Showing posts with label Goresan. Show all posts
Showing posts with label Goresan. Show all posts


Sedari awal aku sudah salah dalam mencintaimu, bukan cinta ini yang salah tapi bagaimana aku mencintaimu yang rasanya kurang tepat. Sejak mula aku mencintaimu bukankah aku terlalu percaya diri untuk bertahan, terlalu angkuh untuk berdiri sendiri tanpa adanya kamu. Aku terlalu gegabah dalam merumuskan cinta dengan persamaan kuadrat yang salah dengan persamaan dan statistika yang berbeda dari kebanyakan orang.
Aku salah memulai cintai ini dengan sumpah. Sumpah aku hanya mencintai kamu dalam hidupku terlontar semudah menuangkan segelas air kedalam bejana. Aku memang tak salah memilih cinta tapi aku terlalu sembrono mengikatnya dengan ikrar para petua. Lalu nyatanya aku memang hanya mencintai kamu, hidup bersama cinta yang kini hendak mencapai satu dasawarsa. Begitu panjang jika aku uraikan dalam bentuk bulan, hari atau terlebih dalam satuan detik tentang berapa lama sumpah itu mengena padaku.
Lalu lidah ini kelu, merasa emosi diatas dada lantas aku mengutuk. Aku lantas mengutuki diri bahwa aku sanggup mencintai dengan cara ini. Bahwa ini adalah jalan yang telah dengan sengaja kutoreh untuk mencintaimu, faktanya aku berulang kali terluka, berulang kali patah hati, juga pernah merasa dikhianati tapi sumpah aku masih tetap mencintaimu sampai detik ini.
Ahhh... kukutuki diri karena tidak pernah berpaling darimu. Bersiap patah hati berkali-kali, tapi bangkit lagi seperti zombie. Aku hidupi cinta ini dengan rasa sakit, semakin kencang degupnya ku nilai lebih baik, semakin terluka semakin asyik. Padahal aku ini rapuh terlalu mencintai dengan hanya menggunakan naluri, sekejap hati menyebut namamu lalu ia mentrasmisikannya ke otak lalu menterjemahkannya lewat bahasa bahwa ini cinta.
Tapi aku lupa dalam doa. Bagaimana jika sedari awal aku lebih kuat dalam doa? Apakah cinta juga akan tertoreh didalam buku takdir kehidupan milikku? Maka akan beda ceritanya jika selalu kusemat namamu dalam sepertiga malamku, menyanyikanmu lewat shalawat dan dzikir sebelum tidurmu. Jika demikian maka aku hanya akan menekan tombol deletnya saja, menghapus sumpah dan kutukan sedari awal.
Seharusnya ini menjadi cinta yang merindu lewat doa.
Seharusnya ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya.

Ini cinta ...





Salam dari pemilik malam, ia yang memeluk rembulan. Jemari yang penat menuliskan kalimat fatamorgana, tubuh yang lemas karena rutinitas mahasiswa. Aku tak akan berjaya menghadapi mu. Aku tak akan sanggup menyuguhimu, karena hingga kini aku masih tersauk-sauk mengimbangi.

Dari angin yang membawa udara segar, aku hadirkan dengan bahasa sederhanya hanya agar kamu mengerti. Tapi kamu langsung menyudahi, tak lagi berarti. Bagai rintik yang menjadi badai, lalu beliung meluluh lantakkannya, hati itu hancur tanpa sisa karena porah-poranda.

Demi cinta yang tercipta dari ingatan. Aku sesajikan persembahan terakhir lari cambuk waktu yang kian sulit berkecamuk. Mengharap bagai peminta-minta, mengemis karena tak punya. Namun apa daya simpati pun tak dapat, hanya menatap dengan harap.







Hei, kamu. Apa yang kamu kenakan pada wajahmu itu? Bukankah itu riasan yang menutupi dirimu. Aku suka dengan keputusanmu mengenakan hijab, aku suka jika sesekali kamu mengenakan perona wajah. Tapi aku benci jika kamu terlalu mempolesnya berlebihan. Sebenarnya apa yang hendak kamu tutupi dari riasanmu itu?
Kamu adalah gadis yang indah tanpa riasan tanpa sentuhan berlebihan, entah kamu hendak menjadi lebih mempesona demi raja yang kini mengisi seluruh hatimu dengan cinta dan kepercayaan atau kamu hendak menutupi sesuatu dari apa yang tidak dapat kamu sembunyikan.
Aku adalah pria yang nyaman dengan itu, dengan apa adanya kamu secara fisik karena mencintaimu itu sedari awal aku telah buta. Karenanya tak perlu lagi mata untuk melihat. Sebab sedari awal aku telah tuli. Tak perlu lagi telinga untuk mendengar merdu suaramu.
Hey, kamu. Apakah kamu nyaman dengan semua itu? Entah, anggap saja ini hanya prediksiku yang salah. Tapi aku terka ada lelah disana, ada hal yang terlalu dipaksakan disana. Namun tubuhmu tak menyadarinya. Kamu itu sahabatku sebelum cinta ini memintamu menjadi jodohku.

Maka tatap lah aku dan biarkan getarnya bicara padamu tentang hatimu, tentang hatiku. Agar kamu tak pernah meragu atau merasa sekeras batu.
Dia pendarkan gerimis menjadi tiga warna dimataku,
Merah untuk menahan kebencianku
Kuning untuk membunuh rinduku
Dan hijau untuk melenyapkan harapanku.

