Showing posts with label Harapan. Show all posts
Showing posts with label Harapan. Show all posts


Sedari awal aku sudah salah dalam mencintaimu, bukan cinta ini yang salah tapi bagaimana aku mencintaimu yang rasanya kurang tepat. Sejak mula aku mencintaimu bukankah aku terlalu percaya diri untuk bertahan, terlalu angkuh untuk berdiri sendiri tanpa adanya kamu. Aku terlalu gegabah dalam merumuskan cinta dengan persamaan kuadrat yang salah dengan persamaan dan statistika yang berbeda dari kebanyakan orang.
Aku salah memulai cintai ini dengan sumpah. Sumpah aku hanya mencintai kamu dalam hidupku terlontar semudah menuangkan segelas air kedalam bejana. Aku memang tak salah memilih cinta tapi aku terlalu sembrono mengikatnya dengan ikrar para petua. Lalu nyatanya aku memang hanya mencintai kamu, hidup bersama cinta yang kini hendak mencapai satu dasawarsa. Begitu panjang jika aku uraikan dalam bentuk bulan, hari atau terlebih dalam satuan detik tentang berapa lama sumpah itu mengena padaku.
Lalu lidah ini kelu, merasa emosi diatas dada lantas aku mengutuk. Aku lantas mengutuki diri bahwa aku sanggup mencintai dengan cara ini. Bahwa ini adalah jalan yang telah dengan sengaja kutoreh untuk mencintaimu, faktanya aku berulang kali terluka, berulang kali patah hati, juga pernah merasa dikhianati tapi sumpah aku masih tetap mencintaimu sampai detik ini.
Ahhh... kukutuki diri karena tidak pernah berpaling darimu. Bersiap patah hati berkali-kali, tapi bangkit lagi seperti zombie. Aku hidupi cinta ini dengan rasa sakit, semakin kencang degupnya ku nilai lebih baik, semakin terluka semakin asyik. Padahal aku ini rapuh terlalu mencintai dengan hanya menggunakan naluri, sekejap hati menyebut namamu lalu ia mentrasmisikannya ke otak lalu menterjemahkannya lewat bahasa bahwa ini cinta.
Tapi aku lupa dalam doa. Bagaimana jika sedari awal aku lebih kuat dalam doa? Apakah cinta juga akan tertoreh didalam buku takdir kehidupan milikku? Maka akan beda ceritanya jika selalu kusemat namamu dalam sepertiga malamku, menyanyikanmu lewat shalawat dan dzikir sebelum tidurmu. Jika demikian maka aku hanya akan menekan tombol deletnya saja, menghapus sumpah dan kutukan sedari awal.
Seharusnya ini menjadi cinta yang merindu lewat doa.
Seharusnya ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya.

Ini cinta ...





Salam dari pemilik malam, ia yang memeluk rembulan. Jemari yang penat menuliskan kalimat fatamorgana, tubuh yang lemas karena rutinitas mahasiswa. Aku tak akan berjaya menghadapi mu. Aku tak akan sanggup menyuguhimu, karena hingga kini aku masih tersauk-sauk mengimbangi.

Dari angin yang membawa udara segar, aku hadirkan dengan bahasa sederhanya hanya agar kamu mengerti. Tapi kamu langsung menyudahi, tak lagi berarti. Bagai rintik yang menjadi badai, lalu beliung meluluh lantakkannya, hati itu hancur tanpa sisa karena porah-poranda.

Demi cinta yang tercipta dari ingatan. Aku sesajikan persembahan terakhir lari cambuk waktu yang kian sulit berkecamuk. Mengharap bagai peminta-minta, mengemis karena tak punya. Namun apa daya simpati pun tak dapat, hanya menatap dengan harap.







