Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts





Salam dari pemilik malam, ia yang memeluk rembulan. Jemari yang penat menuliskan kalimat fatamorgana, tubuh yang lemas karena rutinitas mahasiswa. Aku tak akan berjaya menghadapi mu. Aku tak akan sanggup menyuguhimu, karena hingga kini aku masih tersauk-sauk mengimbangi.

Dari angin yang membawa udara segar, aku hadirkan dengan bahasa sederhanya hanya agar kamu mengerti. Tapi kamu langsung menyudahi, tak lagi berarti. Bagai rintik yang menjadi badai, lalu beliung meluluh lantakkannya, hati itu hancur tanpa sisa karena porah-poranda.

Demi cinta yang tercipta dari ingatan. Aku sesajikan persembahan terakhir lari cambuk waktu yang kian sulit berkecamuk. Mengharap bagai peminta-minta, mengemis karena tak punya. Namun apa daya simpati pun tak dapat, hanya menatap dengan harap.









Nikmat mana yang hendak kamu dustai.
Apakah ini layak kamu lontarkan pada gelandangan sepertiku, yang meminta-minta pengakuanmu, yang mengais-ngais dari rasa sakitku. Aku adalah lelaki yang mencintai seorang gadis, terkutuk sebuah janji dan terperangkap masa lalu. Apa selayaknya aku mendapat simpati, tatapan mereka hanya iba, hanya cemooh yang terlontar dalam doa yang menyaru lewat bahasa yang indah. Sejatinya mereka tertawa, mereka tak pernah benar-benar perduli akan rasa menyelimuti qalbu. Aku hanya lelaki yang ikut tertawa dari laku mereka karena sejatinya mereka tak pernah mengerti. Musuhku bukan mereka, tak perlu perduli atau memperdulikan hanya melepas stamina percuma. Lawanku adalah diri berperang melawan waktu.
Hingga habis masa batas, sampai lazuardi menghilang dan mega merah itu nyala berkobar lalu padan. Sedari awal Tuhan telah menganugrahiku dengan cinta dan iblis mengujiku dengan cinta pula. Atas nama nafsu kusarukan menjadi cinta, atas nama dosa ku jabarkan seakan kesetiaan. Wujud dari cinta itu pernah kututupi, kusamarkan hingga tak terlihat. Sesaat hati ini beku atau malah telah membatu.
Darah mengalir dari seperangakat nadi pun aku tak tahu, deras menguras namun tak perduli. Hingga kebebasan menyeruak, iblis terpojok dan jiwa tersadar dari neraka serasa surga. Aku terbelalak menyadari tapi masih menikmati. Ku angkat lagi hati agar ia dapat dipatrikan pada posisinya. Terkorban jiwa demi iblis pun tak percuma karena nyatanya cinta masih memihat, nikmat lama yang Tuhan bagikan masih menyisa, separuh jiwa yang tersisa kan kumanfaatkan.
Melepas perih, mencabut belati. Aku bebas memperkaya diri untuk mendidik anak-anak matahari. Sekali lagi kan kuubah cinta dalam simbol yang berbeda, cinta terhadap sang gadis kini sengaja kukisis, membersihkan hingga kerak tanpa sisa. Meski lagi, waktu kan menjadi saksi, menjadi wali, bagaimana aku menjerat jika hingga batas akhir.
Tak masalah selama nafas masih terengah, oksigen tak kan lepas terhirup. Semakin terjerat, semakin sakit kudapat. Kamu gadis kan lenyap bersama kebebasan, ketidak adaan masa lalu.