Pontianak, 14 Februari 2016
Menjumpai, Gadis masa kecilku

Assalamuallaikum, Ri
            Panas ...
Seperti biasa, Pontianak memang selalu bisa membuat orang bergidik ngeri karena suhunya. Bahkan untuk sore hari yang basah setelah terguyur hujan layaknya hari ini. Mungkin berbeda dengan Semarang. Tapi dibawah sinar mataharinya yang terik inilah kita pernah tumbuh bersama. Tertawa seperti selayaknya dua orang bocah.
Ri, bagaimana kabarmu? Setelah sekian lama Dev masih membawa romansa kekonyolan kita sewaktu dulu. Ahhh... Tidak, semuanya terbawa bersama rasa yang tak dapat dimengerti. Bersama kesepian. Ketika Ri tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar.
Saat Dev salah langkah, berusaha menyentuh hati Ri lewat kata (sahabat).
Seminggu lalu, sebuah surat undangan mendarat didepan pintu rumah Dev yang diantarkan oleh seorang kurir. Sebuah petir di siang bolong. Undangan itu adalah undangan pernikahan Ri dengan seorang lelaki.
Sakit...
Dev terluka.
Berita itu bagai sebuah ramalan yang menjadi kenyataan. Mengetahui, bahwa hari itu akan tiba memang menyakitkan. Namun. Menghadapi bahwa ini adalah saatnya? Ternyata lebih perih dari apa yang pernah di bayangkan. Dev sadar, bahwa air yang keluar seperti rintik hujan sore ini adalah bukti kekalahanku. Setelah bertarung dengan semua luka yang membuat dunia menjadi gelap.
Ri... pernahakah merasa diburu waktu? Merasa waktu begitu cepat berlalu tanpa pernah bisa diperlambat, apalagi buat dihentikan, semakin menghimpit juga menikam?
Dev pernah.
Sekarang tepatnya. Sembilan tahun kini hanya menyisakan beberapa hari saja. Sembilan tahun begitu cepat berlalu, tanpa sebuah hasil.
Dev sadar betul. Seorang makmun tak akan mungkin memilih imam yang tergopoh dibelakangnya. Tersiuk-siuk mengimbangi. Sudah selaknya Ri akan memilih seorang imam yang berada didepannya. Memberikan petunjuk arah, bimbingan, dan menuntun Ri dalam mengarungi hidup. Bukan?
Lelaki itu diyakini adalah imam terbaik untuk Ri. Meski mata ini mulai mengembun, tapi Dev sematkan doa untuk yang tercinta. Mendapati Ri dalam bahagia, meski bukan bersama Dev.
Ahhh...
Pendar keyakinan itu kini padam, luka itu telah mentahtakan diri. Sekuat Dev bertahan, sekuat itu juga Dev menghantam. Dev kalah, dipaksa kalah tentunya. Tak berarti menguap bagai embun. Bejana itu memantulkan apa yang tertaklukkan, oleh kenangan. Dev kembali kalah, luka itu lebih dahsyat rupanya. Hari-hari yang melelahkan, nafas yang kian tercekat, air mata yang bergulir, semuanya sia-sia. Dev kalah, dipaksa kalah oleh kenangan.
Sudahlah.
Beberapa hari lagi, waktu semakin cepat berlalu. Setelah sebelumnya Dev bergeliat. Dev akan ke Semarang. Dev ingin menemui Ri.
Dev harap tak akan menemukan Ri dalam keadaan merasa bersalah seperti sembilan tahun lalu. Namun jika rasa itu masih ada. Dev harap bisa merebut semua kenangan itu dan Dev simpan dalam saku kemeja....
Ri.... dalam surat ini Dev berikan burung kertas terakhir. Burung kertas ke 1000 untuk melengkapi harapan Dev atas Ri dimasa mendatang.
Sekarang mentari telah tenggelam, dan sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Dev harus bersiap untuk menyambut malam ini.
Ria.... tunggu Dev di Semarang....!
Wasalamuallaikum, Wr.Wb

 Yang Selalu Menyayangi

Devdan
Aku selalu suka saat butiran air itu jatuh ke bumi, membasahinya dan membuat aroma rumput menyeruak. Tak hanya menikmati hujan aku acap kali membiarkan hujan basahi tubuhku karena bersama hujan ia sanggup menyamarkan air mata yang luruh.
Bukankah dulu hujan adalah sahabat kita Ri, berlarian diantara genangan air yang meluap hampir banjir. Lalu kini hujan menjadi penghubung antara aku dengan kenangan itu. Aku masih tetap menikmatinya seperti dulu, sesekali membiarkan tubuhku basah atau menatap dibalik kaca yang mengembun bersama secangkir kopi. Ku bau-i semua percampuran antara wangi kopi dan tanah yang basah karena hujan lalu merekatkan kedua tangan memeluk erat diri.
Suhunya kadang cukup sejuk untuk udara kota ini yang selalu panas, cukup dingin untuk dibandingkan dengan perasaan yang membeku.

Aku mencitai hujan sama seperti aku mencintaimu. Hujan membantuku merasakan hangat tubuhmu ketika ia menyuh kulitku, angin membawakan suaramu keujung telingaku. Hujan basahi aku dihari itu, hujan hapuskan air mataku di hari itu. Karena bagaimanapun disaat itu ikhlas adalah taruhanku.

Jika mencintaimu itu punya dua hari libur sama seperti orang yang bekerja. Maka biarkanlah hati ku ini beristirahat sekejap dari luka. Dari rasa yang ia tahan setiap hari, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta setiap saat dan melenyapkan rasa sakit sejenak. Iya juga mungkin butuh bernafas, jatungku juga hendak berdetak normal dan hatiku ingin merasa perasaan lain.

Gila....
Mengapa memilih untuk jatuh cinta? Jika kamu lelah campakkan saja. Benturkan saja dahimu itu pada bantalan yang keras, biar amnesia. Solusi instan melupakan prahara bagi penggiat yang tak setia.

Jika demikan untuk apa aku jatuh cinta, meminta libur untuk merasakan bahwa hari-hariku memang tak berjalan bahagia. Apa aku hendak juga meratapi, mengapa cinta ditakdirkan Tuhan seperti ini? Maka aku akan berada didestinasi yang membuat iri, memeluk angin menggenggam sepi. Membelalak mata bahwa disetiap sudut kota banyak pemuda-pemudi melancarkan aksi yang bikin iri.

Lalu ketika senin mulai tiba?
Ketika senin merotasi dirinya setiap saat, apakah aku juga akan membenci senin? Jika kamu merasa demikian, maka setiap saat kamu hanya meratapi. Membenci ketetapan Allah karena sejatinya kisah cintaku ini lebih indah dari setiap kata yang telah kurangkai mungkin lebih haru dari dilema yang telah kamu bagi untuk diceritakan. Karena bagaimanapun cintamu adalah ketetapan Tuhan telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz bahkan jauh sebelum kamu dilahirkan.

Maka berhentilah...
Kamu tak perlu hari sabtu, karena sedari awal aku telah berikrar bahwa rasa sakit ini adalah cara terbaik untuk mencintai. Adalah bagian yang sengaja kupilih untuk memiliki, meski pada akhirnya yang mengerti hanya aku dan kamu diriku.

Sedari dulu memang seperti ini, hanya yang mengerti dualisme yang dapat membaca tulisan ini.
Aku mendamba seseorang untuk dapat saling berbagi kasih bersamaku. Aku lebih dari mengharapkan seseorang hadir sebagai penawar rindu. Dari cinta yang tak tahu kemana akan singgah. Tapi aku bukan pengobral cinta. Menawar hati lewat senyuman. Aku bersungguh ingin mencinta dan merasa dicinta. Aku pernah merasa tapi aku tak yakin itu cinta. Hanya tubuh yang sempat kuserahkan padanya.

Aku juga pernah merasa di sakiti hatinya. Merana karena telah begitu percaya namun ditinggal dipenantian. Atau berujung diam yang mulanya aku tak tahu akan berakhir hingga kapan. Hanya aku yang terus mengetuk pintu hatinya dan sesekali berbisik ditelinganya. Agar ia sudi memalingkan wajahnya menatap aku. Namun lagi aku ditinggal sendiri menanti dengan gelisah yang menggantung. Apa aku salah? ataukah aku ini memang tak layak dicintai?

Tapi aku justru tak tahu apa itu cinta ketika merasa memilikimu. Apakah setiap cinta akan selalu menyakiti? Apakah cinta adalah derita yang berbeda rupa? Tapi mengapa semua selalu mengagunggkan cinta. Merasa bahwa cinta dimata pujangga adalah surga. Aku hanya ingin mencintai bukan menyakiti. Namun mengapa segala daya yang kulakukan selalu berujung luka didadamu. Awalnya aku hanya ingin dimanja oleh tingkahmu. Namun yang terjadi aku yang menyakitimu lewat laku ku.

