang lelaki. Cinta seorang ayah pada anaknya tak beda dengan cinta ibu pada kami. Meski mereka berdua menunjukkannya dengan cara mereka sendiri. Seorang ayah itu harus kuat, mengimbangi ibu yang perasa. Seorang ayah harus tetap tenang mengimbangi ibu yang mudah menangis. Bila dia marah, bukan tak sayang, tapi dia beritahu bahwa kita salah dalam bertingkah.
Dulu begitu sering aku tertidur saat menonton tv. Tapi saat mataku terbuka, aku sudah berselimut di atas kasur. Aku juga sering menangis saat mobil kulit jerukku dirusak oleh temanku, tapi esoknya sudah ada mobil dari kayu dengan roda karet bekas sandal dan bisa mengapung. Abah tak banyak bicara, tapi tatapannya mengajarkan banyak hal padaku. Senyumnya meredakan tangisku. Abahku yang hebat. Abahku yang istimewa. Untuk lelaki sederhana dan guru keihklasanku, dengan sangat kuucapkan, aku sayang engkau.
Aku masih ingat saat abah yang pendiam itu tertawa bangga saat aku pulang membawa piagam. Aku menjuarai lomba pidato Bahasa Inggris waktu itu. Sampai merah padam wajahku menahan malu, karena abah menceritakan pada setiap orang yang ditemuinya. Lantas mengadakan syukuran sederhana karenanya, meskipun kutahu itu terlalu berlebihan untukku. Tapi aku begitu senang dibuatnya.
Tapi senja yang gemericik itu aku tertunduk, tak mampu menatap wajahnya yang sendu. Satu kabar tak baik sampai di telinga abah. Entah dari siapa kabar itu bermula. Anak yang selalu dibanggakannya telah menyalahi kodrat. Aku yang pendiam ini menyukai sesama. Beliau tak menamparku seperti dugaku. Juga tak mengusirku dengan sarkas seperti syakku. Beliau hanya duduk diam memandang keluar jendela, memandang rintik-rintik air yang jatuh dari atap. Pandangannya kosong. Senyum sederhana itu tak lagi nampak dari bibirnya.
Aku tak mampu menyangkal karena berita itu absah. Aku yang harusnya bersimpuh, mencium kakinya hanya mampu diam, hanya bisa mengusap air yang terus mengaliri pipiku. Mata kelabu beliau tampak berkedip beberapa kali, lantas terlihat satu tetes air matanya jatuh. Abah yang tegar dan mengajariku untuk pantang menangis, kini tumbang. Hari ini beliau kalah.
Harusnya abah memukuliku, menendangku atau bahkan melemparku. Itu lebih baik daripada melihat beliau diam dan mengusap matanya. Melihat jakunnya naik turun dengan desah nafasnya yang berat. Pemandangan itu terasa membekukan paru-paruku yang penuh oleh sesal.
“Tolong buatkan secangkir kopi untuk Abah, De…”
Kalimat itu meluncur dari mulut Abah dengan bergetar. Sedikit parau dan seolah menahan nafas karenanya. Aku mengusap pipi yang sepertinya takkan kering senja ini. Bergegas ke dapur dan segera menjerang air. Tanganku gemetar saat menuangkan air mendidih pada cangkir yang sudah kububuhkan tiga sendok gula dan tiga sendok kopi. Takaran kesukaan Abah. Tiga untuk jumlah anaknya, tiga lagi untuk wanita yang dia cintai dalam hidupnya. Ibuku yang sekarang sudah ditempatkan Tuhan di syurga, Asni kakak perempuanku yang telah diboyong suaminya di kota, juga nenek –ibunya, yang telah melahirkan sosok hebat Abah.
Aku masih berdiri di sampingnya, menanti tangan ringkihnya meraih cangkir itu, membauinya dengan tersenyum lantas menyesapnya perlahan. Pandangannya masih tertuju pada hamparan hijau. Tapi tatapan kosong itu melanglang buana, terbawa pikirannya yang berkutat membayangkan cercaan dari kerabat, hinaan dari khalayak. Bahkan mungkin titah untuk segera meninggalkan tanah tempat aku hidup karena kenistaan yang tak kuingin ini.