Ahhh kamu...
Selalu membuatku bergidik, membuat lututku lemas. Karena entah mengapa semua seperti terputar ulang kembali dikepalaku. Padahal tak banyak hal yang terjadi. Tapi ketika memoriam itu kembali kamu suguhkan segalanya bak tsunami. Tenang sesaat lalu menghempasku dari segala arah.
Haii Oktober.
Ini pertemuan kita yang kesepuluh, setiap tahunnya kita berjumpa dan merayakan sebuah pertanda khusus. Entah dalam kategori suka cita atau duka. Kita sebenarnya tidak dapat mendefinisikan perayaan yang seperti apa itu. Namun kamu tahu, disetiap tahunnya aku selalu bangga. Bangga juga karena dapat mengunjungi kamu setiap tahunnya. Dan bahagia meski gadis itu tak menyadari atau berpura tak ingin mengetahui aku selalu menemui kamu pada tanggal itu.
Namun Oktober, akankah kamu merindukan aku? Jika tahun berikutnya aku tak lagi menyapamu. Tak lagi dapat merasa getir ketika kan datang kamu dipenghujung September. Ketahuilah Oktober mungkin ini juga sebuah perayaan perpisahan. Aku tak lelah tak akan pernah, jika hendak mencintai dia. Namun batasan itu semakin jauh.
Kamu akan tahu, kamu akan mungkin lebih mengiba dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu temani aku sebentar lagi. Tunggu semua kan ku jabarkan dalam hari ke 28 milikmu seperti biasa. Diamana akan tumpah bahasa lewat sebuah surat yang tak pernah dibaca. Meski kan usang, meski kutu-kutu kan menggerogoti sudut kertasnya, namun selalu ada kamu, Oktober yang menjadi saksi.
Entah, entah, entahlah Oktober. Gadis itu selalu membuatku bagai terkena kutukan medusa, membatu bahkan sebelum melihat matanya. Gadis itu selalu membuatku jatuh cinta sebelum cupit memanahku. Oktober tidak hanya praha sepuluh tahun lalu, kamu bahkan mengetahui rahasia mengapa aku selalu ingin berada diumur 8 tahun. Kamu masih ingatkan? Pastinya, karena kamu selalu dengan tenang mendengarkanku bercerita di hari itu lewat “Aniversary of Love” setiap tahunnya.
Oktober aku akan selalu mengingat sejarah panjang ini, Oktober maaf jika aku harus berakhir. Bukan karena ku ingin namun aku harus segera mengakhiri. Maaf Oktober.


Jika mencintaimu itu punya dua hari libur sama seperti orang yang bekerja. Maka biarkanlah hati ku ini beristirahat sekejap dari luka. Dari rasa yang ia tahan setiap hari, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta setiap saat dan melenyapkan rasa sakit sejenak. Iya juga mungkin butuh bernafas, jatungku juga hendak berdetak normal dan hatiku ingin merasa perasaan lain.

Gila....
Mengapa memilih untuk jatuh cinta? Jika kamu lelah campakkan saja. Benturkan saja dahimu itu pada bantalan yang keras, biar amnesia. Solusi instan melupakan prahara bagi penggiat yang tak setia.

Jika demikan untuk apa aku jatuh cinta, meminta libur untuk merasakan bahwa hari-hariku memang tak berjalan bahagia. Apa aku hendak juga meratapi, mengapa cinta ditakdirkan Tuhan seperti ini? Maka aku akan berada didestinasi yang membuat iri, memeluk angin menggenggam sepi. Membelalak mata bahwa disetiap sudut kota banyak pemuda-pemudi melancarkan aksi yang bikin iri.

Lalu ketika senin mulai tiba?
Ketika senin merotasi dirinya setiap saat, apakah aku juga akan membenci senin? Jika kamu merasa demikian, maka setiap saat kamu hanya meratapi. Membenci ketetapan Allah karena sejatinya kisah cintaku ini lebih indah dari setiap kata yang telah kurangkai mungkin lebih haru dari dilema yang telah kamu bagi untuk diceritakan. Karena bagaimanapun cintamu adalah ketetapan Tuhan telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz bahkan jauh sebelum kamu dilahirkan.

Maka berhentilah...
Kamu tak perlu hari sabtu, karena sedari awal aku telah berikrar bahwa rasa sakit ini adalah cara terbaik untuk mencintai. Adalah bagian yang sengaja kupilih untuk memiliki, meski pada akhirnya yang mengerti hanya aku dan kamu diriku.

Sedari dulu memang seperti ini, hanya yang mengerti dualisme yang dapat membaca tulisan ini.
Aku mendamba seseorang untuk dapat saling berbagi kasih bersamaku. Aku lebih dari mengharapkan seseorang hadir sebagai penawar rindu. Dari cinta yang tak tahu kemana akan singgah. Tapi aku bukan pengobral cinta. Menawar hati lewat senyuman. Aku bersungguh ingin mencinta dan merasa dicinta. Aku pernah merasa tapi aku tak yakin itu cinta. Hanya tubuh yang sempat kuserahkan padanya.