Ini hari-hari yang sulit, setelah setengah jalan menapaki janji aku merasa lelah menghantamku. Tubuh ini jadi merasa ragu untuk merangakai kata dari bibir yang membisu, otakku seakan enggan mengurai masa lalu antara kamu dan aku yang sedikit itu.
Entah, ada bagian lain yang merasa mungkin kusimpan saja ini sendiri. Aku tak ingin melepas semua ini, aku tak ingin merelakan, tak ingin mengakui dan tak ingin semua ini berakhir. Seluruh tubuh ku berontak, fikiran ku melayang hilang segala bentuk konsentrasi. Ini terasa lebih sulit dari hari-hari sebelumnya karena kusadari semua hal jadi tak tentu arah, semua hal jadi terasa amburadul.
Kamu selalu sukses membolak-balik perasaanku, mengahantamnya seperti badai, lalu menghilang bagai sepi. Kadang kamu adalah musim panas yang penuh akan cinta, kamu tau aku tergila-gila hingga saat ini hadir menyaru bagai musim dingin. Kamu selalu saja beku, entah kadang sering ku terfikir apa yang menjadi tolak ukurmu menjatuh kan hati. Entah apa yang harus dimiliki seorang laki-laki sehingga ia dapat mencuri perhatianmu, lalu membuatmu jatuh hati.
Perasaan yang terombang-ambing kamu hanya isyaratkan sebuah fiksi. Rasa yang menahun ini kamu terjemahkan sebagai cerita romansa biasa. Aku selalu meminta jika kamu tidak pernah dapat mencintai aku, tolong kembalikan jantungku yang kutitipkan padamu dalam toples kaca itu. Jantung yang meminta mu untuk menyimpannya, tolong kembalikan hanya agar aku dapat mencintai wanita lain. Hanya aku dapat melepasmu seperti maumu, mungkin.
Kini aku sesak, sesak karena kamu menguncinya terlalu erat. Jantungku tak dapat bernafas, aku sesak ketika batas waktunya semakin dekat. Kamu bebaskan lah aku dari perasaan ini, kamu.
Ahhh kamu...
Selalu membuatku bergidik, membuat lututku lemas. Karena entah mengapa semua seperti terputar ulang kembali dikepalaku. Padahal tak banyak hal yang terjadi. Tapi ketika memoriam itu kembali kamu suguhkan segalanya bak tsunami. Tenang sesaat lalu menghempasku dari segala arah.
Haii Oktober.
Ini pertemuan kita yang kesepuluh, setiap tahunnya kita berjumpa dan merayakan sebuah pertanda khusus. Entah dalam kategori suka cita atau duka. Kita sebenarnya tidak dapat mendefinisikan perayaan yang seperti apa itu. Namun kamu tahu, disetiap tahunnya aku selalu bangga. Bangga juga karena dapat mengunjungi kamu setiap tahunnya. Dan bahagia meski gadis itu tak menyadari atau berpura tak ingin mengetahui aku selalu menemui kamu pada tanggal itu.
Namun Oktober, akankah kamu merindukan aku? Jika tahun berikutnya aku tak lagi menyapamu. Tak lagi dapat merasa getir ketika kan datang kamu dipenghujung September. Ketahuilah Oktober mungkin ini juga sebuah perayaan perpisahan. Aku tak lelah tak akan pernah, jika hendak mencintai dia. Namun batasan itu semakin jauh.
Kamu akan tahu, kamu akan mungkin lebih mengiba dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu temani aku sebentar lagi. Tunggu semua kan ku jabarkan dalam hari ke 28 milikmu seperti biasa. Diamana akan tumpah bahasa lewat sebuah surat yang tak pernah dibaca. Meski kan usang, meski kutu-kutu kan menggerogoti sudut kertasnya, namun selalu ada kamu, Oktober yang menjadi saksi.
Entah, entah, entahlah Oktober. Gadis itu selalu membuatku bagai terkena kutukan medusa, membatu bahkan sebelum melihat matanya. Gadis itu selalu membuatku jatuh cinta sebelum cupit memanahku. Oktober tidak hanya praha sepuluh tahun lalu, kamu bahkan mengetahui rahasia mengapa aku selalu ingin berada diumur 8 tahun. Kamu masih ingatkan? Pastinya, karena kamu selalu dengan tenang mendengarkanku bercerita di hari itu lewat “Aniversary of Love” setiap tahunnya.
Oktober aku akan selalu mengingat sejarah panjang ini, Oktober maaf jika aku harus berakhir. Bukan karena ku ingin namun aku harus segera mengakhiri. Maaf Oktober.



Tiada malam yang begitu indah untuk si penyendiri.
Tiada siang yang begitu terang untuk lelaki yang suram.
Tiada hal yang dapat menggugurkan niat selain maksiat.
Tiada nikmat jika doa tak lagi jadi jimat.

Kesendirian itu apa?
Kesendirian itu luka.
Kesendirian selalu berteman sepi
Kesepian adalah jiwa yang selalu berusaha untuk ditutupi

Aku mati sedari dulu.
Hatiku sakau tapi tak mencandu.
Sunyi temankan aku.
Gulita jaga aku.


Apa kabar gadis pandai besi Hefaistos?
Pandora. Masih kah kamu disana menjaga dan merawat kotak yang diberikan para dewa di gunung olimpus kepadamu dihari pernikahanmu dengan Ephitemus? Sebuah amanah besar yang bebankan dipunggungmu Pandora, jangan lah kamu merasa sedih atau takut karena kamu telah membuka kotaknya.
Pandora yang berarti mendapat banyak hadiah adalah pemberian dari Hermes. Tak lupa serangakian dewa lain membrondongmu dengan serangkaian hadiah. Aprodit memberimu kecantikan dan hasrat, Athena mengajarimu menenun dan memberimu pakaian, para Kharis memakaikanmu perhiasan, para Hoirai memberimu mahkota Apollo mengajari bernyanyi dan mengajari bermusik, Posaidon yang menguasa lautan juga berbaik hati memberimu sebuah kalung mutiara.
Tapi pada masanya rasa penasaran yang besar sebuah berkat yang diberikan Dewi Hera kepadamu berakhir tragis. Kamu melupakan janjimu dengan membuka sebuah kotak, dan diadalamnya keluar serangkaian hal-hal buruk dan aroma manakutkan mencuat.
Bukankah kita sama Pandora?
Sesaat setelah ku ungkap perasaan ku pada seorang gadis, semua jadi sama aku seakan dikutuk oleh Hades membatu oleh sihir Medusa dan aku mati rasa karena Cupit enggan memanahku lagi dengan cinta. Aku kalap hampir kalang kabut. Gigi gemeretak, dada seakan memberontak dan hati kehilangan seluruh serambi. Aku pontang-panting karena rasa sakit, awalnya cinta itu adalah rasa sakit. Tapi diterpa sakit hati ternyata lebih pahit.
Aku sama denganmu Pandora, sama-sama kembali lagi melihat kedalam kotak yang sama dengan perasaan takut dan ragu. Melihat kembali dan menyadari masih ada satu hal yang tertinggal disana, satu hal yang kita simpan dan kita jaga hingga saat ini. Harapan....


