Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts


Sedari awal aku sudah salah dalam mencintaimu, bukan cinta ini yang salah tapi bagaimana aku mencintaimu yang rasanya kurang tepat. Sejak mula aku mencintaimu bukankah aku terlalu percaya diri untuk bertahan, terlalu angkuh untuk berdiri sendiri tanpa adanya kamu. Aku terlalu gegabah dalam merumuskan cinta dengan persamaan kuadrat yang salah dengan persamaan dan statistika yang berbeda dari kebanyakan orang.
Aku salah memulai cintai ini dengan sumpah. Sumpah aku hanya mencintai kamu dalam hidupku terlontar semudah menuangkan segelas air kedalam bejana. Aku memang tak salah memilih cinta tapi aku terlalu sembrono mengikatnya dengan ikrar para petua. Lalu nyatanya aku memang hanya mencintai kamu, hidup bersama cinta yang kini hendak mencapai satu dasawarsa. Begitu panjang jika aku uraikan dalam bentuk bulan, hari atau terlebih dalam satuan detik tentang berapa lama sumpah itu mengena padaku.
Lalu lidah ini kelu, merasa emosi diatas dada lantas aku mengutuk. Aku lantas mengutuki diri bahwa aku sanggup mencintai dengan cara ini. Bahwa ini adalah jalan yang telah dengan sengaja kutoreh untuk mencintaimu, faktanya aku berulang kali terluka, berulang kali patah hati, juga pernah merasa dikhianati tapi sumpah aku masih tetap mencintaimu sampai detik ini.
Ahhh... kukutuki diri karena tidak pernah berpaling darimu. Bersiap patah hati berkali-kali, tapi bangkit lagi seperti zombie. Aku hidupi cinta ini dengan rasa sakit, semakin kencang degupnya ku nilai lebih baik, semakin terluka semakin asyik. Padahal aku ini rapuh terlalu mencintai dengan hanya menggunakan naluri, sekejap hati menyebut namamu lalu ia mentrasmisikannya ke otak lalu menterjemahkannya lewat bahasa bahwa ini cinta.
Tapi aku lupa dalam doa. Bagaimana jika sedari awal aku lebih kuat dalam doa? Apakah cinta juga akan tertoreh didalam buku takdir kehidupan milikku? Maka akan beda ceritanya jika selalu kusemat namamu dalam sepertiga malamku, menyanyikanmu lewat shalawat dan dzikir sebelum tidurmu. Jika demikian maka aku hanya akan menekan tombol deletnya saja, menghapus sumpah dan kutukan sedari awal.
Seharusnya ini menjadi cinta yang merindu lewat doa.
Seharusnya ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya.

Ini cinta ...





Salam dari pemilik malam, ia yang memeluk rembulan. Jemari yang penat menuliskan kalimat fatamorgana, tubuh yang lemas karena rutinitas mahasiswa. Aku tak akan berjaya menghadapi mu. Aku tak akan sanggup menyuguhimu, karena hingga kini aku masih tersauk-sauk mengimbangi.

Dari angin yang membawa udara segar, aku hadirkan dengan bahasa sederhanya hanya agar kamu mengerti. Tapi kamu langsung menyudahi, tak lagi berarti. Bagai rintik yang menjadi badai, lalu beliung meluluh lantakkannya, hati itu hancur tanpa sisa karena porah-poranda.

Demi cinta yang tercipta dari ingatan. Aku sesajikan persembahan terakhir lari cambuk waktu yang kian sulit berkecamuk. Mengharap bagai peminta-minta, mengemis karena tak punya. Namun apa daya simpati pun tak dapat, hanya menatap dengan harap.