Aku juga pernah merasa di sakiti hatinya. Merana karena telah begitu percaya namun ditinggal dipenantian. Atau berujung diam yang mulanya aku tak tahu akan berakhir hingga kapan. Hanya aku yang terus mengetuk pintu hatinya dan sesekali berbisik ditelinganya. Agar ia sudi memalingkan wajahnya menatap aku. Namun lagi aku ditinggal sendiri menanti dengan gelisah yang menggantung. Apa aku salah? ataukah aku ini memang tak layak dicintai?

Tapi aku justru tak tahu apa itu cinta ketika merasa memilikimu. Apakah setiap cinta akan selalu menyakiti? Apakah cinta adalah derita yang berbeda rupa? Tapi mengapa semua selalu mengagunggkan cinta. Merasa bahwa cinta dimata pujangga adalah surga. Aku hanya ingin mencintai bukan menyakiti. Namun mengapa segala daya yang kulakukan selalu berujung luka didadamu. Awalnya aku hanya ingin dimanja oleh tingkahmu. Namun yang terjadi aku yang menyakitimu lewat laku ku.

Dan ini amarah terbesar didirimu yang meluap karenaku. Lalu seketika membuatku takut kehilanganmu. Juga takut kembali menyayat hatimu esok. Ketika semua telah mereda, ketika semua telah terlihat kembali seperti semula. Hanya sebatas mata. Karena jelas dihatimu menyisa bekas luka karena kau terhina oleh kataku. Meski maaf terlontar namun tak cukup menjadi penawar. Entah memperparah atau malah sebaliknya.

Ah! Mencinta ternyata lebih sulit ketimbang menguraikannya lewat bahasa. Ketimbang berandai tentang ilusi cinta. Namun membangunnya dibayangi rasa bersalah. Kini aku diam dan dia juga sama menyimpan diam. Aku menjadi takut bersuara. Takut lidah ini terlalu tajam mengoyak rasa. Padahal aku hanya ingin mencinta. Takut jemari ini salah merangkai kata. Padahal aku hanya ingin bercengkrama.