Dipersimpangan jalan kota ini aku terdiam, memandangi sudut lain manusia yang bahagia dengan dunianya. Tertegun bersama hitung mundur di lampu merah, aku merasa waktuku semakin sesak semakin tak banyak. Tapi melihatnya menari-nari, tertawa, serta sorak-sorai dari bahasa tubuhnya aku jadi iri.
Lelaki setengah waras itu mempermalukanku dalam hitung waktu. Ia jadi begitu rasional dimataku. Bahwa dunianya tak ada satupun mengganggu. Mata-mata yang melihatpun tak perlu meragu, yaa karena ia sedang meluapkan perasaan tanpa identitas semu. Lelaki itu menjadi begitu jujur dihadapku, bahkan mungkin juga lebih mujur.
Meramu hidup tak perlu takut kehilangan hidup, tak perduli menyeka, tak perduli dihina, tak ragu dicerca. Jika hendak marah ya luapkan saja, jika ingin berkata yaa ungkapkan saja. Aku malah reda karena ditolak cintanya, meski bersikukuh memuja tapi tetap saja tak berani meraba siapa yang dicinta.
Ahhh...
Lelaki itu memang setengah waras, tapi lihatlah ada gambaran kedamaian diparasnya. Ketulusan senyum yang memiliki derajat mutu dan keikhlasan yang diatas rata-rata bahkan pejabat saja kalah tak layak jadi pembandingnya. Aku juga ingin seperti itu, bebas tanpa batas. Ikhlas tanpa pernah berharap cinta ini juga akan dia balas. Tapi mana bisa, mencintai tanpa memiliki hanya ada dinegeri dongeng. Sekecil apapun cinta pasti meminta balas, minimal sebuah pengakuan dari yang dicinta.

Lama-lama aku jadi terlewat waras. Ikuti saja alurnya, ikuti saja takdirnya maka dengan sendirinya tanpa sekat antara rasional dan irasional. Biarkan aku tak tahu beda keduanya, jadi sedikit semaunya.
Pernahkah kita mencintai?
Merasakan dada berdebar tak menentu lantas tingkah menjadi gelisah tak karuan. Bagaimana kita menikmati pemberian terbesar yang diberikan Tuhan untuk kita? Bagaimana kita mencintai cinta? Bagaimana dengan sakit hati, karena sepertinya rasa sakit karena mencintai mengiringi puisi para pujangga yang bangga akan cinta.
Apakah cinta memiliki jenis?
Banyak pertanyaan yang menyertai tulisan ini. Aku rasa cinta itu sama saja. Cinta sebenarnya tak terdefinisikan dengan satu kesepahaman. Selalu punya cara tak terduga untuk datang menuju hati yang senyap. Cinta. Tak mampu tersimbolisasikan dengan satu tanda. Terkadang cinta juga punya cara yang tak dapat diprediksi menggoncang hati dengan prahara.
Meski demikian cinta juga punya bahasa yang indah untuk dimengerti. Pianist hujan mulai bermain dengan pelan membawakanku concerto milik schubert lagu sedih yang menyamarkan mata yang basah dibawah deras hujan. Menekan setiap window di pianonya. Berfikir mengapa bagaimana cinta sebenarnya. Sehingga aku tersadar cara terbaik untuk mencintai adalah dengan mencintai diam-diam.
Meski mencintai diam-diam selalu berbanding lurus dengan kemungkinan kekecewaan yang didapat. Walau kita harus menyiapkan diri mendapat cinta diam-diam pula atau penolakan yang diam-diam. Tapi rasanya sepadan, karena mencintai diam-diam seperti setan pengutit kecil mengendap-endap berusaha mencuri peluang untuk luruh. Rasanya mencintai dengan cara ini sebanding. Kerena tak akan ada yang terluka, tidak akan ada air mata karena merasa dikecawakan. Atau terkadang akan merasa jenuh ketika cinta mulai menunjukkan kebosanan.
Mencintai dengan diam-diam entah sejak kapan menjadi pilihan ketika cupit membrondongku dengan selusin anak panah. Cupit itu terkadang juga bodoh memanahku dengan cinta tapi ia lupa memberikan ku penawar ketika terluka. Cupit itu mengesalkan, seenaknya saja menjadikanku bidikkan dari sasaran empuknya. Cupit itu tolot, karena acap kali salah sasaran melepaskan panah pada makhluk yang tak semestinya.
Tapi meski ia membantuku untuk belajar sabar dan memahami tentang cinta, lalu bagaimana bisa mereka juga tidak mencoba untuk mencintai diam-diam saja. Dari pada harus berpura-pura mencintai memadu kasih dengan orang lain tapi hati terpaut dengan batin. Cinta yang tak tersingkronisasi seperti itu yang malah bikin manusia banyak sakit hati.
Mencintai diam-diam membuat hati sekuat apa?
Tak ada yang tahu kuatnya hati hanya kita yang pandai-pandai menerka isi hati, bahwa nanti kita harus menyiapkan diri dari kemungkinan kehilangan terkasih. Terkadang mencintai diam-diam membantu menjaga harga diri tak lantas rubuh ketika topan dan tsunami menghantam.
Karena sebuah hubungan yang baik-baik saja pada awalnya akan menjadi berubah atmofer ketika cinta menyuara.Rotasi bumi bisa saja berbalik memuntahkan kata yang tak semestinya. Tatapan polos anak kecil akan menyertai, takut terulang takdir dimasa depan.
Mencintai dengan cara ini pecundang pun layak jatuh cinta. Dengan cara ini alfabet tak lagi sendiri, karena akan ditemani temaram senja melihat dunia diluar sana meski hanya dengan imaji yang tersaji lewat sekelumit bahasa sederhana. Mencintai diam-diam pelakunya bukan tak mengerti resiko mencintai, bukan lari dari kenyataan. Tapi mencintai diam-diam teriring harapan tersemat perasaan yang sanggup membuat malaikat mematahkan sayapnya.
Langkah memutari mencari untuk mengetahui bagaimana cara ini menjadi begitu ampuh untuk dilakukan. Terkadang hati tak sejalan dengan jemari ketika bahasa telah terbawa keduania berbeda.

