Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Tak terasa hari ke-20 berlalu dengan cepat, meski ada beberapa tulisan yang sengaja ku rapel kan postingannya, namun aku tak pernah benar-benar menerka bahwa usahaku memaksakan diri ternyata telah sampai dititik ini. Awalnya aku berfikir aku akan berhenti ditengah jalan, diam, merasa bosan dan akhirnya aku tinggalkan, biarkan saja terbengkalai. Namun dengan waktu yang tak terasa tinggal delapan hari lagi, kini aku merasa ingin terus menulis lebih lama lagi.
28 oktober selalu saja menjadi evaluasi tahunan yang aku lakukan, meski baru kutuliskan dalam beberapa tahun terakhir, tak mengapa karena sejatinya cinta itu begitu berkobar di tahun-tahun lalu. Kamu yang benci hal-hal konyol seperti ini pasti tidak mengerti padahal ini adalah cara paling ampuh bagiku untuk menguraikan segalanya, bagaimana tidak kerena dengan menyebut hal tentangmu saja aku gemetar maka tulisan menjadi jalan aku menguraikannya.
Tuhan memang mentakdirkan kita bertemu berbagi masa-masa kecil kita bersama, namun sepertinya Ia belum setuju jika kita berbagi masa-masa tua kita bersama. Sedari awal ketika aku menjatuhkan hati tanpa syarat padamu maka aku mengkukuhkan diri ingin menjadi imam yang halal untuk mu. Meski sedari awal ku tahu, bahawa ada hal yang membuatku jauh tertinggal dari lakumu tapi aku selalu berusaha mengkuhuhkan diri.
Hingga aku benar-benar tak melihatmu lagi dalam lintasan ku, aku sudah terlalu jauh dari rute hidup yang telah kupersiapkan matang. Tapi bagaimanapun aku selalu berusaha bahwa bahasa ini harus dapat tersampaikan padamu, meski harus mengoyak hatimu aku ingin sekali saja hati mu itu bergetar ada kegoyahan yang luluh pada dirimu itu.

Sampaikan salamku untuk iamam masa depanmu dari lelaki masa kecil mu.

"Meski suatu hari nanti tak lagi terselip dijari manis ku, namun cincin penanda janji itu akan berada semakin dekat. Ku rantaikan tepat dikerongkongan agar menyatu dengan nafas. Terjuntai jatuh tepat disisi jantung ku”

“Terjuntai tepat disisi jantung ku. Menjadi cawan bagi detaknya. Meredakan debar saat pesona lain mulai membuka. Menjaga gerbang hati yang telah sesak. Menguncinya hingga patri”
Apa kabar teman?
Masihkah kamu dipersalahkan oleh mereka yang luka hatinya?
Oleh mereka yang tak mengakui kenyataan akan kehidupan, lantas menjadikanmu tumbal. Teman maafkan aku yang juga kadang menyalahkanmu akan keadaan walau nyatanya kamu juga setia menemani hariku. Kamu adalah simbol terkuat dari sejarah perjalananku.
Kamu torehkan banyak hal untuk diputar ulang dalam bentuk kenangan, kamu mempersiapkan sejuta rahasia dalam wujud masa depan, dan kamu memintaku untuk memegang keduanya agar tak salah arah. Agar dapat menghargai apa yang terjadi dan menyusun kembali hal yang mungkin belum terealisasi.
Teman iringi aku sepanjang nafasku yang sudah mulai terengah, diantara kembimbangan dan buta arah. Banyak orang masih mempersalahkan kamu yaaa teman. Lalu memaksa mu mundur agar segalanya dapat ditata menjadi lebih baik.
Mereka yang belum siap dengan hasil berharap kamu dapat memberi kesempatan kedua untuk membenahi kembali, mereka yang belum sanggup dengan konsekuensi terkadang berakhir dengan menyesali. Benar kata para tetua, bahwa kamu juga berwujud laksana pedang. Siap menghunus dan membunuh pemiliknya namun jika dapat digunakan dengan baik, maka kamu akan menjadi senjata paling ambuh.
Teman maafkan aku yang juga pernah mengorbankan kesetiaanku, teman ku telah mulai merelai masa lalu itu tak ingin menghapusnya namun kukaburkan saja dengan sedikit bayangan. Terkadang konfergen itu perlu, sudah cukup lelah aku dengan beberapa hal yang disajikan berulang.
Teman kamu adalah masa.
Teman kamu adalah rahasia.
Teman kamu dipuja.