Dan ini amarah terbesar didirimu yang meluap karenaku. Lalu seketika membuatku takut kehilanganmu. Juga takut kembali menyayat hatimu esok. Ketika semua telah mereda, ketika semua telah terlihat kembali seperti semula. Hanya sebatas mata. Karena jelas dihatimu menyisa bekas luka karena kau terhina oleh kataku. Meski maaf terlontar namun tak cukup menjadi penawar. Entah memperparah atau malah sebaliknya.

Ah! Mencinta ternyata lebih sulit ketimbang menguraikannya lewat bahasa. Ketimbang berandai tentang ilusi cinta. Namun membangunnya dibayangi rasa bersalah. Kini aku diam dan dia juga sama menyimpan diam. Aku menjadi takut bersuara. Takut lidah ini terlalu tajam mengoyak rasa. Padahal aku hanya ingin mencinta. Takut jemari ini salah merangkai kata. Padahal aku hanya ingin bercengkrama.


Sakiti aku jauh lebih baik ketimbang menyakitimu. Melihatmu terluka dan terpapah karenaku. Aku jadi tak punya daya hanya sesal yang menyesaki dada. Tapi bertahan berapa lama? Sampai semua jadi hambar kah? Sampai cinta kita berubah menajdi benci kah? Atau cinta memang selalu seperti ini. Diselingi rasa yang tak dapat kumengerti. Aku sudah takut berandai jika hanya pandai berkata. Lalu membenci cinta itu sendiri. Cinta tak pernah selesai walau ku melarikan diripun terlahir kembali. Cinta tak pernah selesai lewat kata. Cinta tak pernah usai dengan merasa.

Aku tak punya tempat ...
Ketika jantung ku memompa lebih cepat dan meminta oksigen beredar lebih sering. Aku hanya kalap. Dada menjadi sesak, tak tahu harus kuluapkan kemana. Hanya dapat kutuang lewat narasi yang tak begitu apik. Sederhana. Bahkan kamu bisa bilang ini berantakkan, karena terkadang tak mengindahkan keadah bahasa.
Aku mengedar bersama rintik hujan. Pipiku basah sama seperti bumi yang becek. Hatiku mencinta terbagi menjadi dua serambi. Namun aku selalu terlambat, terlambat menyimpan rasa, terlambat menyadarinya dan terlambat untuk ku ungkap.
Hingga menjadi diam!
Tak terungkap. Aku bukan orang yang baik, jika hendak pergi maka pergi lah. Jika terlalu takut aku terluka aku sudah terluka bahkan sebelum memulai mencinta. Aku mencintai seseorang yang tak lagi dapat mencintai. Hatinya telah tawar bahkan untuk orang yang mencintainya sampai kadar setengah mati, memintaku untuk menunggu sampai jantungku ikut mati rasa agar cinta segera kadaluarsa.
Tapi aku tak bisa. Meski hati tak lagi bernyawa tapi jantungku bersikukuh sekeras baja. Ku letakkan dalam toples kaca, lalu ku serahkan padamu. Meski ku tahu ia akan percah, jantungku tak banyak bicara ketika ku cerabuti belingnya. Diam. Meski ia tertatih ia tetap ingin bertahan.
Sampai kapan?
Cinta tak punya batas waktu. Karena cinta bahkan tak bisa terdefinisi dengan sebuah kesepahaman. Cinta itu kamu juga tahu, lebih rumit ketimbang persamaan kuadrat. Lebih candu dari pada psikotropika yang salah tempat.
Aku tak minta pendaran pelangi. Menjadi hitam dibalik terangmu adalah keabsahan bagiku. Bahkan satuan jarak tak lagi kupersoalkan. Kamu akan jadi milikku. Bersua denganmu, menenun tawa dan tangis dalam satu rupa. Sambut aku dalam keriuhan dunia.

Lewat imajiku semata.
Hai apa kabar gadis pembawa harapan?
Sudah lama rasanya aku tidak menyapamu, tidak lagi merasakan degup jantung yang tersaup-saup saat namamu tersebut oleh ingatku. Aku ragu kau merasakannya juga. Karena disana pasti semarang memanjakanmu punuh pesona. Lalu apa aku juga harus selalu berlagak kuat dengan menanyai kabar lelaki itu? Ya bagaimanapun dia adalah lelaki yang sudah kau mantapkan menjadi calon imammu.
Meski menyadari penantian ini berakhir dengan rasa sakit namun aku tidak pernah menyesali. Hallo gadis masa kecilku. Mengapa kau masih enggan membentuk sudut dibibirmu. Berikan saja meski itu palsu, tidak masalah jika kamu harus berpura. Bukankah kita memang tinggal ditempat yang penuh sandiwara?
Nampaknya kamu ragu akan menyakitiku.
Kenapa harus begitu, bukankah aku tersenyum padamu mengatakan aku tidak masalah dengan nyeri ini karena aku yang meminta. Ayolah wanita dewasa yang telah jauh meninggalkan aku dimasa depan. Bukankah seharusnya kamu itu yang jauh lebih kuat ketimbang aku.
Meski kau wanita bukan berarti kau lemah. Meski tak dapat dipungkiri aku lelaki yang rapuh karena cinta. Tapi aku tidak pernah tergoyah. Berlakulah sebagaimana mestinya. Kita ini sama-sama anak manusia, cepat atau lambat dirimu itu yang dulu tersenyum manis dengan simpul romantis akan habis. Karena waktu itu lebih arif, memutar rotasinya tanpa membuatku hendak memuntahkan isinya.
Bagaimana? Apakah kamu sudah mulai terbiasa? Ini cukup sederhanakan untuk kamu yang tidak begitu mengerti bahasa yang ditabur dengan gaya bahasa.
Cinta bagaimanapun tetap cinta. Cinta antara aku dan dia, ya cinta yang hanya milik kami. Mengapa harus kau campuri? Cinta bagaimanapun itu adalah tentang mengasihi. Membawa nama tuhan sebagai saksi. Bukan aku tak mengerti? Sudah lebih aku pahami. Lalu mengurai kalimat dari kata dan mencibir diri. Apa sudah mawas diri ??

Jika aku bergulat dalam dosa pun itu dosa milikku. Apa kau hendak memikul punyaku? Jika punyamu saja tak dapat terpikul. Apa kau sudah merasa benar? Ingin melampaui Tuhan kah? Ini tentangku. Tentang kisah cinta yang tak dapat ku rangkai karena berselimut kelabu. Gelap karena kau selalu berusaha ingin tahu dan aku jadi membenci itu.

Berbeda
Ya, aku mencinta berbeda cara. Berbeda karena kau tak terbiasa melihat aku mencinta. Tapi biasa bagi mereka yang mengerti. Bukan sekedar memahami. Cinta dan agama terkadang punya dinding yang berbenturan. Sama-sama keras tak ada yang mengalah. Namun agama bukan bagian ku untuk menilai. Meski aku berhak bersuara ketika cinta menggema di dada.