Aku selalu suka saat butiran air itu jatuh ke bumi, membasahinya dan membuat aroma rumput menyeruak. Tak hanya menikmati hujan aku acap kali membiarkan hujan basahi tubuhku karena bersama hujan ia sanggup menyamarkan air mata yang luruh.
Bukankah dulu hujan adalah sahabat kita Ri, berlarian diantara genangan air yang meluap hampir banjir. Lalu kini hujan menjadi penghubung antara aku dengan kenangan itu. Aku masih tetap menikmatinya seperti dulu, sesekali membiarkan tubuhku basah atau menatap dibalik kaca yang mengembun bersama secangkir kopi. Ku bau-i semua percampuran antara wangi kopi dan tanah yang basah karena hujan lalu merekatkan kedua tangan memeluk erat diri.
Suhunya kadang cukup sejuk untuk udara kota ini yang selalu panas, cukup dingin untuk dibandingkan dengan perasaan yang membeku.

Aku mencitai hujan sama seperti aku mencintaimu. Hujan membantuku merasakan hangat tubuhmu ketika ia menyuh kulitku, angin membawakan suaramu keujung telingaku. Hujan basahi aku dihari itu, hujan hapuskan air mataku di hari itu. Karena bagaimanapun disaat itu ikhlas adalah taruhanku.


Bagaikan tanpa rasa, mungkin sedari awal akan berasa hambar. Namun tidak, cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Pemberi rasa dalam hidup, pemudar kegundahan yang nyatanya masih kerap kusantap hingga saat ini. Tak perduli terlalu banyak tuangkan saja maka akan ku lahap dengan semangat..
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Meski pada kenyataannya cinta tak memberiku takaran yang tepat tapi tetap saja memberiku rasa dalam dilema.
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Bayangkan saja aku tanpa cinta lantas jadi apa? Hidangan lezat itu tanpa perasa akan terkecap bagaimana?
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Penyedap paling mantap ketika kupadukan dengan rindu berwarna jingga.

Kini meski ku belum temukan resep yang tepat, tetap saja garam berwarna merah muda akan selalu jadi bumbu dalam sajian hidupku. Penyedap yang ku padu dengan rasa lain dengan bahan berbeda hingga pada akhirnya garam berwarna merah muda menyatu dengan menu kehidupanku.
Ahhh kamu...
Selalu membuatku bergidik, membuat lututku lemas. Karena entah mengapa semua seperti terputar ulang kembali dikepalaku. Padahal tak banyak hal yang terjadi. Tapi ketika memoriam itu kembali kamu suguhkan segalanya bak tsunami. Tenang sesaat lalu menghempasku dari segala arah.
Haii Oktober.
Ini pertemuan kita yang kesepuluh, setiap tahunnya kita berjumpa dan merayakan sebuah pertanda khusus. Entah dalam kategori suka cita atau duka. Kita sebenarnya tidak dapat mendefinisikan perayaan yang seperti apa itu. Namun kamu tahu, disetiap tahunnya aku selalu bangga. Bangga juga karena dapat mengunjungi kamu setiap tahunnya. Dan bahagia meski gadis itu tak menyadari atau berpura tak ingin mengetahui aku selalu menemui kamu pada tanggal itu.
Namun Oktober, akankah kamu merindukan aku? Jika tahun berikutnya aku tak lagi menyapamu. Tak lagi dapat merasa getir ketika kan datang kamu dipenghujung September. Ketahuilah Oktober mungkin ini juga sebuah perayaan perpisahan. Aku tak lelah tak akan pernah, jika hendak mencintai dia. Namun batasan itu semakin jauh.
Kamu akan tahu, kamu akan mungkin lebih mengiba dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu temani aku sebentar lagi. Tunggu semua kan ku jabarkan dalam hari ke 28 milikmu seperti biasa. Diamana akan tumpah bahasa lewat sebuah surat yang tak pernah dibaca. Meski kan usang, meski kutu-kutu kan menggerogoti sudut kertasnya, namun selalu ada kamu, Oktober yang menjadi saksi.
Entah, entah, entahlah Oktober. Gadis itu selalu membuatku bagai terkena kutukan medusa, membatu bahkan sebelum melihat matanya. Gadis itu selalu membuatku jatuh cinta sebelum cupit memanahku. Oktober tidak hanya praha sepuluh tahun lalu, kamu bahkan mengetahui rahasia mengapa aku selalu ingin berada diumur 8 tahun. Kamu masih ingatkan? Pastinya, karena kamu selalu dengan tenang mendengarkanku bercerita di hari itu lewat “Aniversary of Love” setiap tahunnya.
Oktober aku akan selalu mengingat sejarah panjang ini, Oktober maaf jika aku harus berakhir. Bukan karena ku ingin namun aku harus segera mengakhiri. Maaf Oktober.