Namun juga dianggap tiada.
Aku selalu suka saat butiran air itu jatuh ke bumi, membasahinya dan membuat aroma rumput menyeruak. Tak hanya menikmati hujan aku acap kali membiarkan hujan basahi tubuhku karena bersama hujan ia sanggup menyamarkan air mata yang luruh.
Bukankah dulu hujan adalah sahabat kita Ri, berlarian diantara genangan air yang meluap hampir banjir. Lalu kini hujan menjadi penghubung antara aku dengan kenangan itu. Aku masih tetap menikmatinya seperti dulu, sesekali membiarkan tubuhku basah atau menatap dibalik kaca yang mengembun bersama secangkir kopi. Ku bau-i semua percampuran antara wangi kopi dan tanah yang basah karena hujan lalu merekatkan kedua tangan memeluk erat diri.
Suhunya kadang cukup sejuk untuk udara kota ini yang selalu panas, cukup dingin untuk dibandingkan dengan perasaan yang membeku.

Aku mencitai hujan sama seperti aku mencintaimu. Hujan membantuku merasakan hangat tubuhmu ketika ia menyuh kulitku, angin membawakan suaramu keujung telingaku. Hujan basahi aku dihari itu, hujan hapuskan air mataku di hari itu. Karena bagaimanapun disaat itu ikhlas adalah taruhanku.
Apa kabar gadis pandai besi Hefaistos?
Pandora. Masih kah kamu disana menjaga dan merawat kotak yang diberikan para dewa di gunung olimpus kepadamu dihari pernikahanmu dengan Ephitemus? Sebuah amanah besar yang bebankan dipunggungmu Pandora, jangan lah kamu merasa sedih atau takut karena kamu telah membuka kotaknya.
Pandora yang berarti mendapat banyak hadiah adalah pemberian dari Hermes. Tak lupa serangakian dewa lain membrondongmu dengan serangkaian hadiah. Aprodit memberimu kecantikan dan hasrat, Athena mengajarimu menenun dan memberimu pakaian, para Kharis memakaikanmu perhiasan, para Hoirai memberimu mahkota Apollo mengajari bernyanyi dan mengajari bermusik, Posaidon yang menguasa lautan juga berbaik hati memberimu sebuah kalung mutiara.
Tapi pada masanya rasa penasaran yang besar sebuah berkat yang diberikan Dewi Hera kepadamu berakhir tragis. Kamu melupakan janjimu dengan membuka sebuah kotak, dan diadalamnya keluar serangkaian hal-hal buruk dan aroma manakutkan mencuat.
Bukankah kita sama Pandora?
Sesaat setelah ku ungkap perasaan ku pada seorang gadis, semua jadi sama aku seakan dikutuk oleh Hades membatu oleh sihir Medusa dan aku mati rasa karena Cupit enggan memanahku lagi dengan cinta. Aku kalap hampir kalang kabut. Gigi gemeretak, dada seakan memberontak dan hati kehilangan seluruh serambi. Aku pontang-panting karena rasa sakit, awalnya cinta itu adalah rasa sakit. Tapi diterpa sakit hati ternyata lebih pahit.
Aku sama denganmu Pandora, sama-sama kembali lagi melihat kedalam kotak yang sama dengan perasaan takut dan ragu. Melihat kembali dan menyadari masih ada satu hal yang tertinggal disana, satu hal yang kita simpan dan kita jaga hingga saat ini. Harapan....


Dipersimpangan jalan kota ini aku terdiam, memandangi sudut lain manusia yang bahagia dengan dunianya. Tertegun bersama hitung mundur di lampu merah, aku merasa waktuku semakin sesak semakin tak banyak. Tapi melihatnya menari-nari, tertawa, serta sorak-sorai dari bahasa tubuhnya aku jadi iri.
Lelaki setengah waras itu mempermalukanku dalam hitung waktu. Ia jadi begitu rasional dimataku. Bahwa dunianya tak ada satupun mengganggu. Mata-mata yang melihatpun tak perlu meragu, yaa karena ia sedang meluapkan perasaan tanpa identitas semu. Lelaki itu menjadi begitu jujur dihadapku, bahkan mungkin juga lebih mujur.
Meramu hidup tak perlu takut kehilangan hidup, tak perduli menyeka, tak perduli dihina, tak ragu dicerca. Jika hendak marah ya luapkan saja, jika ingin berkata yaa ungkapkan saja. Aku malah reda karena ditolak cintanya, meski bersikukuh memuja tapi tetap saja tak berani meraba siapa yang dicinta.
Ahhh...
Lelaki itu memang setengah waras, tapi lihatlah ada gambaran kedamaian diparasnya. Ketulusan senyum yang memiliki derajat mutu dan keikhlasan yang diatas rata-rata bahkan pejabat saja kalah tak layak jadi pembandingnya. Aku juga ingin seperti itu, bebas tanpa batas. Ikhlas tanpa pernah berharap cinta ini juga akan dia balas. Tapi mana bisa, mencintai tanpa memiliki hanya ada dinegeri dongeng. Sekecil apapun cinta pasti meminta balas, minimal sebuah pengakuan dari yang dicinta.