Kenapa kau jadi mengerutkan dahi? Ketika ku pinta kau mengurai apa itu cinta mengapa kau tak dapat merangkai? Ini tentangku sekali lagi berkeras. Ini tentangku yang merangkul diam untuk mencinta. Ini certa milikku yang terbungkus rahasia. Karena manusia selalu punya cara mencaci sesama. Karena manusia punya muslihat untuk berkata. Tidak.
Ketika ku ucap kepadamu shanju, tentang 507. Kau tahu maksudku. Ketika ku bercerita tentang si pencuri madu. Ku tahu kau marah padaku. Dan kini kebenaran yang sesungguhnya telah terungkap. Karena waktu yang menunjukkan jalannya. Bahwa aku tak salah mengambil keputusan waktu itu. Yang salah adalah karena aku tak percaya. Dan menoleh kepada si pendusta. Percaya setiap ucapannya. Dan tenggelam dalam dekapannya. Dekap sakit hati kini.

Maafkan aku walau meski kau tak tahu tapi aku pernah menghianatimu. Meski kau tak tahu aku pernah mengingkari janji kepadamu. Dan kini setelah perpisahan kita berdua yang tak terduga. Perasaan sedihpun ditinggalkan begitu saja didalam mata. Dan bayang akan dirimu masih menggantung dibola senja.

Aku merindu mu. Berulang kali hati menjerit mengetuk milikmu. Aku merindu. Bahkan aku merindu diammu. Aku merindu bekas jejak langkahmu disana. Sesekali ku datang, melihat ilusi dirimu yang lalu lalang. Dan bercengkrama dengan sesama. Aku rindu punggungmu yang kutatap tajam ketika kau berjalan mendahului aku. Lalu berbalik dan tersenyum kepadaku. Aku rindu itu. Tapi mungkinkah setiap tumpukan rindu yang telah menggunung kini sanggup tercurah kembali padamu?

Karena aku tak akan mungkin menyapamu dan berkata begitu. Sebab diantara kita mungkin kau anggap masa lalu. Bersama, aku dan kau setuju untuk mengakhiri hubungan ini dengan baik. Juga dengan alasan yang terucap darimu. Aku menghargainya. Tapi cinta ini bagaimana? Masih memintamu bersamanya. Walau nyatanya kini aku telah bersama yang lain. Tapi aku hanya dapat merefleksikan dirimu padanya.


Aku bingung bagaimana hendak bersikap. Aku bingung bagaimana harus bertingkah. Karena ku gelisah. Karena ku tak sanggup berpura bawa cinta masih singgah didada. Shanju haruskah ku bagi rinduku padamu. Haruskah ku ceritakan tentang tangisku. Lalu berpura lupa bahwa diantra kita telah melepas ikatan yang dulu. Haruskah aku melakukannya karena ku masih begitu enggan berpisah. Dan biarlah kita bersama meski dalam sebuah rahasia.
Senja meniupkan anginnya pada daun-daun terserak di halaman belakang rumahku. Menebar hawa dingin yang membuatku merekatkan jaket yang kugunakan. Jingga sudah meraja di barat, dengan awan kelabu-keemasan yang memesona, meski tak nampak hewan-hewan yang kembali ke peraduannya.  Kursi besi yang panjang ini masih saja hangat, karena satu cangkir kopi dan sebatang rokok yang menemaniku menikmati momen menghipnotis ini.
Aku menyesap kopi yang masih mengepul di tanganku ini sambil tersenyum kecut. Aromanya menebarkan wangi yang membuatku terdiam beberapa saat, membuat pikiranku kembali pada beberapa waktu sebelum aku hijrah ke kota ini. Masa dimana aku menikmati momen-momen mengesankan bersama sosok hebat itu. sosok yang mengajarkan aku pada banyak hal, pada banyak petuah hidup. Sosok tegar yang pendiam, sosok jenaka yang arif. Ah, mataku selalu saja basah setiap mengingat sosok itu. Abah.
Kini pikiranku bermain-main dengan masa kecilku, masa dimana abah menggendongku di punggungnya selepas mengunjungi makam ibu. Ketika itu aku bertanya, apa aku bisa sekolah di tempat belajarnya Habibie, idolaku dulu. Abah yang waktu itu bahkan tak mampu belikan aku mobil batman yang kuingin hanya diam saja. Tapi ketika kami berdua melintasi kebun jambu milik kami, beliau menjunjung tubuhku dipundaknya, menyuruhku memetikkan beberapa buah jambu yang telah ranum.
Kami berdua terduduk di atas batu besar menghadap barat, menikmati momen dimana alam menjalankan titah tuhan, menenggelamkan siang dan menghadirkan malam. Beberapa butir ranum itu kukumpulkan dalam raupan tanganku, lantas kugosok jambu itu dengan kaosku. Abah mengusap rambutku dan tersenyum tipis padaku.
“Lihatlah bagaimana alam mengajarkan banyak hal pada kita. Maha karya Tuhan ini mengajarkan esensi hidup. Matahari mengajarkan kita untuk tanpa pamrih. Burung mengajarkan kita pada kerja keras dan kasih sayang. Angin mengajarkan kita untuk menebar kesejukan pada setiap yang ditemuinya. Belajarlah pada alam jika kamu ingin menjadi bijak, karena alam mengajarkan apa itu esensi bahagia dan cinta.”
Aku yang waktu itu masih terlalu muda untuk memahami kalimat yang dalam itu hanya terdiam, berusaha mencerna apa yang dimaksudkan Abah.