Jika mencintaimu itu punya dua hari libur sama seperti orang yang bekerja. Maka biarkanlah hati ku ini beristirahat sekejap dari luka. Dari rasa yang ia tahan setiap hari, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta setiap saat dan melenyapkan rasa sakit sejenak. Iya juga mungkin butuh bernafas, jatungku juga hendak berdetak normal dan hatiku ingin merasa perasaan lain.

Gila....
Mengapa memilih untuk jatuh cinta? Jika kamu lelah campakkan saja. Benturkan saja dahimu itu pada bantalan yang keras, biar amnesia. Solusi instan melupakan prahara bagi penggiat yang tak setia.

Jika demikan untuk apa aku jatuh cinta, meminta libur untuk merasakan bahwa hari-hariku memang tak berjalan bahagia. Apa aku hendak juga meratapi, mengapa cinta ditakdirkan Tuhan seperti ini? Maka aku akan berada didestinasi yang membuat iri, memeluk angin menggenggam sepi. Membelalak mata bahwa disetiap sudut kota banyak pemuda-pemudi melancarkan aksi yang bikin iri.

Lalu ketika senin mulai tiba?
Ketika senin merotasi dirinya setiap saat, apakah aku juga akan membenci senin? Jika kamu merasa demikian, maka setiap saat kamu hanya meratapi. Membenci ketetapan Allah karena sejatinya kisah cintaku ini lebih indah dari setiap kata yang telah kurangkai mungkin lebih haru dari dilema yang telah kamu bagi untuk diceritakan. Karena bagaimanapun cintamu adalah ketetapan Tuhan telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz bahkan jauh sebelum kamu dilahirkan.

Maka berhentilah...
Kamu tak perlu hari sabtu, karena sedari awal aku telah berikrar bahwa rasa sakit ini adalah cara terbaik untuk mencintai. Adalah bagian yang sengaja kupilih untuk memiliki, meski pada akhirnya yang mengerti hanya aku dan kamu diriku.

Sedari dulu memang seperti ini, hanya yang mengerti dualisme yang dapat membaca tulisan ini.


Tiada malam yang begitu indah untuk si penyendiri.
Tiada siang yang begitu terang untuk lelaki yang suram.
Tiada hal yang dapat menggugurkan niat selain maksiat.
Tiada nikmat jika doa tak lagi jadi jimat.

Kesendirian itu apa?
Kesendirian itu luka.
Kesendirian selalu berteman sepi
Kesepian adalah jiwa yang selalu berusaha untuk ditutupi

Aku mati sedari dulu.
Hatiku sakau tapi tak mencandu.
Sunyi temankan aku.
Gulita jaga aku.