Lama-lama aku jadi terlewat waras. Ikuti saja alurnya, ikuti saja takdirnya maka dengan sendirinya tanpa sekat antara rasional dan irasional. Biarkan aku tak tahu beda keduanya, jadi sedikit semaunya.
Aku mendamba seseorang untuk dapat saling berbagi kasih bersamaku. Aku lebih dari mengharapkan seseorang hadir sebagai penawar rindu. Dari cinta yang tak tahu kemana akan singgah. Tapi aku bukan pengobral cinta. Menawar hati lewat senyuman. Aku bersungguh ingin mencinta dan merasa dicinta. Aku pernah merasa tapi aku tak yakin itu cinta. Hanya tubuh yang sempat kuserahkan padanya.

Aku juga pernah merasa di sakiti hatinya. Merana karena telah begitu percaya namun ditinggal dipenantian. Atau berujung diam yang mulanya aku tak tahu akan berakhir hingga kapan. Hanya aku yang terus mengetuk pintu hatinya dan sesekali berbisik ditelinganya. Agar ia sudi memalingkan wajahnya menatap aku. Namun lagi aku ditinggal sendiri menanti dengan gelisah yang menggantung. Apa aku salah? ataukah aku ini memang tak layak dicintai?

Tapi aku justru tak tahu apa itu cinta ketika merasa memilikimu. Apakah setiap cinta akan selalu menyakiti? Apakah cinta adalah derita yang berbeda rupa? Tapi mengapa semua selalu mengagunggkan cinta. Merasa bahwa cinta dimata pujangga adalah surga. Aku hanya ingin mencintai bukan menyakiti. Namun mengapa segala daya yang kulakukan selalu berujung luka didadamu. Awalnya aku hanya ingin dimanja oleh tingkahmu. Namun yang terjadi aku yang menyakitimu lewat laku ku.

Dan ini amarah terbesar didirimu yang meluap karenaku. Lalu seketika membuatku takut kehilanganmu. Juga takut kembali menyayat hatimu esok. Ketika semua telah mereda, ketika semua telah terlihat kembali seperti semula. Hanya sebatas mata. Karena jelas dihatimu menyisa bekas luka karena kau terhina oleh kataku. Meski maaf terlontar namun tak cukup menjadi penawar. Entah memperparah atau malah sebaliknya.

Ah! Mencinta ternyata lebih sulit ketimbang menguraikannya lewat bahasa. Ketimbang berandai tentang ilusi cinta. Namun membangunnya dibayangi rasa bersalah. Kini aku diam dan dia juga sama menyimpan diam. Aku menjadi takut bersuara. Takut lidah ini terlalu tajam mengoyak rasa. Padahal aku hanya ingin mencinta. Takut jemari ini salah merangkai kata. Padahal aku hanya ingin bercengkrama.