“Hidup itu untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk meminta atau bahkan mengiba. Belajarlah pada daun yang menghidupi satu pohon. Bahkan dia rela mengorbankan dirinya saat kemarau menjelang. Dia gugurkan dirinya untuk menjaga inangnya, dia korbankan dirinya untuk hewan-hewan kecil. Dan kamu De, jangan pernah takut untuk berkorban, karena tuhan menghitung segala keikhlasan kita. Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih hebat.”
Aku terpana mendengar kalimat hebatnya itu. Ayahku yang pendiam, kini berapi-api membekaliku ilmu hidup.
*****
Dua puluh tiga. Ah, umurku sudah lebih banyak tiga tahun dari waktu dulu abah menikahi ibu. Lagi-lagi aku teringat ketika abah mengisahkan lahirnya kakakku yang sulung dengan berapi-api. Meski sekarang si sulung itu telah menjadi seorang yang brengsek. Entah apa yang membuat Abah begitu sabar menghadapi anak yang seperti setan tingkahnya.
Abah selalu bilang padaku bahwa menjadi seorang ayah adalah kebanggaan seorang lelaki. Cinta seorang ayah pada anaknya tak beda dengan cinta ibu pada kami. Meski mereka berdua menunjukkannya dengan cara mereka sendiri. Seorang ayah itu harus kuat, mengimbangi ibu yang perasa. Seorang ayah harus tetap tenang mengimbangi ibu yang mudah menangis. Bila dia marah, bukan tak sayang, tapi dia beritahu bahwa kita salah dalam bertingkah.
Dulu begitu sering aku tertidur saat menonton tv. Tapi saat mataku terbuka, aku sudah berselimut di atas kasur. Aku juga sering menangis saat mobil kulit jerukku dirusak oleh temanku, tapi esoknya sudah ada mobil dari kayu dengan roda karet bekas sandal dan bisa mengapung. Abah tak banyak bicara, tapi tatapannya mengajarkan banyak hal padaku. Senyumnya meredakan tangisku. Abahku yang hebat. Abahku yang istimewa. Untuk lelaki sederhana dan guru keihklasanku, dengan sangat kuucapkan, aku sayang engkau.
Aku masih ingat saat abah yang pendiam itu tertawa bangga saat aku pulang membawa piagam. Aku menjuarai lomba pidato Bahasa Inggris waktu itu. Sampai merah padam wajahku menahan malu, karena abah menceritakan pada setiap orang yang ditemuinya. Lantas mengadakan syukuran sederhana karenanya, meskipun kutahu itu terlalu berlebihan untukku. Tapi aku begitu senang dibuatnya.
Tapi senja yang gemericik itu aku tertunduk, tak mampu menatap wajahnya yang sendu. Satu kabar tak baik sampai di telinga abah. Entah dari siapa kabar itu bermula. Anak yang selalu dibanggakannya telah menyalahi kodrat. Aku yang pendiam ini menyukai sesama. Beliau tak menamparku seperti dugaku. Juga tak mengusirku dengan sarkas seperti syakku. Beliau hanya duduk diam memandang keluar jendela, memandang rintik-rintik air yang jatuh dari atap. Pandangannya kosong. Senyum sederhana itu tak lagi nampak dari bibirnya.
Aku tak mampu menyangkal karena berita itu absah. Aku yang harusnya bersimpuh, mencium kakinya hanya mampu diam, hanya bisa mengusap air yang terus mengaliri pipiku. Mata kelabu beliau tampak berkedip beberapa kali, lantas terlihat satu tetes air matanya jatuh. Abah yang tegar dan mengajariku untuk pantang menangis, kini tumbang. Hari ini beliau kalah.
Harusnya abah memukuliku, menendangku atau bahkan melemparku. Itu lebih baik daripada melihat beliau diam dan mengusap matanya. Melihat jakunnya naik turun dengan desah nafasnya yang berat. Pemandangan itu terasa membekukan paru-paruku yang penuh oleh sesal.
“Tolong buatkan secangkir kopi untuk Abah, De…”
Kalimat itu meluncur dari mulut Abah dengan bergetar. Sedikit parau dan seolah menahan nafas karenanya. Aku mengusap pipi yang sepertinya takkan kering senja ini. Bergegas ke dapur dan segera menjerang air. Tanganku gemetar saat menuangkan air mendidih pada cangkir yang sudah kububuhkan tiga sendok gula dan tiga sendok kopi. Takaran kesukaan Abah. Tiga untuk jumlah anaknya, tiga lagi untuk wanita yang dia cintai dalam hidupnya. Ibuku yang sekarang sudah ditempatkan Tuhan di syurga, Asni kakak perempuanku yang telah diboyong suaminya di kota, juga nenek –ibunya, yang telah melahirkan sosok hebat Abah.
Aku masih berdiri di sampingnya, menanti tangan ringkihnya meraih cangkir itu, membauinya dengan tersenyum lantas menyesapnya perlahan. Pandangannya masih tertuju pada hamparan hijau. Tapi tatapan kosong itu melanglang buana, terbawa pikirannya yang berkutat membayangkan cercaan dari kerabat, hinaan dari khalayak. Bahkan mungkin titah untuk segera meninggalkan tanah tempat aku hidup karena kenistaan yang tak kuingin ini.
Kini tangannya meraih cangkir itu, bibir bergetarnya mulai menyesapnya. Aku sesak melihatnya. Tapi riak kopi itu membuatku ambruk, bersimpuh dan memeluk kakinya tanpa mampu berkata-kata. Aku hanya sesenggukan tanpa mampu menderas permohonan ampun. Seribu ucap itu mengalir lewat mataku. Sejuta maaf itu mengalun lewat isakku.
Beliau tak berucap cukup lama, hingga meluncurlah satu kalimat dari bibirnya yang kisut.
“Kamu kurang menambahkan satu sendok gula, De…”
Pahit. Kenyataan pahit itu beliau kiaskan lewat takaranku. Kalimat sederhana yang menggambarkan betapa kecewanya beliau pada anak yang digendongnya sedari kecil. Betapa nistanya aku membalurkan lumpur ini ke wajahnya yang teduh. Beliau mengusap rambutku lantas meraih pipiku. Aku menatapnya dalam remang mataku.
“Tapi satu yang kita lupa. Bukankah kopi pahit itu adalah obat agar kita tetap terjaga, menjaga harta kita yang paling berharga? Menjaga agar kita mampu berdiri di sepertiga malam terakhir? Kopi pahit adalah sebagian jalan hidup. Kamu adalah anak bumi, kamu juga anak matahari dan anak angin… dan kamu adalah anak Abah yang hebat.”
****
Senja itu turun dengan perlahan. Meninggalkan siang yang mendung, menuju malam yang menenangkan. Aku masih bersimpuh di kaki abah, menolak beranjak meski panggilan merdu itu saling bersahutan. Abah bangkit dan menuntunku. Menimbakan air wudlu untukku. Dan aku tak mampu berhenti terisak ketika beliau memakaikan sarung untukku. Melilitkan kain itu dipinggangku, persis saat aku belajar sholat saat lima tahun. Beliau menggelarkan sajadah untuk kami berdua, mengimamiku dan melantunkan ayat-ayat itu dengan pelan, tak mampu membaca keras karena getar bibirnya.
Selepas meraup wajahku, aku mendekap abah. Membaui wangi tubuhnya. Wangi yang mengantarku pada imaji dimana Abah menggendongku saat aku baru lahir, mengadzaniku di telinga kiriku, mendendangkan iqomat di telinga kiriku, menjunjungku setinggi mungkin saat aku baru belajar berjalan. Menuntunku melewati pematang sawah, dan deretan itu masih terus berputar dan tak terputus.
Abah merangkulku. Tersenyum getir dengan mata sembab.
“Di dunia ini banyak yang tak berlaku seperti ingin kita karena kedudukan kita hanya sebagai makhluk. Apapun dan bagaimanapun kamu, darah abah mengalir dalam tubuhmu. Sebelum datang mereka yang akan merajam tubuhmu dengan batu, sebelum darah mengucur dari kepalamu, carilah tanah dimana kamu akan menjadi sebaik-baik manusia. Dirikan gubuk-gubuk tempat mengajar anak-anak matahari, tebarkan ilmu pada pewaris para raja. Purnama menjadi saksi bahwa aku adalah abahmu. Aku ridho atas engkau.”
Aku mendesah, masih enggan melepas pelukan dari tubuhnya yang bergetar. Aku tahu beliau sayang dengan teramat padaku. Tapi kenistaanku mengharuskanku pergi meninggalkan beliau sendiri di gubuk ini. harusnya aku menjaganya selepas si brengsek itu menginap di hotel prodeo, dan kakak perempuanku tak kuasa menolak titah suaminya ikut ke rantau. Aku yang selayaknya mengurusnya, memandikannya saat beliau sakit, memasakkan bubur untuknya, membersihkan kotorannya. Harusnya aku tetap di sini mendampingi masa tuanya. Tapi kenistaan ini membuat kami harus berjarak. Membuatku harus membiarkannya dengan kehidupan sebatang kara.
*****
Kumandang adzan di sela-sela deru mobil kembali mengingatkanku bahwa aku harus kembali menghadapnya. Memohonkan ampun pada-Nya atas ketidakmampuanku menjaga hati. Mendoakan Ibu, memintakan syurga buat Abah yang memang pantas mendampingi ibu di sana. Memohonkan Dia kirimkan seribu malaikat untuk menjaga beliau, memohonkan segala yang terbaik untuk guru keikhlasanku, guru ketegaran dan juga guru kehidupanku.