Apa kabar gadis pandai besi Hefaistos?
Pandora. Masih kah kamu disana menjaga dan merawat kotak yang diberikan para dewa di gunung olimpus kepadamu dihari pernikahanmu dengan Ephitemus? Sebuah amanah besar yang bebankan dipunggungmu Pandora, jangan lah kamu merasa sedih atau takut karena kamu telah membuka kotaknya.
Pandora yang berarti mendapat banyak hadiah adalah pemberian dari Hermes. Tak lupa serangakian dewa lain membrondongmu dengan serangkaian hadiah. Aprodit memberimu kecantikan dan hasrat, Athena mengajarimu menenun dan memberimu pakaian, para Kharis memakaikanmu perhiasan, para Hoirai memberimu mahkota Apollo mengajari bernyanyi dan mengajari bermusik, Posaidon yang menguasa lautan juga berbaik hati memberimu sebuah kalung mutiara.
Tapi pada masanya rasa penasaran yang besar sebuah berkat yang diberikan Dewi Hera kepadamu berakhir tragis. Kamu melupakan janjimu dengan membuka sebuah kotak, dan diadalamnya keluar serangkaian hal-hal buruk dan aroma manakutkan mencuat.
Bukankah kita sama Pandora?
Sesaat setelah ku ungkap perasaan ku pada seorang gadis, semua jadi sama aku seakan dikutuk oleh Hades membatu oleh sihir Medusa dan aku mati rasa karena Cupit enggan memanahku lagi dengan cinta. Aku kalap hampir kalang kabut. Gigi gemeretak, dada seakan memberontak dan hati kehilangan seluruh serambi. Aku pontang-panting karena rasa sakit, awalnya cinta itu adalah rasa sakit. Tapi diterpa sakit hati ternyata lebih pahit.
Aku sama denganmu Pandora, sama-sama kembali lagi melihat kedalam kotak yang sama dengan perasaan takut dan ragu. Melihat kembali dan menyadari masih ada satu hal yang tertinggal disana, satu hal yang kita simpan dan kita jaga hingga saat ini. Harapan....


Dipersimpangan jalan kota ini aku terdiam, memandangi sudut lain manusia yang bahagia dengan dunianya. Tertegun bersama hitung mundur di lampu merah, aku merasa waktuku semakin sesak semakin tak banyak. Tapi melihatnya menari-nari, tertawa, serta sorak-sorai dari bahasa tubuhnya aku jadi iri.
Lelaki setengah waras itu mempermalukanku dalam hitung waktu. Ia jadi begitu rasional dimataku. Bahwa dunianya tak ada satupun mengganggu. Mata-mata yang melihatpun tak perlu meragu, yaa karena ia sedang meluapkan perasaan tanpa identitas semu. Lelaki itu menjadi begitu jujur dihadapku, bahkan mungkin juga lebih mujur.
Meramu hidup tak perlu takut kehilangan hidup, tak perduli menyeka, tak perduli dihina, tak ragu dicerca. Jika hendak marah ya luapkan saja, jika ingin berkata yaa ungkapkan saja. Aku malah reda karena ditolak cintanya, meski bersikukuh memuja tapi tetap saja tak berani meraba siapa yang dicinta.
Ahhh...
Lelaki itu memang setengah waras, tapi lihatlah ada gambaran kedamaian diparasnya. Ketulusan senyum yang memiliki derajat mutu dan keikhlasan yang diatas rata-rata bahkan pejabat saja kalah tak layak jadi pembandingnya. Aku juga ingin seperti itu, bebas tanpa batas. Ikhlas tanpa pernah berharap cinta ini juga akan dia balas. Tapi mana bisa, mencintai tanpa memiliki hanya ada dinegeri dongeng. Sekecil apapun cinta pasti meminta balas, minimal sebuah pengakuan dari yang dicinta.