Sakiti aku jauh lebih baik ketimbang menyakitimu. Melihatmu terluka dan terpapah karenaku. Aku jadi tak punya daya hanya sesal yang menyesaki dada. Tapi bertahan berapa lama? Sampai semua jadi hambar kah? Sampai cinta kita berubah menajdi benci kah? Atau cinta memang selalu seperti ini. Diselingi rasa yang tak dapat kumengerti. Aku sudah takut berandai jika hanya pandai berkata. Lalu membenci cinta itu sendiri. Cinta tak pernah selesai walau ku melarikan diripun terlahir kembali. Cinta tak pernah selesai lewat kata. Cinta tak pernah usai dengan merasa.
Pernahkah kita mencintai?
Merasakan dada berdebar tak menentu lantas tingkah menjadi gelisah tak karuan. Bagaimana kita menikmati pemberian terbesar yang diberikan Tuhan untuk kita? Bagaimana kita mencintai cinta? Bagaimana dengan sakit hati, karena sepertinya rasa sakit karena mencintai mengiringi puisi para pujangga yang bangga akan cinta.
Apakah cinta memiliki jenis?
Banyak pertanyaan yang menyertai tulisan ini. Aku rasa cinta itu sama saja. Cinta sebenarnya tak terdefinisikan dengan satu kesepahaman. Selalu punya cara tak terduga untuk datang menuju hati yang senyap. Cinta. Tak mampu tersimbolisasikan dengan satu tanda. Terkadang cinta juga punya cara yang tak dapat diprediksi menggoncang hati dengan prahara.
Meski demikian cinta juga punya bahasa yang indah untuk dimengerti. Pianist hujan mulai bermain dengan pelan membawakanku concerto milik schubert lagu sedih yang menyamarkan mata yang basah dibawah deras hujan. Menekan setiap window di pianonya. Berfikir mengapa bagaimana cinta sebenarnya. Sehingga aku tersadar cara terbaik untuk mencintai adalah dengan mencintai diam-diam.
Meski mencintai diam-diam selalu berbanding lurus dengan kemungkinan kekecewaan yang didapat. Walau kita harus menyiapkan diri mendapat cinta diam-diam pula atau penolakan yang diam-diam. Tapi rasanya sepadan, karena mencintai diam-diam seperti setan pengutit kecil mengendap-endap berusaha mencuri peluang untuk luruh. Rasanya mencintai dengan cara ini sebanding. Kerena tak akan ada yang terluka, tidak akan ada air mata karena merasa dikecawakan. Atau terkadang akan merasa jenuh ketika cinta mulai menunjukkan kebosanan.
Mencintai dengan diam-diam entah sejak kapan menjadi pilihan ketika cupit membrondongku dengan selusin anak panah. Cupit itu terkadang juga bodoh memanahku dengan cinta tapi ia lupa memberikan ku penawar ketika terluka. Cupit itu mengesalkan, seenaknya saja menjadikanku bidikkan dari sasaran empuknya. Cupit itu tolot, karena acap kali salah sasaran melepaskan panah pada makhluk yang tak semestinya.
Tapi meski ia membantuku untuk belajar sabar dan memahami tentang cinta, lalu bagaimana bisa mereka juga tidak mencoba untuk mencintai diam-diam saja. Dari pada harus berpura-pura mencintai memadu kasih dengan orang lain tapi hati terpaut dengan batin. Cinta yang tak tersingkronisasi seperti itu yang malah bikin manusia banyak sakit hati.
Mencintai diam-diam membuat hati sekuat apa?
Tak ada yang tahu kuatnya hati hanya kita yang pandai-pandai menerka isi hati, bahwa nanti kita harus menyiapkan diri dari kemungkinan kehilangan terkasih. Terkadang mencintai diam-diam membantu menjaga harga diri tak lantas rubuh ketika topan dan tsunami menghantam.
Karena sebuah hubungan yang baik-baik saja pada awalnya akan menjadi berubah atmofer ketika cinta menyuara.Rotasi bumi bisa saja berbalik memuntahkan kata yang tak semestinya. Tatapan polos anak kecil akan menyertai, takut terulang takdir dimasa depan.
Mencintai dengan cara ini pecundang pun layak jatuh cinta. Dengan cara ini alfabet tak lagi sendiri, karena akan ditemani temaram senja melihat dunia diluar sana meski hanya dengan imaji yang tersaji lewat sekelumit bahasa sederhana. Mencintai diam-diam pelakunya bukan tak mengerti resiko mencintai, bukan lari dari kenyataan. Tapi mencintai diam-diam teriring harapan tersemat perasaan yang sanggup membuat malaikat mematahkan sayapnya.
Langkah memutari mencari untuk mengetahui bagaimana cara ini menjadi begitu ampuh untuk dilakukan. Terkadang hati tak sejalan dengan jemari ketika bahasa telah terbawa keduania berbeda.

Mencintai diam-diam menjadi syarat yang tak terbantahkan bagi sebagian manusia yang terlanjur jatuh cinta namun tak memiliki daya untuk menyuarakan. Menimbang dengan sedemikian agar ikatan tak putus ditengah jalan. Mencintai diam-diam memaksa pelakunya mengerti bahwa ada cinta yang sebaiknya tetap menjadi rahasia...