Kini tangannya meraih cangkir itu, bibir bergetarnya mulai menyesapnya. Aku sesak melihatnya. Tapi riak kopi itu membuatku ambruk, bersimpuh dan memeluk kakinya tanpa mampu berkata-kata. Aku hanya sesenggukan tanpa mampu menderas permohonan ampun. Seribu ucap itu mengalir lewat mataku. Sejuta maaf itu mengalun lewat isakku.
Beliau tak berucap cukup lama, hingga meluncurlah satu kalimat dari bibirnya yang kisut.
“Kamu kurang menambahkan satu sendok gula, De…”
Pahit. Kenyataan pahit itu beliau kiaskan lewat takaranku. Kalimat sederhana yang menggambarkan betapa kecewanya beliau pada anak yang digendongnya sedari kecil. Betapa nistanya aku membalurkan lumpur ini ke wajahnya yang teduh. Beliau mengusap rambutku lantas meraih pipiku. Aku menatapnya dalam remang mataku.
“Tapi satu yang kita lupa. Bukankah kopi pahit itu adalah obat agar kita tetap terjaga, menjaga harta kita yang paling berharga? Menjaga agar kita mampu berdiri di sepertiga malam terakhir? Kopi pahit adalah sebagian jalan hidup. Kamu adalah anak bumi, kamu juga anak matahari dan anak angin… dan kamu adalah anak Abah yang hebat.”
****
Senja itu turun dengan perlahan. Meninggalkan siang yang mendung, menuju malam yang menenangkan. Aku masih bersimpuh di kaki abah, menolak beranjak meski panggilan merdu itu saling bersahutan. Abah bangkit dan menuntunku. Menimbakan air wudlu untukku. Dan aku tak mampu berhenti terisak ketika beliau memakaikan sarung untukku. Melilitkan kain itu dipinggangku, persis saat aku belajar sholat saat lima tahun. Beliau menggelarkan sajadah untuk kami berdua, mengimamiku dan melantunkan ayat-ayat itu dengan pelan, tak mampu membaca keras karena getar bibirnya.
Selepas meraup wajahku, aku mendekap abah. Membaui wangi tubuhnya. Wangi yang mengantarku pada imaji dimana Abah menggendongku saat aku baru lahir, mengadzaniku di telinga kiriku, mendendangkan iqomat di telinga kiriku, menjunjungku setinggi mungkin saat aku baru belajar berjalan. Menuntunku melewati pematang sawah, dan deretan itu masih terus berputar dan tak terputus.
Abah merangkulku. Tersenyum getir dengan mata sembab.
“Di dunia ini banyak yang tak berlaku seperti ingin kita karena kedudukan kita hanya sebagai makhluk. Apapun dan bagaimanapun kamu, darah abah mengalir dalam tubuhmu. Sebelum datang mereka yang akan merajam tubuhmu dengan batu, sebelum darah mengucur dari kepalamu, carilah tanah dimana kamu akan menjadi sebaik-baik manusia. Dirikan gubuk-gubuk tempat mengajar anak-anak matahari, tebarkan ilmu pada pewaris para raja. Purnama menjadi saksi bahwa aku adalah abahmu. Aku ridho atas engkau.”
Aku mendesah, masih enggan melepas pelukan dari tubuhnya yang bergetar. Aku tahu beliau sayang dengan teramat padaku. Tapi kenistaanku mengharuskanku pergi meninggalkan beliau sendiri di gubuk ini. harusnya aku menjaganya selepas si brengsek itu menginap di hotel prodeo, dan kakak perempuanku tak kuasa menolak titah suaminya ikut ke rantau. Aku yang selayaknya mengurusnya, memandikannya saat beliau sakit, memasakkan bubur untuknya, membersihkan kotorannya. Harusnya aku tetap di sini mendampingi masa tuanya. Tapi kenistaan ini membuat kami harus berjarak. Membuatku harus membiarkannya dengan kehidupan sebatang kara.
*****
Kumandang adzan di sela-sela deru mobil kembali mengingatkanku bahwa aku harus kembali menghadapnya. Memohonkan ampun pada-Nya atas ketidakmampuanku menjaga hati. Mendoakan Ibu, memintakan syurga buat Abah yang memang pantas mendampingi ibu di sana. Memohonkan Dia kirimkan seribu malaikat untuk menjaga beliau, memohonkan segala yang terbaik untuk guru keikhlasanku, guru ketegaran dan juga guru kehidupanku.