Lama-lama aku jadi terlewat waras. Ikuti saja alurnya, ikuti saja takdirnya maka dengan sendirinya tanpa sekat antara rasional dan irasional. Biarkan aku tak tahu beda keduanya, jadi sedikit semaunya.
Hai apa kabar gadis pembawa harapan?
Sudah lama rasanya aku tidak menyapamu, tidak lagi merasakan degup jantung yang tersaup-saup saat namamu tersebut oleh ingatku. Aku ragu kau merasakannya juga. Karena disana pasti semarang memanjakanmu punuh pesona. Lalu apa aku juga harus selalu berlagak kuat dengan menanyai kabar lelaki itu? Ya bagaimanapun dia adalah lelaki yang sudah kau mantapkan menjadi calon imammu.
Meski menyadari penantian ini berakhir dengan rasa sakit namun aku tidak pernah menyesali. Hallo gadis masa kecilku. Mengapa kau masih enggan membentuk sudut dibibirmu. Berikan saja meski itu palsu, tidak masalah jika kamu harus berpura. Bukankah kita memang tinggal ditempat yang penuh sandiwara?
Nampaknya kamu ragu akan menyakitiku.
Kenapa harus begitu, bukankah aku tersenyum padamu mengatakan aku tidak masalah dengan nyeri ini karena aku yang meminta. Ayolah wanita dewasa yang telah jauh meninggalkan aku dimasa depan. Bukankah seharusnya kamu itu yang jauh lebih kuat ketimbang aku.
Meski kau wanita bukan berarti kau lemah. Meski tak dapat dipungkiri aku lelaki yang rapuh karena cinta. Tapi aku tidak pernah tergoyah. Berlakulah sebagaimana mestinya. Kita ini sama-sama anak manusia, cepat atau lambat dirimu itu yang dulu tersenyum manis dengan simpul romantis akan habis. Karena waktu itu lebih arif, memutar rotasinya tanpa membuatku hendak memuntahkan isinya.
Bagaimana? Apakah kamu sudah mulai terbiasa? Ini cukup sederhanakan untuk kamu yang tidak begitu mengerti bahasa yang ditabur dengan gaya bahasa.
Cinta bagaimanapun tetap cinta. Cinta antara aku dan dia, ya cinta yang hanya milik kami. Mengapa harus kau campuri? Cinta bagaimanapun itu adalah tentang mengasihi. Membawa nama tuhan sebagai saksi. Bukan aku tak mengerti? Sudah lebih aku pahami. Lalu mengurai kalimat dari kata dan mencibir diri. Apa sudah mawas diri ??

Jika aku bergulat dalam dosa pun itu dosa milikku. Apa kau hendak memikul punyaku? Jika punyamu saja tak dapat terpikul. Apa kau sudah merasa benar? Ingin melampaui Tuhan kah? Ini tentangku. Tentang kisah cinta yang tak dapat ku rangkai karena berselimut kelabu. Gelap karena kau selalu berusaha ingin tahu dan aku jadi membenci itu.

Berbeda
Ya, aku mencinta berbeda cara. Berbeda karena kau tak terbiasa melihat aku mencinta. Tapi biasa bagi mereka yang mengerti. Bukan sekedar memahami. Cinta dan agama terkadang punya dinding yang berbenturan. Sama-sama keras tak ada yang mengalah. Namun agama bukan bagian ku untuk menilai. Meski aku berhak bersuara ketika cinta menggema di dada.


Kenapa kau jadi mengerutkan dahi? Ketika ku pinta kau mengurai apa itu cinta mengapa kau tak dapat merangkai? Ini tentangku sekali lagi berkeras. Ini tentangku yang merangkul diam untuk mencinta. Ini certa milikku yang terbungkus rahasia. Karena manusia selalu punya cara mencaci sesama. Karena manusia punya muslihat untuk berkata. Tidak.
“Namaku Octa”
Singkat,kamu memperkenalkan diri di depanku, dengan senyum sederhanamu
Dingin, itu sikapmu dan aku tahu itu
Kamu tak kaya akan kata-kata. Dan aku tak pernah mau mengusik sifatmu yang seperti musim salju. Karena misteri adalah pesonamu, dan senyum langkamu itu yang buatku bertekuk lutut

Dan waktulah yang membuatku putuskan untuk membuat momentum, denganmu

Dulu aku sempat merobek dadaku dengan sebilah belati.
Kukeluarkan jantungku yang bersarang disana
Lantas kuserahkan padamu

Kubilang, “Aku hanya punya satu. Kupasrahkan padamu, dan.. terserah kamu apakan apa yang kutitipkan itu”

Kamu hanya tersenyum, tak mengatakan iya atau tidak. Tapi kamu mengambil toples kaca, dan kamu memasukkan apa yang kutitipkan itu ke dalam toples itu. Dan kamu membawanya serta kemanapun kamu pergi.