Mencintai diam-diam menjadi syarat yang tak terbantahkan bagi sebagian manusia yang terlanjur jatuh cinta namun tak memiliki daya untuk menyuarakan. Menimbang dengan sedemikian agar ikatan tak putus ditengah jalan. Mencintai diam-diam memaksa pelakunya mengerti bahwa ada cinta yang sebaiknya tetap menjadi rahasia...
Aku sedang duduk sambil memerhatikan Aldi, anakku yang baru menginjak tiga tahun tapi tampak bersemangat untuk mewarnai buku gambar yang baru didapatnya dari tempat belajarnya tadi. Untung saja cuaca saat ini tak terlalu panas. Mungkin karena sekarang masih bulan Februari.
Aku bergegegas ke dapur untuk mengambil kan susu kotak dari kulkas. Anakku Aldi memang suka sekali susu, apalagi yang rasa coklat.
Tapi baru saja aku menutup pintu lemari pendinginku, aku mendengar suara bel. Ah, siapa gerangan tamu siang-siang begini? Akupun bergegegas memakai lagi kerudungku lantas segera menjunjung ke arah pintu.
Pintu terbuka, dan satu senyum sederhana terulas dari orang yang lamat-lamat ku ingat. Di kanan kirinya kulihat ada satu buah dus berikat rapia dan juga karung. Aku mengernyit sampai akhirnya dia memperkenalkan dirinya sebagai kerabat jauh di kampungku dulu. Setelah sedikit berbincang-bincang, dia mohon pamit untuk segera pulang, dan menolak dengan halus tawaranku untuk sekedar minum. Tapi sebelum pamit, dia menyerahkan secarik amplop putih padaku. Titipan untukku, ucapnya.
Punggungnya sudah tak terlihat sekarang dan aku segera membawa karung dan dus yang entah berisi apa. Akupun segera membuka karung itu, ternyata berisi beberapa ruas singkong, jagung serta buah-buahan. Aku mengernyit. Siapa yang repot-repot mengirimkan umbi dan sayuran semacam ini? Toh kalau beli disini tak akan merogoh kocek banyak, dan juga tak perlu repot-repot menenteng barang yang cukup berat ini. Dan saat rapia itu kulepas, penutup dus itu kusibak, bagian teratasnya sedikit membelalakkan mataku. Tanganku bergetar. Lamat-lamat kain berwarna putih itu kujangkau. Baunya masih sama seperti dulu. Warnanya pun tam