Oleh : Abi Zaenal
“Namaku Octa”
Singkat,kamu memperkenalkan diri di depanku, dengan senyum sederhanamu
Dingin, itu sikapmu dan aku tahu itu
Kamu tak kaya akan kata-kata. Dan aku tak pernah mau mengusik sifatmu yang seperti musim salju. Karena misteri adalah pesonamu, dan senyum langkamu itu yang buatku bertekuk lutut

Dan waktulah yang membuatku putuskan untuk membuat momentum, denganmu

Dulu aku sempat merobek dadaku dengan sebilah belati.
Kukeluarkan jantungku yang bersarang disana
Lantas kuserahkan padamu

Kubilang, “Aku hanya punya satu. Kupasrahkan padamu, dan.. terserah kamu apakan apa yang kutitipkan itu”

Kamu hanya tersenyum, tak mengatakan iya atau tidak. Tapi kamu mengambil toples kaca, dan kamu memasukkan apa yang kutitipkan itu ke dalam toples itu. Dan kamu membawanya serta kemanapun kamu pergi.

****

Dingin sikapmu sedikit mencair
Tapi kamu masih kukuh seperti gunung es
Apakah puncak itu pula yang kamu rasakan? Kamu hanya tampakkan puncaknya saja, tanpa mau menyingkap semua? Entahlah, hanya kamu yang tahu
Dan aku masih menanti dalam diam. Tak berani katakan bahwa jantungku mungkin merasa pengap
Ah, jantungku pasti bisa bertahan disana.
Dan ketir itu kurekat erat dalam peluk asaku.

Tapi mendung lingkupi bumi, dan langit pun mencurahkan hujannya.
Kamu berlari, melemparkan toples itu.

“PRAAKK!!!”
Jatuh.
Berdenting sebentar lantas pecah
Berserakan belingnya
Menusuki dan jantung itu berdarah
Beberapa detik aku hanya diam

Dan aku hanya menatapnya dalam diam


Aku berjalan dalam deras hujan
Kupungut jantungku yang terkapar
Kucerabuti pecahan beling itu, dia meringis pelan
Ku usaplembut darah yang terus mengalir
Lemah detaknya, mulai menghitam warnanya
Dan saat kutekan, tak ada reaksi

Jantungkumati rasa

Kupandangi lagi kamu yang masih berteduh dari hujan
Hanya menatap iba tanpa mengucap maaf

Sudahlah,aku harus pulang. Harus kujahit gores itu agar tak menganga.
Pasti perih, tapi setidaknya luka itu takkan terlihat olehmu nanti, yang mungkin akanmembuatnya merasa bersalah.

Ah,kamu tak boleh merasa bersalah, karena kamu memang tak salah.

Apa aku yang salah?
Entahlah. Yang kutahu, tak ada yang salah ketika seseorang mencari bahagia dalam cinta

****

Rivanol tak terasa. Betadine tak membuatnya perih
Kuselimuti jantungku yang masih enggan bicara padaku.
Sepertinya dia masih marah sekarang
Dia bahkan tak menangis saat jarum itu menjahit lukanya.
Dan serat luka itu kini tertutup plester.

“Maaf membuat kamu seperti ini. Nanti aku tak akan menitipkan kamu pada siapapunlagi.
Aku janji.
Aku akan biarkan kamu memilih sendiri, pada siapa kamu ingin kutitipkan.
Tapi untuk saat ini, bolehkah kumasukkan lagi kamu kedalam dadaku?
Tinggallah dengan nyaman disana, sampai saat kamu berdetak dengan kencang, dan kamu sepakat dengan otak untuk berpindah rumah
Tapi takkan kubiarkan lagi siapapun menyimpanmu dalam toples
Biarkan dia merobek dadanya, dan menukarnya dengan jantungnya untuk kujaga”

Dan dia hanya mengangguk lemah

Hujan kini berhenti
Berganti halimun yang mengawang, berpadu dengan busuk cinta
Senja ini, kubalurkan doa pada semua angin yang lewat
Kuminta mereka agar tak pernah menyiakan sesuatu yang tulus

****

Aku tak lagi menghitung purnama, karena rembulan tak lagi jadi pesona bagiku
Tapi satu malam, kuhabiskan dengan secangkir kopi dan sebatang rokok di tangan
Menikmati momen bulan tersenyum

Lantas tiba-tiba hidungku seperti srigala, mencium angin yang berbaur dengan wangi kesturi
Aku menoleh dan…