****

Dingin sikapmu sedikit mencair
Tapi kamu masih kukuh seperti gunung es
Apakah puncak itu pula yang kamu rasakan? Kamu hanya tampakkan puncaknya saja, tanpa mau menyingkap semua? Entahlah, hanya kamu yang tahu
Dan aku masih menanti dalam diam. Tak berani katakan bahwa jantungku mungkin merasa pengap
Ah, jantungku pasti bisa bertahan disana.
Dan ketir itu kurekat erat dalam peluk asaku.

Tapi mendung lingkupi bumi, dan langit pun mencurahkan hujannya.
Kamu berlari, melemparkan toples itu.

“PRAAKK!!!”
Jatuh.
Berdenting sebentar lantas pecah
Berserakan belingnya
Menusuki dan jantung itu berdarah
Beberapa detik aku hanya diam

Dan aku hanya menatapnya dalam diam


Aku berjalan dalam deras hujan
Kupungut jantungku yang terkapar
Kucerabuti pecahan beling itu, dia meringis pelan
Ku usaplembut darah yang terus mengalir
Lemah detaknya, mulai menghitam warnanya
Dan saat kutekan, tak ada reaksi

Jantungkumati rasa

Kupandangi lagi kamu yang masih berteduh dari hujan
Hanya menatap iba tanpa mengucap maaf

Sudahlah,aku harus pulang. Harus kujahit gores itu agar tak menganga.
Pasti perih, tapi setidaknya luka itu takkan terlihat olehmu nanti, yang mungkin akanmembuatnya merasa bersalah.

Ah,kamu tak boleh merasa bersalah, karena kamu memang tak salah.

Apa aku yang salah?
Entahlah. Yang kutahu, tak ada yang salah ketika seseorang mencari bahagia dalam cinta

****

Rivanol tak terasa. Betadine tak membuatnya perih
Kuselimuti jantungku yang masih enggan bicara padaku.
Sepertinya dia masih marah sekarang
Dia bahkan tak menangis saat jarum itu menjahit lukanya.
Dan serat luka itu kini tertutup plester.

“Maaf membuat kamu seperti ini. Nanti aku tak akan menitipkan kamu pada siapapunlagi.
Aku janji.
Aku akan biarkan kamu memilih sendiri, pada siapa kamu ingin kutitipkan.
Tapi untuk saat ini, bolehkah kumasukkan lagi kamu kedalam dadaku?
Tinggallah dengan nyaman disana, sampai saat kamu berdetak dengan kencang, dan kamu sepakat dengan otak untuk berpindah rumah
Tapi takkan kubiarkan lagi siapapun menyimpanmu dalam toples
Biarkan dia merobek dadanya, dan menukarnya dengan jantungnya untuk kujaga”

Dan dia hanya mengangguk lemah

Hujan kini berhenti
Berganti halimun yang mengawang, berpadu dengan busuk cinta
Senja ini, kubalurkan doa pada semua angin yang lewat
Kuminta mereka agar tak pernah menyiakan sesuatu yang tulus

****

Aku tak lagi menghitung purnama, karena rembulan tak lagi jadi pesona bagiku
Tapi satu malam, kuhabiskan dengan secangkir kopi dan sebatang rokok di tangan
Menikmati momen bulan tersenyum

Lantas tiba-tiba hidungku seperti srigala, mencium angin yang berbaur dengan wangi kesturi
Aku menoleh dan…

Tiba-tiba jantungku berdetak kembali, bergemuruh dan membuat rusuh
Nampak di bawah pendar bulan, seseorang sedang berjongkok

Kakiku bersekongkol dengan otakku
Berjalan mendekati sosok itu
Aku mendekat
Entah demi wangi kesturi itu, atau memastikan apa yang menyita perhatiannya
Ah, seekor anak anjing berselimut, tampak mengeong seperti kucing
Dan entah darimana kudapat keberanian, kulontarkan satu pertanyaan
“Bukankah anjing itu najis?”
Diamenoleh. Tersenyum manis seperti rembulan malam ini