Oleh : Abi Zaenal
Ini senja yang ke? Ah sudah lama sekali. Hingga aku lupa senja keberapa ini. Karena mentari pun menjadi serupa, tak berbeda. Sembari melangkahi beberapa gumpalan putih yang kausuka ku berjalan membelakangi mega kala itu. Menghirup aroma alam tapi hanya berbau belerang. Bukan aroma tubuhmu diujung hidungku. Aku sadar kau memudar. Berhembus karena apa aku tak tahu tapi ada sisi yang sedang pilu.

Ada kaki yang kini tak lagi berjalan. Berlari. Tapi entah hingga kapan? Hingga nafas terengah kah atau hingga kakimu lelah melangkah? Kau sedang terluka karena nyatanya kita tak bisa mencinta. Kau kira aku tak tahu kau berdusta? Meski kerap kali kau tertawa didepan samudra, tapi tawamu itu penuh dengan tanya. Tanya karena kehampaan diantara kita, meski sedang bercumbu bersama. Meski sesaat dekapmu menghangatkanku tapi beku rasamu tak pernah mencair meski bersama waktu.

Pecuma jika kau harap waktu akan berpihak padamu. Karena nyatanya jika kita dipertemukan dikehidupan yang lain. Kita hanya akan mungkin bersama dalam cinta. Mungkin. Karena jodoh bukan cahaya ditelapak tanganmu. Dan tuhan bukan tempatmu memaki takdir yang kini membendung tangismu. Lalu kau hendak kemana? Kau sejatinya bukan  pengembara kan. Kau hanya mengais asa. Mencari puing demi puing, retakan dari retakan akan kesepian.


Kehampaanmu yang tak akan berujung. Hanya terus berusaha walau kau tahu tak ada. Dan semakin tak kukenal. Bukan aku lelaki yang tak tergoyahkan aku bahkan serapuh ilalang dipadang gersang. Tapi aku senang bisa mencinta meski sedarhana. Bahagia bisa bersama meski dalam duka. Meski aku harus menikahi waktu.
Pontianak, 13 Februari 2015