Sakiti aku jauh lebih baik ketimbang menyakitimu. Melihatmu terluka dan terpapah karenaku. Aku jadi tak punya daya hanya sesal yang menyesaki dada. Tapi bertahan berapa lama? Sampai semua jadi hambar kah? Sampai cinta kita berubah menajdi benci kah? Atau cinta memang selalu seperti ini. Diselingi rasa yang tak dapat kumengerti. Aku sudah takut berandai jika hanya pandai berkata. Lalu membenci cinta itu sendiri. Cinta tak pernah selesai walau ku melarikan diripun terlahir kembali. Cinta tak pernah selesai lewat kata. Cinta tak pernah usai dengan merasa.
Pernahkah kita mencintai?
Merasakan dada berdebar tak menentu lantas tingkah menjadi gelisah tak karuan. Bagaimana kita menikmati pemberian terbesar yang diberikan Tuhan untuk kita? Bagaimana kita mencintai cinta? Bagaimana dengan sakit hati, karena sepertinya rasa sakit karena mencintai mengiringi puisi para pujangga yang bangga akan cinta.
Apakah cinta memiliki jenis?
Banyak pertanyaan yang menyertai tulisan ini. Aku rasa cinta itu sama saja. Cinta sebenarnya tak terdefinisikan dengan satu kesepahaman. Selalu punya cara tak terduga untuk datang menuju hati yang senyap. Cinta. Tak mampu tersimbolisasikan dengan satu tanda. Terkadang cinta juga punya cara yang tak dapat diprediksi menggoncang hati dengan prahara.
Meski demikian cinta juga punya bahasa yang indah untuk dimengerti. Pianist hujan mulai bermain dengan pelan membawakanku concerto milik schubert lagu sedih yang menyamarkan mata yang basah dibawah deras hujan. Menekan setiap window di pianonya. Berfikir mengapa bagaimana cinta sebenarnya. Sehingga aku tersadar cara terbaik untuk mencintai adalah dengan mencintai diam-diam.
Meski mencintai diam-diam selalu berbanding lurus dengan kemungkinan kekecewaan yang didapat. Walau kita harus menyiapkan diri mendapat cinta diam-diam pula atau penolakan yang diam-diam. Tapi rasanya sepadan, karena mencintai diam-diam seperti setan pengutit kecil mengendap-endap berusaha mencuri peluang untuk luruh. Rasanya mencintai dengan cara ini sebanding. Kerena tak akan ada yang terluka, tidak akan ada air mata karena merasa dikecawakan. Atau terkadang akan merasa jenuh ketika cinta mulai menunjukkan kebosanan.
Mencintai dengan diam-diam entah sejak kapan menjadi pilihan ketika cupit membrondongku dengan selusin anak panah. Cupit itu terkadang juga bodoh memanahku dengan cinta tapi ia lupa memberikan ku penawar ketika terluka. Cupit itu mengesalkan, seenaknya saja menjadikanku bidikkan dari sasaran empuknya. Cupit itu tolot, karena acap kali salah sasaran melepaskan panah pada makhluk yang tak semestinya.
Tapi meski ia membantuku untuk belajar sabar dan memahami tentang cinta, lalu bagaimana bisa mereka juga tidak mencoba untuk mencintai diam-diam saja. Dari pada harus berpura-pura mencintai memadu kasih dengan orang lain tapi hati terpaut dengan batin. Cinta yang tak tersingkronisasi seperti itu yang malah bikin manusia banyak sakit hati.
Mencintai diam-diam membuat hati sekuat apa?
Tak ada yang tahu kuatnya hati hanya kita yang pandai-pandai menerka isi hati, bahwa nanti kita harus menyiapkan diri dari kemungkinan kehilangan terkasih. Terkadang mencintai diam-diam membantu menjaga harga diri tak lantas rubuh ketika topan dan tsunami menghantam.
Karena sebuah hubungan yang baik-baik saja pada awalnya akan menjadi berubah atmofer ketika cinta menyuara.Rotasi bumi bisa saja berbalik memuntahkan kata yang tak semestinya. Tatapan polos anak kecil akan menyertai, takut terulang takdir dimasa depan.
Mencintai dengan cara ini pecundang pun layak jatuh cinta. Dengan cara ini alfabet tak lagi sendiri, karena akan ditemani temaram senja melihat dunia diluar sana meski hanya dengan imaji yang tersaji lewat sekelumit bahasa sederhana. Mencintai diam-diam pelakunya bukan tak mengerti resiko mencintai, bukan lari dari kenyataan. Tapi mencintai diam-diam teriring harapan tersemat perasaan yang sanggup membuat malaikat mematahkan sayapnya.
Langkah memutari mencari untuk mengetahui bagaimana cara ini menjadi begitu ampuh untuk dilakukan. Terkadang hati tak sejalan dengan jemari ketika bahasa telah terbawa keduania berbeda.

Mencintai diam-diam menjadi syarat yang tak terbantahkan bagi sebagian manusia yang terlanjur jatuh cinta namun tak memiliki daya untuk menyuarakan. Menimbang dengan sedemikian agar ikatan tak putus ditengah jalan. Mencintai diam-diam memaksa pelakunya mengerti bahwa ada cinta yang sebaiknya tetap menjadi rahasia...