Assalam alaykum warohmatulloh wabarokatuh
“Bagaimana kabar Aldi? Apa dia sudah bisa jalan sekarang?
“Abah ingat, bagaimana kamu berjalan tertatih, berpegangan ke dinding, bingung harus berjalan ke arah mbu atau abah, dan kamu tak tahu betapa bahagianya abah waktu kamu meniti dinding dan menghampiri abah, kamu tertawa-tawa menggemaskan, sedang waktu itu perasaan abah was-was, takut kamu jatuh. Dan abah menjunjung kamu setinggi-tingginya. Itu waktu kamu masih berumur dua tahun, entah kamu ingat atau tidak.”
“Abah tahu, derajat ibu tiga tingkat di atas abah. Dan surga pun memang derajatnya ada di bawah telapak kaki ibu saking mulianya ibu. Tapi apa karena sekarang sudah tak ada Mbu, kamu enggan pulang?Apa abah sudah tak layak dapat secangkir kopi dari anak perempuan abah?”
Tuhan, air mata yang menggenang kini telah meluncur dengan sukses di pipiku. Aku hanya menutup mulutku, tak mampu berkata-kata. Suara parau beliau terasa menyakitkan sekali.
Tuhan, anak macam apa aku? Dan satu yang semakin membuatku sesak adalah aku melihat beberapa titik kertas yang berkerut. Itu adalah tetes air mata abah yang telah mengering. Abah menangis. Abah menangis ketika menulis surat ini.
Aku tersungkur dan menangis sesenggukan.
Aku ingat, ini adalah kain mukena yang abah hadiahkan ketika aku juara kelas. Dulu aku sering diledek setiap hendak mengaji karena mukena yang kukenakan saat sholat sudah lusuh. Dan Abah berjanji akan menghadiahkan itu kalau aku bisa meraih juara di TPA itu.
Kucium mukena hadiah dari abah, kubaui dan kurasakan bau tubuh abah, bau yang sama saat kupeluk abah sepulangku mengaji.
*****
Dengan tangan gemetar dan dada bergemeuruh aku mengetuk pintu. Tak sabar rasanya ingin memeluk tubuh ringkih ayah. Tubuh dengan tangannya yang kokoh yang dulu selalu menjunjungku setinggi-tingginya. Menceritakan kisah epik masa lalunya.
Pintu pun terbuka. Beberapa  detik kami berdua hanya terdiam. tapi kulihat matanya mulai memerah, kantung matanya yang mulai mengendur seolah menampung air mata yang ingin beliau curahkan. Bibirnya mulai kisut dan gemetar. Aku ambruk dan langsung bersungkur di kakinya. Memeluk erat betisnya. Aku terisak, tak mampu berkata-kata, tapi hatiku memohon maaf karena rasa tercampakan yang menderanya. Aku mohonkan ampunan pada tuhan atas orang yang paling berjasa dalam hidupku.
Aku memegang pisin berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepul, kopi kesukaan abah, dengan dua sendok gula. Mata beliau masih berkaca-kaca, memandang ke luar lewat jendela kayu yang sudah tampak lapuk itu. pandnagannya tertuju pada pohon jambu tempat aku sering bergelayut didahan itu dulu. Kutaruh cangkir itu diatas meja. Abah tersenyum padaku, dan aku hanya mampu mengulas sedikit senyum karena mataku rasanya tak berhenti berair. Aku melihat Aldi yang tampak bersemangat bertanya banyak hal pada kakeknya yang baru sekarang dia lihat. Kakek yang harusnya dia lihat dua atau tiga kali setahun. Kakek yang akan membantunya mencari capung dan belalang di sawah. Mengajaknya memetik mentimun atau cabe di ladang. Dan kakek yang akan menceritakan tentang petuah hidup.
Untuk abah di seluruh dunia. Terkadang kami anak-anakmu ini memang sering terlena oleh kehidupan kami yang baru. Kami terbuai oleh indah dan gemerlap kota yang melenakan. Kami acap terlupa pada sosok yang dulu menjunjung kami di pundak untuk memetik jambu. Kami sering tak ingat bahwa dulu engkau yang mengajari kami naik sepeda, mengangkat tubuh kami yang sering tertidur di depan tv. Kami sering buta oleh jasamu. Kami tak tahu bahwa dalam diammu, hatimu mendoakan yang terbaik untuk kami. Di balik ketiadak adaanmu di rumah, engkau bekerja terlampau keras hingga tubuhmu kaku. Kami sering membantah, menolak hanya untuk menyuguhkan secangkir kopi sepulangmu dari ladang.
Mungkin derajat ibu lebih tinggi darimu, tak ada hari istimewa atas namamu, tapi engkau akan terus hidup dalam ingatan. Sosok yang mengajarkan tentang kesabaran, keteguhan, dan kegigihan. Engkau marah agar kami sadar atas kesalahan kami, engkau diam bukan tak sayang,

Aku tahu, banyak orang yang mengabaikan begitu besar jasa seorang ayah. Ketika seorang ibu diagungkan, diperingati setiap tahunnya, seorang ayah hanya bisa tersenyum. Seorang ayah tak pernah minta pengahrgaan. Atau pengagungan. Seorang ayah hanya ingin diingat, meski diingat setelah ibu.
Ketika seorang ayah memerahi anaknya yang pulang larut malam, bukan karena dia pemarah. Tapi karena beliau takut anaknya akan menyesal kemudian marah. Ketika kamu menangis dan dibelai ibu, bukan karena ayah tak peduli, tapi ayah harus.
Ayah yang tercampakkan.
Cinta bagaimanapun tetap cinta. Cinta antara aku dan dia, ya cinta yang hanya milik kami. Mengapa harus kau campuri? Cinta bagaimanapun itu adalah tentang mengasihi. Membawa nama tuhan sebagai saksi. Bukan aku tak mengerti? Sudah lebih aku pahami. Lalu mengurai kalimat dari kata dan mencibir diri. Apa sudah mawas diri ??