Aku tak punya tempat ...
Ketika jantung ku memompa lebih cepat dan meminta oksigen beredar lebih sering. Aku hanya kalap. Dada menjadi sesak, tak tahu harus kuluapkan kemana. Hanya dapat kutuang lewat narasi yang tak begitu apik. Sederhana. Bahkan kamu bisa bilang ini berantakkan, karena terkadang tak mengindahkan keadah bahasa.
Aku mengedar bersama rintik hujan. Pipiku basah sama seperti bumi yang becek. Hatiku mencinta terbagi menjadi dua serambi. Namun aku selalu terlambat, terlambat menyimpan rasa, terlambat menyadarinya dan terlambat untuk ku ungkap.
Hingga menjadi diam!
Tak terungkap. Aku bukan orang yang baik, jika hendak pergi maka pergi lah. Jika terlalu takut aku terluka aku sudah terluka bahkan sebelum memulai mencinta. Aku mencintai seseorang yang tak lagi dapat mencintai. Hatinya telah tawar bahkan untuk orang yang mencintainya sampai kadar setengah mati, memintaku untuk menunggu sampai jantungku ikut mati rasa agar cinta segera kadaluarsa.
Tapi aku tak bisa. Meski hati tak lagi bernyawa tapi jantungku bersikukuh sekeras baja. Ku letakkan dalam toples kaca, lalu ku serahkan padamu. Meski ku tahu ia akan percah, jantungku tak banyak bicara ketika ku cerabuti belingnya. Diam. Meski ia tertatih ia tetap ingin bertahan.
Sampai kapan?
Cinta tak punya batas waktu. Karena cinta bahkan tak bisa terdefinisi dengan sebuah kesepahaman. Cinta itu kamu juga tahu, lebih rumit ketimbang persamaan kuadrat. Lebih candu dari pada psikotropika yang salah tempat.
Aku tak minta pendaran pelangi. Menjadi hitam dibalik terangmu adalah keabsahan bagiku. Bahkan satuan jarak tak lagi kupersoalkan. Kamu akan jadi milikku. Bersua denganmu, menenun tawa dan tangis dalam satu rupa. Sambut aku dalam keriuhan dunia.

Lewat imajiku semata.
Hai apa kabar gadis pembawa harapan?
Sudah lama rasanya aku tidak menyapamu, tidak lagi merasakan degup jantung yang tersaup-saup saat namamu tersebut oleh ingatku. Aku ragu kau merasakannya juga. Karena disana pasti semarang memanjakanmu punuh pesona. Lalu apa aku juga harus selalu berlagak kuat dengan menanyai kabar lelaki itu? Ya bagaimanapun dia adalah lelaki yang sudah kau mantapkan menjadi calon imammu.
Meski menyadari penantian ini berakhir dengan rasa sakit namun aku tidak pernah menyesali. Hallo gadis masa kecilku. Mengapa kau masih enggan membentuk sudut dibibirmu. Berikan saja meski itu palsu, tidak masalah jika kamu harus berpura. Bukankah kita memang tinggal ditempat yang penuh sandiwara?
Nampaknya kamu ragu akan menyakitiku.
Kenapa harus begitu, bukankah aku tersenyum padamu mengatakan aku tidak masalah dengan nyeri ini karena aku yang meminta. Ayolah wanita dewasa yang telah jauh meninggalkan aku dimasa depan. Bukankah seharusnya kamu itu yang jauh lebih kuat ketimbang aku.
Meski kau wanita bukan berarti kau lemah. Meski tak dapat dipungkiri aku lelaki yang rapuh karena cinta. Tapi aku tidak pernah tergoyah. Berlakulah sebagaimana mestinya. Kita ini sama-sama anak manusia, cepat atau lambat dirimu itu yang dulu tersenyum manis dengan simpul romantis akan habis. Karena waktu itu lebih arif, memutar rotasinya tanpa membuatku hendak memuntahkan isinya.
Bagaimana? Apakah kamu sudah mulai terbiasa? Ini cukup sederhanakan untuk kamu yang tidak begitu mengerti bahasa yang ditabur dengan gaya bahasa.
Cinta bagaimanapun tetap cinta. Cinta antara aku dan dia, ya cinta yang hanya milik kami. Mengapa harus kau campuri? Cinta bagaimanapun itu adalah tentang mengasihi. Membawa nama tuhan sebagai saksi. Bukan aku tak mengerti? Sudah lebih aku pahami. Lalu mengurai kalimat dari kata dan mencibir diri. Apa sudah mawas diri ??

Jika aku bergulat dalam dosa pun itu dosa milikku. Apa kau hendak memikul punyaku? Jika punyamu saja tak dapat terpikul. Apa kau sudah merasa benar? Ingin melampaui Tuhan kah? Ini tentangku. Tentang kisah cinta yang tak dapat ku rangkai karena berselimut kelabu. Gelap karena kau selalu berusaha ingin tahu dan aku jadi membenci itu.

Berbeda
Ya, aku mencinta berbeda cara. Berbeda karena kau tak terbiasa melihat aku mencinta. Tapi biasa bagi mereka yang mengerti. Bukan sekedar memahami. Cinta dan agama terkadang punya dinding yang berbenturan. Sama-sama keras tak ada yang mengalah. Namun agama bukan bagian ku untuk menilai. Meski aku berhak bersuara ketika cinta menggema di dada.