Aku tak punya tempat ...
Ketika jantung ku memompa lebih cepat dan meminta oksigen beredar lebih sering. Aku hanya kalap. Dada menjadi sesak, tak tahu harus kuluapkan kemana. Hanya dapat kutuang lewat narasi yang tak begitu apik. Sederhana. Bahkan kamu bisa bilang ini berantakkan, karena terkadang tak mengindahkan keadah bahasa.
Aku mengedar bersama rintik hujan. Pipiku basah sama seperti bumi yang becek. Hatiku mencinta terbagi menjadi dua serambi. Namun aku selalu terlambat, terlambat menyimpan rasa, terlambat menyadarinya dan terlambat untuk ku ungkap.
Hingga menjadi diam!
Tak terungkap. Aku bukan orang yang baik, jika hendak pergi maka pergi lah. Jika terlalu takut aku terluka aku sudah terluka bahkan sebelum memulai mencinta. Aku mencintai seseorang yang tak lagi dapat mencintai. Hatinya telah tawar bahkan untuk orang yang mencintainya sampai kadar setengah mati, memintaku untuk menunggu sampai jantungku ikut mati rasa agar cinta segera kadaluarsa.
Tapi aku tak bisa. Meski hati tak lagi bernyawa tapi jantungku bersikukuh sekeras baja. Ku letakkan dalam toples kaca, lalu ku serahkan padamu. Meski ku tahu ia akan percah, jantungku tak banyak bicara ketika ku cerabuti belingnya. Diam. Meski ia tertatih ia tetap ingin bertahan.
Sampai kapan?
Cinta tak punya batas waktu. Karena cinta bahkan tak bisa terdefinisi dengan sebuah kesepahaman. Cinta itu kamu juga tahu, lebih rumit ketimbang persamaan kuadrat. Lebih candu dari pada psikotropika yang salah tempat.
Aku tak minta pendaran pelangi. Menjadi hitam dibalik terangmu adalah keabsahan bagiku. Bahkan satuan jarak tak lagi kupersoalkan. Kamu akan jadi milikku. Bersua denganmu, menenun tawa dan tangis dalam satu rupa. Sambut aku dalam keriuhan dunia.

Lewat imajiku semata.
Sedetik aku terdiam, lupa bagaimana mencinta.
Sekejap aku tersihir oleh waktu, yang membawa pesona.
Seketika aku tersadar, ini adalah masa yang sama.
Bumi telah membawaku kemasa untuk mengulang kembali
Ingatan tentangmu


Aku bingung hendak memulai kalimat seperti apa. Tak ada hal yang dapat ku torehkan sebaik ketika aku sedang dimabuk cinta seperti dulu. Hendak membuatnya sebagai bagian yang panjang atau singkat saja. Jujur pandangan akanmu mulai kabur dalam ingatan. Degup jantung itu tidak lagi dipaksa memompa diluar kemampuannya, seperti berhibernasi ia memainkan dengkuran yang lembut ketika bisik menyebut namamu. Aku jarang meminta angin membawa gumamku keujung ketelingamu. Apa aku telah mati rasa?

Namun kamu merupakan gadis pertama yang kokoh tegak didalam hatiku, seakan tak mau terganti atau aku yang malas hendak mencari pengganti. Tak ubahnya barang usang mungkin cintaku juga diselubungi karat dan debu tebal yang menyelimutinya. Jika aku bertanya hendak ku tuliskan kamu dalam bentuk apa dengan tekanan seperti apa atau kemiringan yang bagaimana? Mungkin kamu hanya tertegun diam. Kamu bukan orang yang suka dengan keabstrakkan seperti ini. Membuatmu merasa nyaman atau menjadi orang yang nyaman untukmu itu sulit karena berapa kali dicobapun aku ini lelaki yang kaku.

Kini aku sulit menggambarkan kamu dalam situasi seperti ini. Kamu yang seakan memutus mata rantai yang bermula dari kebetulan. Kebetulan karena kita sama-sama dimasukkan kesekolah yang sama. Tapi aku menyebutnya sebagian dari takdir, karena kenagan itu terbawa sebegitu apik olehku hingga aku mengenal cinta untuk pertama kalinya. Mengusik setiap rusukku karena jantung ini selalu saja bedetak kencang. Hingga 3 tahun lalu kamu merubahnya menjadi perpisahan, lari dari kenyataan bahwa aku telah cukup lama menjajaki cinta dalam bentuk diam. Aku salah memasuki hatimu lewat kata sahabat. Aku salah karena telah menyudahi pertemuan sebagai bukti keterikatan kita.

Hari ini sembilan tahun dari masa pubertas yang penuh keberatan, angkuh dengan rasa kepemilikan dalam hati akan kamu. Bebal dengan segala jejal teman-temanku untuk segera menyudahi menyakiti diri. Kini kamu yang melakukannya lewat waktu. Kini aku semakin terbiasa tanpa patahan kata lewat pesan singkatmu. Meski aku belum sanggup untuk benar-benar menyudahi ini dengan menautkan hati pada gadis baru. Namun aku tetap bahagia diatas bahagiamu meski imam-mu bukan seperti imajiku.