Menjumpai Bunda
di ujung fajar

Assalamuallaikum...
Apa kabar Bunda? Devdan harap Bunda selalu sekokoh biasanya, meski kerap kali penat menyinggahi tubuh Bunda yang mulai renta. Apakah Bunda masih sering menggerutu seperti biasanya? Yaa... Bunda memang selalu seperti itu, sekejap membelai namun dengan cepat berubah menjadi sosok yang tak lagi dikenali. Bunda betapa lancangnya Dev ini, belum-belum sudah mengencangkan amarah Bunda dengan tidak sopan berbicara seenaknya. Bunda tentu belum mengetahui siapa sosok yang mengirimi bunda aksara pagi ini. Karena apalah Dev ini Bunda, hanya pecahan jiwa yang terserak dari seonggok daging yang Bunda pelihara. Tumbuh lalu berkembang dan Bunda dengan terengah nafas menamainya Indra. Yaa putra Bunda yang hingga kini masih apik menyimpan lara dihati Bunda.
Namun yang kini menyapa Bunda sama sekali bukan Indra, melainkan sisi yang tidak pernah Bunda ketahui. Dev terlahir dari ketidak berdayaan putra Bunda, Indra. Sepanjang hidup, Indra bagai membawa kontak milik pandora yang membukanya hanya akan menebar bencana. Indra terus saja diam Bunda, dengan segala kebingungannya akan tingkah Bunda yang tak dapat dipahami. Karena salah-salah Bunda dengan mudah dapat meronai pipi sisi kiri Indra. Indra pernah berkata pada Dev. Bahwa bahasa seakan tak ada dalam rumah itu. Karena satu-satunya yang berhak atas segala hal adalah Bunda. Mengapa Bunda? Apa bunda mengenal siapa Indra? Selain sebagai putra yang mungkin tidak pernah Bunda sadari keberadaanya. Tenggelam bersama jingga dan menyudut bersama malam.
Bunda, Dev pertama menjumpai Indra dalam keadaan lusuh penuh luka. Menyudut di koridor lembab berbau amis yang pekat, keempat pergelangannya terkunci oleh karat. Matanya Bunda, mata yang seharusnya berbinar penuh harap itu kosong redup bahkan tak ada sayup-sayup. Bibirnya gemetar seakan ingin mengutarakan namun tak sanggup, Dev mendekat melekati tubuh Indra. Dan Indra melihat tajam kearah Dev lalu dengan diam Indra memeluk Dev begitu erat. Sesak namun Dev memahami betapa bekunya hati Indra tanpa cinta. Yang ada hanya kebencian terhadap Bunda yang tak pernah sanggup meluap. Dev berjanji Bunda, berjanji akan menjadi bibir dan lidah untuk bersuara akan rasa sakit milik Indra. Setidaknya Indra memiliki Dev untuk berbagi derita.
Bunda. Apakah Bunda masih dapat dengan fasih menyebut berapa banyak teman yang Indra bawa pulang selepas sekolah untuk Indra perkenalkan kepada Bunda secara langsung? Maka Bunda pasti akan menjawab hampir tidak pernah kan. Karena jika pun ada, teman itu bagaikan penguntit kecil. Mengikuti Indra pulang dan dengan ramah menyapa Bunda dirumah atau hanya menunggu saja didepan pintu untuk menjemput Indra beberapa saat. Karena Indra begitu takut Bunda akan menghujani pertanyaan, seperti yang Bunda lakukan terhadap Indra tanpa mengetahui alasan dari sebuah tindakan kepada yang datang. Indra juga berusaha melindungi Bunda dari sikap Bunda yang sering senaknya atau tempramen Bunda yang kerap naik turun tak menentu. Indra tak ingin Bunda dicemooh dan diperbincangkan.
Hari itu di tanggal yang luput dari ingatan. Bunda dengan lembut berbicara dari kejauhan menyapa dan menanyai kabar Indra. Tak biasanya Bunda sehangat ini, namun Indra mengabaikan segalanya lalu menimpali pertanyaan Bunda dengan jawaban senada. Perlahan Bunda meminta kalimat yang sempat tertunda dari bibir Indra. Karena Bunda mungkin akan marah dan Indra mengutarakannya, tentang kecintaannya pada ilmu. Ya.. Bunda bagai orang yang paling bijak mengusai hati mengangkat Indra dengan pepatah yang layak dibekali lalu memutus komunikasi. Tak berapa lama Bunda kembali kini mungkin dengan wajah merah padam yang terlukis dari suara Bunda di kejauhan, mencaci maki melempar mimpi seakan tak berarti lalu meludahi. Indra terdiam karena sadar bersuara pun percuma. Dev ada disana Bunda, ikut membasahi pipi mendengar Bunda berkata dan menghapusnya dari wajah Indra.
Indra tak lagi bergeming semenjak itu, sapaan ataupun tawa yang terlontar kepada Bunda hanya kepalsuan. Didalam hati Indra, Bunda adalah sosok yang meminta Indra hidup tanpa harapan untuk hidup. Selepas kembalinya Indra kekota ini, Indra berjuang untuk diakui. Bersuara berulang kali membujuk hati Bunda agar mau mengerti. Dan kembali disakiti oleh ulasan pedas Bunda yang menghakimi. Tentu Bunda tak akan sanggup ingat, karena dalam penilaian Bunda ini adalah cara menjadi dewasa namun membunuh seketika.
25 Maret 2014, diatas ranjang kamar yang pintunya terbuka Bunda menatap Indra yang tengah memandangi layar beku seusai Bunda melimpahkan amarah. Lalu dengan apik sekali lagi menghina akan apa yang tidak Bunda mengerti. Namun saat itu bukan Indra yang merajai raga, adalah Dev yang tengah melukiskan kesakitan akan apa yang baru Indra rasa dalam sebait kalimat. Dev telan getir ucapan Bunda itu sendiri, karena disana ada orang-orang yang dengan lapang menerima Indra sebagai Dev lebih dari Bunda. Berjumpa dengan teman-teman yang tidak pernah Dev ataupun Indra ceritakan. Sepetak langkah memudarkan perih yang dirasa seusai dirajam luka. Atau melenggang keluar karena rumah menjadi begitu bising dengan auman emosi Bunda yang kerap membabi buta entah dengan tema apa. Lalu kembali seperti senja diperaduan.
Dari segala perasaan kosong yang dilingkupi oleh kelabu, maka entah kapan gelap akan tersingkir hanya tinggal masalah waktu. Indra yang mungkin kini sedang sendu meratapi perilaku Bunda yang seperti ini dan itu. Namun apakah Bunda tahu? Terselip cinta akan Bunda yang tak sanggup diraba yang mungkin mata pun akan menjadi buta. Bunda ada doa untuk bunda disepertiga malamnya. Bunda, Dev meyakini setiap kali Indra melihat kotak pandora yang selalu Indra bawa masih ada harapan yang tertinggal. Masih ada harapan mimpi Indra akan menjadi mimpi Bunda pula. Indra pun masih memperjuangkan mimpi yang Bunda harapkan untuk Indra meski itu terlalu tinggi. Meski berulang kali Bunda secara sengaja membuatnya tersungkur namun Indra berusaha bangkit untuk menjejali hati Bunda dengan perasaan bangga. Karena bagaimanapun disangkal Indra adalah putra Bunda terikat oleh garis keturunan. Bunda bantu Indra, Bunda bantu Indra memperbaiki retakan didada Bunda. Bantu Dev melepas rantai yang memasung jiwa Indra. Bunda dikala raga itu mulai tak sanggup lagi menopang Bunda, Indra masih berusaha menabur cita dengan cara yang mungkin tak Bunda sangka. Bunda tak lagi banyak kata yang sanggup Dev curahkan kepada bunda. Dev berharap tak akan ada terjengan Bunda seusai sapaan Dev yang mendadak. Dev menyayangi Indra Bunda, Dev hanya ingin bunda mengerti bahwa Indra hanya berharap tuk jadi bebas namun bukan tak terkendali. Terimakasih Dev dari Indra untuk Bunda dalam secuil asa.
Wasalamuallaikum wr.wb

 Yang Selalu Menyayangi       


Devdan Dewa               


Aku yang datang mendamba sebuah kehangatan ditengah malam. Hadir menyapa dengan senyum yang tak biasa. Gemetar. Kepadamu yang tertawa bersama. Mereka yang meski juga hidup dalam gelap mampu menjadi cahaya diantara sesama. Lahir gairah tuk lebih bersama. Entah bagaimana aku jadi terpikat untuk jatuh kedalam rasa. Akan kah ini kebebasan itu?

Kebebasan yang aku cari tapi tak juga ditemui. Kebebasan yang tak pahami artinya. Hanya ingin bebas. Karena lelah telah begitu lama menghinggapi. Hingga karat hati membendung diri. Tak usah tanya karena siapa ini terjadi. Telah lama aku goreskan dalam balutan diksi. Tapi aku disini. Untuk melupakan sejenak luka pada diri. Setidaknya bersama masa yang menguap dengan canda.

Bersamanya yang benar menjadi sebuah tawa besar. Bersamanya yang jadi senyaman ini. Tapi... Mendadak kurasa berbeda. Ini terlalu dekat menjadi begitu janggal. Justru menyakitkan. Mengapa? Semakin dekat langkah mereka hanya membuatku gelisah. Menjadi tak betah. Aku meronta ingin mengurai setiap rasa yang ada. Setiap untaian kebebasan yang kucari malah jadi seperti ini. Tapi aku juga tak ingin mereka terlalu jauh dari pandang ku. Menghilang.

Ya bagaikan landak. Semakin mendekat semakin menyakiti. Hanya dapat merintih dengan air mata yang tertahan. Karena mandekatpun tak bisa. Merasa pun tak sanggup sepenuh jiwa. Lalu aku? Bagaimana? Aku masih ingin merasa bersama mereka. Tapi tak sedekat ini. Atau jadi terlalu renggang. Karena sakitnya kau juga yang merasa. Karena aku tak dapat sanggup lagi berpura bahwa aku berbeda.


Tapi mengertilah bahwa aku hanya ingin menjaga sejumput rahasia. Entah apa. Hanya ingin membaginya separuh saja kepadamu. Dan aku akan coba pahami diri yang tak biasa ini. Diri yang tak pernah benar – benar merasa nyaman dengan sesama. Duri dalam kesendirian. 
Mau berapa kali di cegah pun aku tak akan berhenti. Melukis tawa dilangit pagi. Mau berapa kali dilarang pun aku akan terus pergi. Mengamati sang mentari. Aku terduduk menangis karena sepi. Karena semua orang yang kukenal kini pergi. Pergi untuk mencari sesuap nasi. Mereka tak ingin lagi bersamaku saling berpegang erat dan mengembangkan senyum bersama. Mereka tak ingin lagi bersamaku untuk sekedar menghabiskan hari ini dengan canda.