Jika aku bergulat dalam dosa pun itu dosa milikku. Apa kau hendak memikul punyaku? Jika punyamu saja tak dapat terpikul. Apa kau sudah merasa benar? Ingin melampaui Tuhan kah? Ini tentangku. Tentang kisah cinta yang tak dapat ku rangkai karena berselimut kelabu. Gelap karena kau selalu berusaha ingin tahu dan aku jadi membenci itu.

Berbeda
Ya, aku mencinta berbeda cara. Berbeda karena kau tak terbiasa melihat aku mencinta. Tapi biasa bagi mereka yang mengerti. Bukan sekedar memahami. Cinta dan agama terkadang punya dinding yang berbenturan. Sama-sama keras tak ada yang mengalah. Namun agama bukan bagian ku untuk menilai. Meski aku berhak bersuara ketika cinta menggema di dada.


Kenapa kau jadi mengerutkan dahi? Ketika ku pinta kau mengurai apa itu cinta mengapa kau tak dapat merangkai? Ini tentangku sekali lagi berkeras. Ini tentangku yang merangkul diam untuk mencinta. Ini certa milikku yang terbungkus rahasia. Karena manusia selalu punya cara mencaci sesama. Karena manusia punya muslihat untuk berkata. Tidak.
Sedetik aku terdiam, lupa bagaimana mencinta.
Sekejap aku tersihir oleh waktu, yang membawa pesona.
Seketika aku tersadar, ini adalah masa yang sama.
Bumi telah membawaku kemasa untuk mengulang kembali
Ingatan tentangmu


Aku bingung hendak memulai kalimat seperti apa. Tak ada hal yang dapat ku torehkan sebaik ketika aku sedang dimabuk cinta seperti dulu. Hendak membuatnya sebagai bagian yang panjang atau singkat saja. Jujur pandangan akanmu mulai kabur dalam ingatan. Degup jantung itu tidak lagi dipaksa memompa diluar kemampuannya, seperti berhibernasi ia memainkan dengkuran yang lembut ketika bisik menyebut namamu. Aku jarang meminta angin membawa gumamku keujung ketelingamu. Apa aku telah mati rasa?

Namun kamu merupakan gadis pertama yang kokoh tegak didalam hatiku, seakan tak mau terganti atau aku yang malas hendak mencari pengganti. Tak ubahnya barang usang mungkin cintaku juga diselubungi karat dan debu tebal yang menyelimutinya. Jika aku bertanya hendak ku tuliskan kamu dalam bentuk apa dengan tekanan seperti apa atau kemiringan yang bagaimana? Mungkin kamu hanya tertegun diam. Kamu bukan orang yang suka dengan keabstrakkan seperti ini. Membuatmu merasa nyaman atau menjadi orang yang nyaman untukmu itu sulit karena berapa kali dicobapun aku ini lelaki yang kaku.

Kini aku sulit menggambarkan kamu dalam situasi seperti ini. Kamu yang seakan memutus mata rantai yang bermula dari kebetulan. Kebetulan karena kita sama-sama dimasukkan kesekolah yang sama. Tapi aku menyebutnya sebagian dari takdir, karena kenagan itu terbawa sebegitu apik olehku hingga aku mengenal cinta untuk pertama kalinya. Mengusik setiap rusukku karena jantung ini selalu saja bedetak kencang. Hingga 3 tahun lalu kamu merubahnya menjadi perpisahan, lari dari kenyataan bahwa aku telah cukup lama menjajaki cinta dalam bentuk diam. Aku salah memasuki hatimu lewat kata sahabat. Aku salah karena telah menyudahi pertemuan sebagai bukti keterikatan kita.

Hari ini sembilan tahun dari masa pubertas yang penuh keberatan, angkuh dengan rasa kepemilikan dalam hati akan kamu. Bebal dengan segala jejal teman-temanku untuk segera menyudahi menyakiti diri. Kini kamu yang melakukannya lewat waktu. Kini aku semakin terbiasa tanpa patahan kata lewat pesan singkatmu. Meski aku belum sanggup untuk benar-benar menyudahi ini dengan menautkan hati pada gadis baru. Namun aku tetap bahagia diatas bahagiamu meski imam-mu bukan seperti imajiku.