Rotasi waktu membuatku menemukan cinta yang sedikit berbeda. Kini aku memilih menjadi bayang untuk seseorang, menjadi bagian yang bersamanya aku ingin terus tumbuh menjadi variabel yang terpisah. Karena takdir hingga zaman berakhir tak akan mengizinkannya. Iya tak ubahnya sama dengan kamu mendapat perlakuan luarbiasa dari hatiku. Karena aku tak tahu mengapa aku mencintainya atau mengapa aku memilihnya. Seperti sekumpulan nama acak yang terpilih begitu saja tanpa alasan yang jelas. Aku memilih menjadi bayang untuk cahaya yang cukup bersinar. Meski gelap namun bayang akan semakin pekat bersama cahaya yang benderang.


Sembilan tahun diantara kita. Kebersamaan yang sepihak seperti ini rasanya memang sunyi. Namun tanpa terasa waktu tersuguh begitu-begitu setiap kali. Aku menaruh harapan kecil tak mau lagi sesumbar agar tahun depan dapat menghadiahi kamu dengan secarik kalimat. Tahun demi tahun hingga aku berhenti ketika ku temukan ia yang sanggup melengkapiku.
Aku mendengar samar dari kejauhan. Namun aku hanya diam. Mungkin hanya telinga yang sedang tidak berfungsi dengan benar. Fikirku. Lalu kembali asyik dengan sunyi dan memeluk hangat sang sepi. Karena aku memang sedang sendiri. Menawar hati yang sempat teracuni. Tapi jangan tanya penyebabnya. Kerena kau tahu jawabnya.

Ku dengar lagi bisik itu. Kini sedikit lebih keras mengganggu diamku. Tersentak dari segala lamunan. Ku melirik dengan sedikit enggan tapi seketika ku sambut dengan senyuman. Kalimatmu perlahan meneduhkan mataku. Lalu terus-menerus merasuk mencuri nyamanku. Karena rupanya kau disitu, memperhatikanku dari sisi yang tak ku tahu.

Ternyata kau ada disekitarku. Hanya aku saja yang seakan buta denganmu. Lalu selanjutnya waktu membawa kita bertemu. Karena ku rasa nyamanku sudah menjadi milikmu. Sadarkah engkau? Bahwa tak sekejap pun mataku terlepas dari memandangi bola binaran milikmu. Jika ya, aku hanya tidak ingin kau sadari bahwa aku melakukannya dengan hati. Bahkan suara kita tak pernah berhenti bersautan. Ini aneh. Karena aku tak pernah selepas ini. Tak pernah senyaman ini.

Tapi kau melakukannya dengan apik. Aku rasa segala tentangmu membekas padaku. Lalu membuatku enggan melepasmu. Entah mungkin ini terlalu cepat terucap. Tapi aku ingin memungut kembali kesucian yang telah kubuang karena benci. Tapi bukan tentangmu.


Meski mungkin sulit tuk kembali. Tapi aku akan memberikannya padamu sebagai pembuktian diri. Maka dari apa yang telah tersisa dihati. Maukah kau menjadi makmum? Menarik aku dari gelap dan kembali menghidupkan raga tanpa jiwa lewat cinta. Sudikah?
Pontianak, 13 Februari 2015