Tiba-tiba jantungku berdetak kembali, bergemuruh dan membuat rusuh
Nampak di bawah pendar bulan, seseorang sedang berjongkok

Kakiku bersekongkol dengan otakku
Berjalan mendekati sosok itu
Aku mendekat
Entah demi wangi kesturi itu, atau memastikan apa yang menyita perhatiannya
Ah, seekor anak anjing berselimut, tampak mengeong seperti kucing
Dan entah darimana kudapat keberanian, kulontarkan satu pertanyaan
“Bukankah anjing itu najis?”
Diamenoleh. Tersenyum manis seperti rembulan malam ini

“Anak anjing juga mahluk tuhan. Dan menolong mahluk tuhan itu gak dosa kan??”
Dia mengimbuhinya dengan binar mata yang serasa menghentikan kuasa waktu
“Kenalkan,aku Avril”
Mahluk manis itu mengulurkan tangannya padaku
Aku tercekat dan…Aku larut dalam pesona

Ah,apa mungkin aku menyukainya karena rupa?
Tidak!! Sekali-kali tidak!!
Dia tak memiliki senyum misterius seperti Octa
Diatak punya tatapan teduh itu
Tapi..
Binar mata itu..
Senyum riang itu..
Membuatku ikut duduk dan bermain dengan anjing itu
Dalam pada masa itu, aku lupa padamu, Octa

***

Ma and Da bilang, bumi itu seperti roda
Berlarian mengitari matahari, tapi tak terasa. Memusing seperti gasing, tapi tak membuat mual
Yang muncul adalah riak perubahan
Musim dingin yang beku akan berganti semi yang penuh warna. Semi berlanjut menjadi musim panas yang ceria
Ya,aku tahu
October yang dingin, akan berganti dengan April yang hangat

Ah,benar
Sudah waktunya aku peduli pada diriku
Aku harus kejar bahagia
Dimusim panas ini

****

April mangajakku bermain dengan jerejak, mengajariku bercanda dengan ilalang
Bercengkrama dengan bulan, berlarian mengejar matahari
Ah,bulan ini perdu apit mengalahkan pesona sakura
Dan aku suka musim panas, sama seperti aku menyukai April

Bulan berganti, meski aku masih enggan beranjak

Musim salju itu kembali datang, menggantikan gugur yang berserakan
Dan April, sosok musim panas itupun pamit, mengejar anak-anak bumi, ucapnya
Satu malam yang penuh dengan angin beku. Dan saat butiran beku itu menghujaniku
Kamu datang, berdiri di depan halaman rumahku, dengan sebongkah boneka salju bersyal merah, juga hidung wortel orange yang lucu
Tambun,menggemaskan
Dan kamu menatapku penuh harap
Membuatku terdiam

“Hal paling bodoh adalah membohongi diri, memunggungi hati
Munafik pada diri sendiri. Membiarkan ucapan tak sejalan dengan pikiran

Lantas sampai kapan aku bohongi diriku?
Aku memujamu seperti musim dingin pada musim semi
Kembalilah kesisiku, warnai hariku lagi
Harumkan rumahku lagi”

Kamu mengakhiri dengan uluran tanganmu

****

Hari ini, gemawan bergumul di puncak gunung
Bertengger seperti nuri di pucuk ilalang
Lantip,mengendap perlahan tertiup sepoi angin
Hingar-bingar, mencuri perhatianku
Ku pegang dadaku, jantungku berdetak lembut, dan dia kembali terasa hangat.
Tak perlu lagi kurobek dadaku, tapi jantungku yang memilih berpindah rumah

Ya, aku memilihnya
Memilih mencari bahagia dalam kesederhanaannya.
Dan saat semua tawaran bahagia itu datang,
Aku akan tetap disini, menggenggam tangannya
Dan kubisikan pada setiap awan yang lewat,
“Aku memilih disisimu, April”

END



cerita ini w bikin sepesial buat si om w. inget, lo milik w. haha

juga buat yang ngerasa galau gegara seseorang yang dulu pernah jadi bagian dari hidup kita, terus hadir kembali dan menggoyahkan apa yang sudah kita pilih.

inget sob, masa lalu itu ibarat sepion. boleh lah sekali-kali kita tengok. tapi kalo keseringan, ingat, kita itu berjalan maju, bukan mundur.


By. Abi Zaenal