Rotasi waktu membuatku menemukan cinta yang sedikit berbeda. Kini aku memilih menjadi bayang untuk seseorang, menjadi bagian yang bersamanya aku ingin terus tumbuh menjadi variabel yang terpisah. Karena takdir hingga zaman berakhir tak akan mengizinkannya. Iya tak ubahnya sama dengan kamu mendapat perlakuan luarbiasa dari hatiku. Karena aku tak tahu mengapa aku mencintainya atau mengapa aku memilihnya. Seperti sekumpulan nama acak yang terpilih begitu saja tanpa alasan yang jelas. Aku memilih menjadi bayang untuk cahaya yang cukup bersinar. Meski gelap namun bayang akan semakin pekat bersama cahaya yang benderang.


Sembilan tahun diantara kita. Kebersamaan yang sepihak seperti ini rasanya memang sunyi. Namun tanpa terasa waktu tersuguh begitu-begitu setiap kali. Aku menaruh harapan kecil tak mau lagi sesumbar agar tahun depan dapat menghadiahi kamu dengan secarik kalimat. Tahun demi tahun hingga aku berhenti ketika ku temukan ia yang sanggup melengkapiku.
“Namaku Octa”
Singkat,kamu memperkenalkan diri di depanku, dengan senyum sederhanamu
Dingin, itu sikapmu dan aku tahu itu
Kamu tak kaya akan kata-kata. Dan aku tak pernah mau mengusik sifatmu yang seperti musim salju. Karena misteri adalah pesonamu, dan senyum langkamu itu yang buatku bertekuk lutut

Dan waktulah yang membuatku putuskan untuk membuat momentum, denganmu

Dulu aku sempat merobek dadaku dengan sebilah belati.
Kukeluarkan jantungku yang bersarang disana
Lantas kuserahkan padamu

Kubilang, “Aku hanya punya satu. Kupasrahkan padamu, dan.. terserah kamu apakan apa yang kutitipkan itu”

Kamu hanya tersenyum, tak mengatakan iya atau tidak. Tapi kamu mengambil toples kaca, dan kamu memasukkan apa yang kutitipkan itu ke dalam toples itu. Dan kamu membawanya serta kemanapun kamu pergi.

****

Dingin sikapmu sedikit mencair
Tapi kamu masih kukuh seperti gunung es
Apakah puncak itu pula yang kamu rasakan? Kamu hanya tampakkan puncaknya saja, tanpa mau menyingkap semua? Entahlah, hanya kamu yang tahu
Dan aku masih menanti dalam diam. Tak berani katakan bahwa jantungku mungkin merasa pengap
Ah, jantungku pasti bisa bertahan disana.
Dan ketir itu kurekat erat dalam peluk asaku.

Tapi mendung lingkupi bumi, dan langit pun mencurahkan hujannya.
Kamu berlari, melemparkan toples itu.

“PRAAKK!!!”
Jatuh.
Berdenting sebentar lantas pecah
Berserakan belingnya
Menusuki dan jantung itu berdarah
Beberapa detik aku hanya diam

Dan aku hanya menatapnya dalam diam


Aku berjalan dalam deras hujan
Kupungut jantungku yang terkapar
Kucerabuti pecahan beling itu, dia meringis pelan
Ku usaplembut darah yang terus mengalir
Lemah detaknya, mulai menghitam warnanya
Dan saat kutekan, tak ada reaksi

Jantungkumati rasa

Kupandangi lagi kamu yang masih berteduh dari hujan
Hanya menatap iba tanpa mengucap maaf

Sudahlah,aku harus pulang. Harus kujahit gores itu agar tak menganga.
Pasti perih, tapi setidaknya luka itu takkan terlihat olehmu nanti, yang mungkin akanmembuatnya merasa bersalah.

Ah,kamu tak boleh merasa bersalah, karena kamu memang tak salah.

Apa aku yang salah?
Entahlah. Yang kutahu, tak ada yang salah ketika seseorang mencari bahagia dalam cinta

****

Rivanol tak terasa. Betadine tak membuatnya perih
Kuselimuti jantungku yang masih enggan bicara padaku.
Sepertinya dia masih marah sekarang
Dia bahkan tak menangis saat jarum itu menjahit lukanya.
Dan serat luka itu kini tertutup plester.