Menjumpai Bunda
di ujung fajar

Assalamuallaikum...
Apa kabar Bunda? Devdan harap Bunda selalu sekokoh biasanya, meski kerap kali penat menyinggahi tubuh Bunda yang mulai renta. Apakah Bunda masih sering menggerutu seperti biasanya? Yaa... Bunda memang selalu seperti itu, sekejap membelai namun dengan cepat berubah menjadi sosok yang tak lagi dikenali. Bunda betapa lancangnya Dev ini, belum-belum sudah mengencangkan amarah Bunda dengan tidak sopan berbicara seenaknya. Bunda tentu belum mengetahui siapa sosok yang mengirimi bunda aksara pagi ini. Karena apalah Dev ini Bunda, hanya pecahan jiwa yang terserak dari seonggok daging yang Bunda pelihara. Tumbuh lalu berkembang dan Bunda dengan terengah nafas menamainya Indra. Yaa putra Bunda yang hingga kini masih apik menyimpan lara dihati Bunda.
Namun yang kini menyapa Bunda sama sekali bukan Indra, melainkan sisi yang tidak pernah Bunda ketahui. Dev terlahir dari ketidak berdayaan putra Bunda, Indra. Sepanjang hidup, Indra bagai membawa kontak milik pandora yang membukanya hanya akan menebar bencana. Indra terus saja diam Bunda, dengan segala kebingungannya akan tingkah Bunda yang tak dapat dipahami. Karena salah-salah Bunda dengan mudah dapat meronai pipi sisi kiri Indra. Indra pernah berkata pada Dev. Bahwa bahasa seakan tak ada dalam rumah itu. Karena satu-satunya yang berhak atas segala hal adalah Bunda. Mengapa Bunda? Apa bunda mengenal siapa Indra? Selain sebagai putra yang mungkin tidak pernah Bunda sadari keberadaanya. Tenggelam bersama jingga dan menyudut bersama malam.
Bunda, Dev pertama menjumpai Indra dalam keadaan lusuh penuh luka. Menyudut di koridor lembab berbau amis yang pekat, keempat pergelangannya terkunci oleh karat. Matanya Bunda, mata yang seharusnya berbinar penuh harap itu kosong redup bahkan tak ada sayup-sayup. Bibirnya gemetar seakan ingin mengutarakan namun tak sanggup, Dev mendekat melekati tubuh Indra. Dan Indra melihat tajam kearah Dev lalu dengan diam Indra memeluk Dev begitu erat. Sesak namun Dev memahami betapa bekunya hati Indra tanpa cinta. Yang ada hanya kebencian terhadap Bunda yang tak pernah sanggup meluap. Dev berjanji Bunda, berjanji akan menjadi bibir dan lidah untuk bersuara akan rasa sakit milik Indra. Setidaknya Indra memiliki Dev untuk berbagi derita.
Bunda. Apakah Bunda masih dapat dengan fasih menyebut berapa banyak teman yang Indra bawa pulang selepas sekolah untuk Indra perkenalkan kepada Bunda secara langsung? Maka Bunda pasti akan menjawab hampir tidak pernah kan. Karena jika pun ada, teman itu bagaikan penguntit kecil. Mengikuti Indra pulang dan dengan ramah menyapa Bunda dirumah atau hanya menunggu saja didepan pintu untuk menjemput Indra beberapa saat. Karena Indra begitu takut Bunda akan menghujani pertanyaan, seperti yang Bunda lakukan terhadap Indra tanpa mengetahui alasan dari sebuah tindakan kepada yang datang. Indra juga berusaha melindungi Bunda dari sikap Bunda yang sering senaknya atau tempramen Bunda yang kerap naik turun tak menentu. Indra tak ingin Bunda dicemooh dan diperbincangkan.
Hari itu di tanggal yang luput dari ingatan. Bunda dengan lembut berbicara dari kejauhan menyapa dan menanyai kabar Indra. Tak biasanya Bunda sehangat ini, namun Indra mengabaikan segalanya lalu menimpali pertanyaan Bunda dengan jawaban senada. Perlahan Bunda meminta kalimat yang sempat tertunda dari bibir Indra. Karena Bunda mungkin akan marah dan Indra mengutarakannya, tentang kecintaannya pada ilmu. Ya.. Bunda bagai orang yang paling bijak mengusai hati mengangkat Indra dengan pepatah yang layak dibekali lalu memutus komunikasi. Tak berapa lama Bunda kembali kini mungkin dengan wajah merah padam yang terlukis dari suara Bunda di kejauhan, mencaci maki melempar mimpi seakan tak berarti lalu meludahi. Indra terdiam karena sadar bersuara pun percuma. Dev ada disana Bunda, ikut membasahi pipi mendengar Bunda berkata dan menghapusnya dari wajah Indra.
Indra tak lagi bergeming semenjak itu, sapaan ataupun tawa yang terlontar kepada Bunda hanya kepalsuan. Didalam hati Indra, Bunda adalah sosok yang meminta Indra hidup tanpa harapan untuk hidup. Selepas kembalinya Indra kekota ini, Indra berjuang untuk diakui. Bersuara berulang kali membujuk hati Bunda agar mau mengerti. Dan kembali disakiti oleh ulasan pedas Bunda yang menghakimi. Tentu Bunda tak akan sanggup ingat, karena dalam penilaian Bunda ini adalah cara menjadi dewasa namun membunuh seketika.
25 Maret 2014, diatas ranjang kamar yang pintunya terbuka Bunda menatap Indra yang tengah memandangi layar beku seusai Bunda melimpahkan amarah. Lalu dengan apik sekali lagi menghina akan apa yang tidak Bunda mengerti. Namun saat itu bukan Indra yang merajai raga, adalah Dev yang tengah melukiskan kesakitan akan apa yang baru Indra rasa dalam sebait kalimat. Dev telan getir ucapan Bunda itu sendiri, karena disana ada orang-orang yang dengan lapang menerima Indra sebagai Dev lebih dari Bunda. Berjumpa dengan teman-teman yang tidak pernah Dev ataupun Indra ceritakan. Sepetak langkah memudarkan perih yang dirasa seusai dirajam luka. Atau melenggang keluar karena rumah menjadi begitu bising dengan auman emosi Bunda yang kerap membabi buta entah dengan tema apa. Lalu kembali seperti senja diperaduan.
Dari segala perasaan kosong yang dilingkupi oleh kelabu, maka entah kapan gelap akan tersingkir hanya tinggal masalah waktu. Indra yang mungkin kini sedang sendu meratapi perilaku Bunda yang seperti ini dan itu. Namun apakah Bunda tahu? Terselip cinta akan Bunda yang tak sanggup diraba yang mungkin mata pun akan menjadi buta. Bunda ada doa untuk bunda disepertiga malamnya. Bunda, Dev meyakini setiap kali Indra melihat kotak pandora yang selalu Indra bawa masih ada harapan yang tertinggal. Masih ada harapan mimpi Indra akan menjadi mimpi Bunda pula. Indra pun masih memperjuangkan mimpi yang Bunda harapkan untuk Indra meski itu terlalu tinggi. Meski berulang kali Bunda secara sengaja membuatnya tersungkur namun Indra berusaha bangkit untuk menjejali hati Bunda dengan perasaan bangga. Karena bagaimanapun disangkal Indra adalah putra Bunda terikat oleh garis keturunan. Bunda bantu Indra, Bunda bantu Indra memperbaiki retakan didada Bunda. Bantu Dev melepas rantai yang memasung jiwa Indra. Bunda dikala raga itu mulai tak sanggup lagi menopang Bunda, Indra masih berusaha menabur cita dengan cara yang mungkin tak Bunda sangka. Bunda tak lagi banyak kata yang sanggup Dev curahkan kepada bunda. Dev berharap tak akan ada terjengan Bunda seusai sapaan Dev yang mendadak. Dev menyayangi Indra Bunda, Dev hanya ingin bunda mengerti bahwa Indra hanya berharap tuk jadi bebas namun bukan tak terkendali. Terimakasih Dev dari Indra untuk Bunda dalam secuil asa.
Wasalamuallaikum wr.wb