Kenapa kau jadi mengerutkan dahi? Ketika ku pinta kau mengurai apa itu cinta mengapa kau tak dapat merangkai? Ini tentangku sekali lagi berkeras. Ini tentangku yang merangkul diam untuk mencinta. Ini certa milikku yang terbungkus rahasia. Karena manusia selalu punya cara mencaci sesama. Karena manusia punya muslihat untuk berkata. Tidak.
Ketika ku ucap kepadamu shanju, tentang 507. Kau tahu maksudku. Ketika ku bercerita tentang si pencuri madu. Ku tahu kau marah padaku. Dan kini kebenaran yang sesungguhnya telah terungkap. Karena waktu yang menunjukkan jalannya. Bahwa aku tak salah mengambil keputusan waktu itu. Yang salah adalah karena aku tak percaya. Dan menoleh kepada si pendusta. Percaya setiap ucapannya. Dan tenggelam dalam dekapannya. Dekap sakit hati kini.

Maafkan aku walau meski kau tak tahu tapi aku pernah menghianatimu. Meski kau tak tahu aku pernah mengingkari janji kepadamu. Dan kini setelah perpisahan kita berdua yang tak terduga. Perasaan sedihpun ditinggalkan begitu saja didalam mata. Dan bayang akan dirimu masih menggantung dibola senja.

Aku merindu mu. Berulang kali hati menjerit mengetuk milikmu. Aku merindu. Bahkan aku merindu diammu. Aku merindu bekas jejak langkahmu disana. Sesekali ku datang, melihat ilusi dirimu yang lalu lalang. Dan bercengkrama dengan sesama. Aku rindu punggungmu yang kutatap tajam ketika kau berjalan mendahului aku. Lalu berbalik dan tersenyum kepadaku. Aku rindu itu. Tapi mungkinkah setiap tumpukan rindu yang telah menggunung kini sanggup tercurah kembali padamu?

Karena aku tak akan mungkin menyapamu dan berkata begitu. Sebab diantara kita mungkin kau anggap masa lalu. Bersama, aku dan kau setuju untuk mengakhiri hubungan ini dengan baik. Juga dengan alasan yang terucap darimu. Aku menghargainya. Tapi cinta ini bagaimana? Masih memintamu bersamanya. Walau nyatanya kini aku telah bersama yang lain. Tapi aku hanya dapat merefleksikan dirimu padanya.


Aku bingung bagaimana hendak bersikap. Aku bingung bagaimana harus bertingkah. Karena ku gelisah. Karena ku tak sanggup berpura bawa cinta masih singgah didada. Shanju haruskah ku bagi rinduku padamu. Haruskah ku ceritakan tentang tangisku. Lalu berpura lupa bahwa diantra kita telah melepas ikatan yang dulu. Haruskah aku melakukannya karena ku masih begitu enggan berpisah. Dan biarlah kita bersama meski dalam sebuah rahasia.
Aku mendengar samar dari kejauhan. Namun aku hanya diam. Mungkin hanya telinga yang sedang tidak berfungsi dengan benar. Fikirku. Lalu kembali asyik dengan sunyi dan memeluk hangat sang sepi. Karena aku memang sedang sendiri. Menawar hati yang sempat teracuni. Tapi jangan tanya penyebabnya. Kerena kau tahu jawabnya.

Ku dengar lagi bisik itu. Kini sedikit lebih keras mengganggu diamku. Tersentak dari segala lamunan. Ku melirik dengan sedikit enggan tapi seketika ku sambut dengan senyuman. Kalimatmu perlahan meneduhkan mataku. Lalu terus-menerus merasuk mencuri nyamanku. Karena rupanya kau disitu, memperhatikanku dari sisi yang tak ku tahu.

Ternyata kau ada disekitarku. Hanya aku saja yang seakan buta denganmu. Lalu selanjutnya waktu membawa kita bertemu. Karena ku rasa nyamanku sudah menjadi milikmu. Sadarkah engkau? Bahwa tak sekejap pun mataku terlepas dari memandangi bola binaran milikmu. Jika ya, aku hanya tidak ingin kau sadari bahwa aku melakukannya dengan hati. Bahkan suara kita tak pernah berhenti bersautan. Ini aneh. Karena aku tak pernah selepas ini. Tak pernah senyaman ini.

Tapi kau melakukannya dengan apik. Aku rasa segala tentangmu membekas padaku. Lalu membuatku enggan melepasmu. Entah mungkin ini terlalu cepat terucap. Tapi aku ingin memungut kembali kesucian yang telah kubuang karena benci. Tapi bukan tentangmu.