“Maaf membuat kamu seperti ini. Nanti aku tak akan menitipkan kamu pada siapapunlagi.
Aku janji.
Aku akan biarkan kamu memilih sendiri, pada siapa kamu ingin kutitipkan.
Tapi untuk saat ini, bolehkah kumasukkan lagi kamu kedalam dadaku?
Tinggallah dengan nyaman disana, sampai saat kamu berdetak dengan kencang, dan kamu sepakat dengan otak untuk berpindah rumah
Tapi takkan kubiarkan lagi siapapun menyimpanmu dalam toples
Biarkan dia merobek dadanya, dan menukarnya dengan jantungnya untuk kujaga”

Dan dia hanya mengangguk lemah

Hujan kini berhenti
Berganti halimun yang mengawang, berpadu dengan busuk cinta
Senja ini, kubalurkan doa pada semua angin yang lewat
Kuminta mereka agar tak pernah menyiakan sesuatu yang tulus

****

Aku tak lagi menghitung purnama, karena rembulan tak lagi jadi pesona bagiku
Tapi satu malam, kuhabiskan dengan secangkir kopi dan sebatang rokok di tangan
Menikmati momen bulan tersenyum

Lantas tiba-tiba hidungku seperti srigala, mencium angin yang berbaur dengan wangi kesturi
Aku menoleh dan…

Tiba-tiba jantungku berdetak kembali, bergemuruh dan membuat rusuh
Nampak di bawah pendar bulan, seseorang sedang berjongkok

Kakiku bersekongkol dengan otakku
Berjalan mendekati sosok itu
Aku mendekat
Entah demi wangi kesturi itu, atau memastikan apa yang menyita perhatiannya
Ah, seekor anak anjing berselimut, tampak mengeong seperti kucing
Dan entah darimana kudapat keberanian, kulontarkan satu pertanyaan
“Bukankah anjing itu najis?”
Diamenoleh. Tersenyum manis seperti rembulan malam ini

“Anak anjing juga mahluk tuhan. Dan menolong mahluk tuhan itu gak dosa kan??”
Dia mengimbuhinya dengan binar mata yang serasa menghentikan kuasa waktu
“Kenalkan,aku Avril”
Mahluk manis itu mengulurkan tangannya padaku
Aku tercekat dan…Aku larut dalam pesona

Ah,apa mungkin aku menyukainya karena rupa?
Tidak!! Sekali-kali tidak!!
Dia tak memiliki senyum misterius seperti Octa
Diatak punya tatapan teduh itu
Tapi..
Binar mata itu..
Senyum riang itu..
Membuatku ikut duduk dan bermain dengan anjing itu
Dalam pada masa itu, aku lupa padamu, Octa

***

Ma and Da bilang, bumi itu seperti roda
Berlarian mengitari matahari, tapi tak terasa. Memusing seperti gasing, tapi tak membuat mual
Yang muncul adalah riak perubahan
Musim dingin yang beku akan berganti semi yang penuh warna. Semi berlanjut menjadi musim panas yang ceria
Ya,aku tahu
October yang dingin, akan berganti dengan April yang hangat

Ah,benar
Sudah waktunya aku peduli pada diriku
Aku harus kejar bahagia
Dimusim panas ini

****

April mangajakku bermain dengan jerejak, mengajariku bercanda dengan ilalang
Bercengkrama dengan bulan, berlarian mengejar matahari
Ah,bulan ini perdu apit mengalahkan pesona sakura
Dan aku suka musim panas, sama seperti aku menyukai April

Bulan berganti, meski aku masih enggan beranjak

Musim salju itu kembali datang, menggantikan gugur yang berserakan
Dan April, sosok musim panas itupun pamit, mengejar anak-anak bumi, ucapnya
Satu malam yang penuh dengan angin beku. Dan saat butiran beku itu menghujaniku
Kamu datang, berdiri di depan halaman rumahku, dengan sebongkah boneka salju bersyal merah, juga hidung wortel orange yang lucu
Tambun,menggemaskan
Dan kamu menatapku penuh harap
Membuatku terdiam

“Hal paling bodoh adalah membohongi diri, memunggungi hati
Munafik pada diri sendiri. Membiarkan ucapan tak sejalan dengan pikiran

Lantas sampai kapan aku bohongi diriku?
Aku memujamu seperti musim dingin pada musim semi
Kembalilah kesisiku, warnai hariku lagi
Harumkan rumahku lagi”

Kamu mengakhiri dengan uluran tanganmu

****

Hari ini, gemawan bergumul di puncak gunung
Bertengger seperti nuri di pucuk ilalang
Lantip,mengendap perlahan tertiup sepoi angin
Hingar-bingar, mencuri perhatianku
Ku pegang dadaku, jantungku berdetak lembut, dan dia kembali terasa hangat.
Tak perlu lagi kurobek dadaku, tapi jantungku yang memilih berpindah rumah

Ya, aku memilihnya
Memilih mencari bahagia dalam kesederhanaannya.
Dan saat semua tawaran bahagia itu datang,
Aku akan tetap disini, menggenggam tangannya
Dan kubisikan pada setiap awan yang lewat,
“Aku memilih disisimu, April”

END



cerita ini w bikin sepesial buat si om w. inget, lo milik w. haha

juga buat yang ngerasa galau gegara seseorang yang dulu pernah jadi bagian dari hidup kita, terus hadir kembali dan menggoyahkan apa yang sudah kita pilih.

inget sob, masa lalu itu ibarat sepion. boleh lah sekali-kali kita tengok. tapi kalo keseringan, ingat, kita itu berjalan maju, bukan mundur.


By. Abi Zaenal