Karena entah mengapa mereka menjadi berubah. Menjadi terlihat seperti kebanyakan orang yang tak lagi memiliki tawa yang sama. Tawa yang hanya berarti kepalsuan. Dan aku membenci mereka. Aku jadi begitu membenci mereka yang dengan mudah menjadi berubah karena waktu. Yang berotasi mengantarkan mereka pada apa yang sering disebut kedewasaan.

Entah apa yang disebut dewasa itu? Entah apa yang mereka inginkan dengan menjadi dewasa? Mengapa mereka menjadi dewasa? Aku terdiam mencari arti yang tak dapat kutemui. Kecuali. Akupun ikut menjadi bagian dari kedewasaan yang mengubah banyak dari mereka yang kukenal.

“Aku benci menjadi dewasa
Yang tak dewasa. Karena aku tak tahu artinya
dewasa”

Tapi aku menolak. Aku menyangkali kedewasaan yang kerap menghampiri. Memeluk erat aku dengan sesak. Aku menyatakan perang pada kedewasaan yang tidak mewakili aku. Karena aku membencinya. Kehilangan orang-orang yang kukenal, orang-orang yang pernah berjalan bersama. Mengubah setiap kepolosan menjadi ragam kebohongan.

Aku benci menjadi sama dengan mereka. Mengambil naskah kehidupan yang tak lagi berisikan cinta. Ya kecintaan yang begitu banyak kini memudar arti. Karena cinta menjadi soal materi. Menjadi perkara lain yang diakhiri.

Tak mengapalah jika ku hidup tanpa dicintai. Tapi aku akan terus berjalan dengan cinta. Dengan pemikiran sederhana. Bahwa hidup harus selalu sama seperti bermain. Hidup adalah senyuman. Dan hidup adalah anak-anak. Tapi aku bukan kekanak-kanakkan aku hanya menolak menjadi dewasa.


Aku ingin memandang dunia dengan caraku. Cara yang menyenangkan bagiku. Meski takut menghampiriku karena wajah-wajah bertopeng mulai melirik ke arahku. Dan menghujat dalam diam yang ku tahu. Tentang aku yang terus saja berlaku semauku. Atau. Mungkin mereka iri denganku yang tak tapat lagi menggenggam keceriaan. Karena aku seorang bocah.
Entah mengapa kau selalu menjadi jalanku untuk pulang. Meski aku telah menyebrangi arus. Meski aku berusaha pergi dari rasa lelah dihatiku. Tapi kau selalu menjadi cahaya dalam gelap. Menjadi mata untuk melihat dunia. Dunia kelam yang kurasa dapat menjadi candu. Kelam yang setidaknya dapat mengaburkan pandangan dari dilemaku. Amarah akan orang tuaku.

Tapi seketika aku ditampar oleh kenyataan. Oleh hati yang tak nyaman. Menggundah karena aku terlalu jauh melangkah. Dan kau selalu saja yang pertama terlintas dibenakku. Tentang cinta yang sekuat tenaga ku kayuh agar tetap utuh. Meski sakit didadaku ini, karena menunggu. Menunggu begitu sabar bayang-banyang dirimu yang bahkan mungkin tak akan pernah jadi milikku.

Tapi kau begitu syahdu terdengar. Meski aku tenggelam bersama dosa. Meski setiap bibir berbicara lirih untuk telingaku. Menyayat hati dengan berkata akan lakuku yang mereka anggap bodoh. Tapi aku masih disini untukmu. Aku tak anggap ini sebagai sakit. Aku tak pernah artikan getaran dihati ini sebagai luka.

Karena aku mencinta dan siap terluka. Meski kau memandangku sebelah mata. Atau menganggap aku tak ada. Tak masalah. Karena yang meraka bilang luka malah menjadi candu yang sebenarnya. Candu yang berulang kali kembali kepadamu. Cinta yang semakin kukuh bahwa Tuhan telah menakdirkan engkau untukku.

Dan ia tak rela aku berkhianat. Kepada yang tak seharusnya. Tuhan masih sayang padaku. Dengan mengrimmu tepat mengisi seluruh rongga hati. Meski aku harus berjuang untuk tetap menyayangi. Karena berulang kali aku merasa lelah. Merasa pupus mencinta. Lalu seketika mengggila.

Maafkan aku yang mendua tak seharusnya. Maafkan aku yang berusaha lari menyebrang arus. Dan maafkan aku yang telah mencoba menyelimuti kelabu di setiap ingatanku akanmu. Maafkan. Aku akan disini berdiri untukmu. Kambali menjadi aku yang setulus dulu. Karena kau rumah untukku. Karena kau kunci hatiku.


Kunci yang hanya engkau saja yang dapat membuka. Membuka rahasia yang terdapat didalamnya. Didalam diri yang telah sekian lama mencinta. Dan jelas kau hanya akan melihat cinta. Cinta. Meski beberapa berkarat karena terlalu lama. Dan membusuk karena dusta. Tapi ini cintaku. Cinta yang menumpuk untuk segera kau tahu.
Sejatinya aku telah benar-benar bosan. Mengumbar setiap kebencianku dalam paragraf-paragraf diksi. Bukan aku tak punya kebahagiaan untuk dibagi. Bukan aku tak sanggup merangkainya menjadi keceriaan diatas kertas ini. Tapi jumlahnya tak pernah sepadan akan apa yang merasuki. Jangan berkata aku tak mensyukuri hidup ini! Tapi apa yang seharusnya aku syukuri?

Apa kehidupan yang seperti ini? Yang kau pun tahu – penuh luka disetiap sendi. Aku selalu benci mengakui bahwa aku terikat. Garis keturunan yang membelenggu ini. Rumah ini sudah menjadi seperti neraka bagiku. Neraka yang menghancurkan jiwaku. Berulang kali. Aku selalu iri melihat canda yang melekat. Rasa cinta yang sesungguhnya ada. Antara kau dan dia.
                                                                                                
Dan aku hanya selalu berpura. Berpura melengkungkan senyum dihadapan orang yang berkuasa. Berpura tak terjadi apa-apa. Namun dalam hati menyimpan murka yang meradang. Kebencian yang tak berujung. Ia pun sama. Menatapku dengan tatapan hina. Memperlakukanku dengan sikap mengasihani.



Bukan aku tak mau keluar dari garis yang menyengsarakan batin ini. Tapi kemana aku akan pergi? Jika kaki ini terantai besi. Jika aku terus saja dipaksa hancur. Demi memuaskan batinnya, memperolok aku. Aku lebih baik memilih tersiksa ragawai asal jangan batin ini. Terlambat.

Luka tak akan pernah bisa terobati. Hanya terus menjadi. Jika nanti ia mendapati aku menyilangi arus. Jangan pernah tampar aku. Karena aku hanya lari, lari dari aturannya yang tak pernah mengimbangi. Karena mungkin dengan cara ini saja. Ia mau mendengar kataku.


Mendengar setiap dukaku yang selalu berakhir lirih. Dukaku yang tak pernah mau didengar karena ego diri. Atau karena kebanggaannya terhadap putra orang lain. Dan kebahagiaan yang berakhir dengan pemberontakan diri. Yang ingin dimengerti.