Meski mungkin sulit tuk kembali. Tapi aku akan memberikannya padamu sebagai pembuktian diri. Maka dari apa yang telah tersisa dihati. Maukah kau menjadi makmum? Menarik aku dari gelap dan kembali menghidupkan raga tanpa jiwa lewat cinta. Sudikah?
“Namaku Octa”
Singkat,kamu memperkenalkan diri di depanku, dengan senyum sederhanamu
Dingin, itu sikapmu dan aku tahu itu
Kamu tak kaya akan kata-kata. Dan aku tak pernah mau mengusik sifatmu yang seperti musim salju. Karena misteri adalah pesonamu, dan senyum langkamu itu yang buatku bertekuk lutut

Dan waktulah yang membuatku putuskan untuk membuat momentum, denganmu

Dulu aku sempat merobek dadaku dengan sebilah belati.
Kukeluarkan jantungku yang bersarang disana
Lantas kuserahkan padamu

Kubilang, “Aku hanya punya satu. Kupasrahkan padamu, dan.. terserah kamu apakan apa yang kutitipkan itu”

Kamu hanya tersenyum, tak mengatakan iya atau tidak. Tapi kamu mengambil toples kaca, dan kamu memasukkan apa yang kutitipkan itu ke dalam toples itu. Dan kamu membawanya serta kemanapun kamu pergi.

****

Dingin sikapmu sedikit mencair
Tapi kamu masih kukuh seperti gunung es
Apakah puncak itu pula yang kamu rasakan? Kamu hanya tampakkan puncaknya saja, tanpa mau menyingkap semua? Entahlah, hanya kamu yang tahu
Dan aku masih menanti dalam diam. Tak berani katakan bahwa jantungku mungkin merasa pengap
Ah, jantungku pasti bisa bertahan disana.
Dan ketir itu kurekat erat dalam peluk asaku.

Tapi mendung lingkupi bumi, dan langit pun mencurahkan hujannya.
Kamu berlari, melemparkan toples itu.

“PRAAKK!!!”
Jatuh.
Berdenting sebentar lantas pecah
Berserakan belingnya
Menusuki dan jantung itu berdarah
Beberapa detik aku hanya diam

Dan aku hanya menatapnya dalam diam


Aku berjalan dalam deras hujan
Kupungut jantungku yang terkapar
Kucerabuti pecahan beling itu, dia meringis pelan
Ku usaplembut darah yang terus mengalir
Lemah detaknya, mulai menghitam warnanya
Dan saat kutekan, tak ada reaksi

Jantungkumati rasa

Kupandangi lagi kamu yang masih berteduh dari hujan
Hanya menatap iba tanpa mengucap maaf

Sudahlah,aku harus pulang. Harus kujahit gores itu agar tak menganga.
Pasti perih, tapi setidaknya luka itu takkan terlihat olehmu nanti, yang mungkin akanmembuatnya merasa bersalah.

Ah,kamu tak boleh merasa bersalah, karena kamu memang tak salah.

Apa aku yang salah?
Entahlah. Yang kutahu, tak ada yang salah ketika seseorang mencari bahagia dalam cinta

****

Rivanol tak terasa. Betadine tak membuatnya perih
Kuselimuti jantungku yang masih enggan bicara padaku.
Sepertinya dia masih marah sekarang
Dia bahkan tak menangis saat jarum itu menjahit lukanya.
Dan serat luka itu kini tertutup plester.

“Maaf membuat kamu seperti ini. Nanti aku tak akan menitipkan kamu pada siapapunlagi.
Aku janji.
Aku akan biarkan kamu memilih sendiri, pada siapa kamu ingin kutitipkan.
Tapi untuk saat ini, bolehkah kumasukkan lagi kamu kedalam dadaku?
Tinggallah dengan nyaman disana, sampai saat kamu berdetak dengan kencang, dan kamu sepakat dengan otak untuk berpindah rumah
Tapi takkan kubiarkan lagi siapapun menyimpanmu dalam toples
Biarkan dia merobek dadanya, dan menukarnya dengan jantungnya untuk kujaga”

Dan dia hanya mengangguk lemah

Hujan kini berhenti
Berganti halimun yang mengawang, berpadu dengan busuk cinta
Senja ini, kubalurkan doa pada semua angin yang lewat
Kuminta mereka agar tak pernah menyiakan sesuatu yang tulus