“Anak anjing juga mahluk tuhan. Dan menolong mahluk tuhan itu gak dosa kan??”
Dia mengimbuhinya dengan binar mata yang serasa menghentikan kuasa waktu
“Kenalkan,aku Avril”
Mahluk manis itu mengulurkan tangannya padaku
Aku tercekat dan…Aku larut dalam pesona

Ah,apa mungkin aku menyukainya karena rupa?
Tidak!! Sekali-kali tidak!!
Dia tak memiliki senyum misterius seperti Octa
Diatak punya tatapan teduh itu
Tapi..
Binar mata itu..
Senyum riang itu..
Membuatku ikut duduk dan bermain dengan anjing itu
Dalam pada masa itu, aku lupa padamu, Octa

***

Ma and Da bilang, bumi itu seperti roda
Berlarian mengitari matahari, tapi tak terasa. Memusing seperti gasing, tapi tak membuat mual
Yang muncul adalah riak perubahan
Musim dingin yang beku akan berganti semi yang penuh warna. Semi berlanjut menjadi musim panas yang ceria
Ya,aku tahu
October yang dingin, akan berganti dengan April yang hangat

Ah,benar
Sudah waktunya aku peduli pada diriku
Aku harus kejar bahagia
Dimusim panas ini

****

April mangajakku bermain dengan jerejak, mengajariku bercanda dengan ilalang
Bercengkrama dengan bulan, berlarian mengejar matahari
Ah,bulan ini perdu apit mengalahkan pesona sakura
Dan aku suka musim panas, sama seperti aku menyukai April

Bulan berganti, meski aku masih enggan beranjak

Musim salju itu kembali datang, menggantikan gugur yang berserakan
Dan April, sosok musim panas itupun pamit, mengejar anak-anak bumi, ucapnya
Satu malam yang penuh dengan angin beku. Dan saat butiran beku itu menghujaniku
Kamu datang, berdiri di depan halaman rumahku, dengan sebongkah boneka salju bersyal merah, juga hidung wortel orange yang lucu
Tambun,menggemaskan
Dan kamu menatapku penuh harap
Membuatku terdiam

“Hal paling bodoh adalah membohongi diri, memunggungi hati
Munafik pada diri sendiri. Membiarkan ucapan tak sejalan dengan pikiran

Lantas sampai kapan aku bohongi diriku?
Aku memujamu seperti musim dingin pada musim semi
Kembalilah kesisiku, warnai hariku lagi
Harumkan rumahku lagi”

Kamu mengakhiri dengan uluran tanganmu

****

Hari ini, gemawan bergumul di puncak gunung
Bertengger seperti nuri di pucuk ilalang
Lantip,mengendap perlahan tertiup sepoi angin
Hingar-bingar, mencuri perhatianku
Ku pegang dadaku, jantungku berdetak lembut, dan dia kembali terasa hangat.
Tak perlu lagi kurobek dadaku, tapi jantungku yang memilih berpindah rumah

Ya, aku memilihnya
Memilih mencari bahagia dalam kesederhanaannya.
Dan saat semua tawaran bahagia itu datang,
Aku akan tetap disini, menggenggam tangannya
Dan kubisikan pada setiap awan yang lewat,
“Aku memilih disisimu, April”

END



cerita ini w bikin sepesial buat si om w. inget, lo milik w. haha

juga buat yang ngerasa galau gegara seseorang yang dulu pernah jadi bagian dari hidup kita, terus hadir kembali dan menggoyahkan apa yang sudah kita pilih.

inget sob, masa lalu itu ibarat sepion. boleh lah sekali-kali kita tengok. tapi kalo keseringan, ingat, kita itu berjalan maju, bukan mundur.


By. Abi Zaenal