****

Aku tak lagi menghitung purnama, karena rembulan tak lagi jadi pesona bagiku
Tapi satu malam, kuhabiskan dengan secangkir kopi dan sebatang rokok di tangan
Menikmati momen bulan tersenyum

Lantas tiba-tiba hidungku seperti srigala, mencium angin yang berbaur dengan wangi kesturi
Aku menoleh dan…

Tiba-tiba jantungku berdetak kembali, bergemuruh dan membuat rusuh
Nampak di bawah pendar bulan, seseorang sedang berjongkok

Kakiku bersekongkol dengan otakku
Berjalan mendekati sosok itu
Aku mendekat
Entah demi wangi kesturi itu, atau memastikan apa yang menyita perhatiannya
Ah, seekor anak anjing berselimut, tampak mengeong seperti kucing
Dan entah darimana kudapat keberanian, kulontarkan satu pertanyaan
“Bukankah anjing itu najis?”
Diamenoleh. Tersenyum manis seperti rembulan malam ini

“Anak anjing juga mahluk tuhan. Dan menolong mahluk tuhan itu gak dosa kan??”
Dia mengimbuhinya dengan binar mata yang serasa menghentikan kuasa waktu
“Kenalkan,aku Avril”
Mahluk manis itu mengulurkan tangannya padaku
Aku tercekat dan…Aku larut dalam pesona

Ah,apa mungkin aku menyukainya karena rupa?
Tidak!! Sekali-kali tidak!!
Dia tak memiliki senyum misterius seperti Octa
Diatak punya tatapan teduh itu
Tapi..
Binar mata itu..
Senyum riang itu..
Membuatku ikut duduk dan bermain dengan anjing itu
Dalam pada masa itu, aku lupa padamu, Octa

***

Ma and Da bilang, bumi itu seperti roda
Berlarian mengitari matahari, tapi tak terasa. Memusing seperti gasing, tapi tak membuat mual
Yang muncul adalah riak perubahan
Musim dingin yang beku akan berganti semi yang penuh warna. Semi berlanjut menjadi musim panas yang ceria
Ya,aku tahu
October yang dingin, akan berganti dengan April yang hangat

Ah,benar
Sudah waktunya aku peduli pada diriku
Aku harus kejar bahagia
Dimusim panas ini

****

April mangajakku bermain dengan jerejak, mengajariku bercanda dengan ilalang
Bercengkrama dengan bulan, berlarian mengejar matahari
Ah,bulan ini perdu apit mengalahkan pesona sakura
Dan aku suka musim panas, sama seperti aku menyukai April

Bulan berganti, meski aku masih enggan beranjak

Musim salju itu kembali datang, menggantikan gugur yang berserakan
Dan April, sosok musim panas itupun pamit, mengejar anak-anak bumi, ucapnya
Satu malam yang penuh dengan angin beku. Dan saat butiran beku itu menghujaniku
Kamu datang, berdiri di depan halaman rumahku, dengan sebongkah boneka salju bersyal merah, juga hidung wortel orange yang lucu
Tambun,menggemaskan
Dan kamu menatapku penuh harap
Membuatku terdiam

“Hal paling bodoh adalah membohongi diri, memunggungi hati
Munafik pada diri sendiri. Membiarkan ucapan tak sejalan dengan pikiran

Lantas sampai kapan aku bohongi diriku?
Aku memujamu seperti musim dingin pada musim semi
Kembalilah kesisiku, warnai hariku lagi
Harumkan rumahku lagi”

Kamu mengakhiri dengan uluran tanganmu

****

Hari ini, gemawan bergumul di puncak gunung
Bertengger seperti nuri di pucuk ilalang
Lantip,mengendap perlahan tertiup sepoi angin
Hingar-bingar, mencuri perhatianku
Ku pegang dadaku, jantungku berdetak lembut, dan dia kembali terasa hangat.
Tak perlu lagi kurobek dadaku, tapi jantungku yang memilih berpindah rumah

Ya, aku memilihnya
Memilih mencari bahagia dalam kesederhanaannya.
Dan saat semua tawaran bahagia itu datang,
Aku akan tetap disini, menggenggam tangannya
Dan kubisikan pada setiap awan yang lewat,
“Aku memilih disisimu, April”

END



cerita ini w bikin sepesial buat si om w. inget, lo milik w. haha

juga buat yang ngerasa galau gegara seseorang yang dulu pernah jadi bagian dari hidup kita, terus hadir kembali dan menggoyahkan apa yang sudah kita pilih.

inget sob, masa lalu itu ibarat sepion. boleh lah sekali-kali kita tengok. tapi kalo keseringan, ingat, kita itu berjalan maju, bukan mundur.


By. Abi Zaenal