 Yang Selalu Menyayangi       


Devdan Dewa               


Kau kembali berulah. Kembali menghilang tanpa jejak langkahmu. Menghilang tanpa pernah meninggalkan sisa bayangmu yang terpantul mentari. Entah jalan mana yang kau ambil. Hingga engkau begitu apik bersembunyi dalam ironi. Kau juga jadi seketika membisu. Terdiam karena hening ini menyaru dengan geliat lakumu. Lalu aku? Hanya dapat mengerutkan dahi tak mengerti. Dan seketika tersadar akan sesuatu.

“Apakah hening ini kerena ku?”

Karena lalu ku ungkap rasaku. Karena itukah? Tapi mengapa kau mundur lalu berbalik meninggalkan aku? Aku paham betul dimana aku berada. Aku sadar dimana kau letakkan aku didirimu. Takut kah engkau menyakitiku? Bodoh! Aku berteriak keras karena kau tak mengerti. Atau sekedar mencoba memahami. Karena aku yang memintanya. Karena aku yang menginginkannya. Rasa sakit ini.

Lalu kenapa kau mencoba untuk mengobatinya? Yang ternyata. Hanya memperdalam lukanya. Aku berkata karena aku sudah begitu lama menyimpannya. Dan seketika meluap menumpahkan sejuta bahasa. Hanya agar kau mengetahui. Bukan memaksamu untuk aku miliki. Meski nyatanya aku tak sanggup bertindak berpura. Aku tak bisa menyimpan hasrat untuk mencintai. Tapi biarlah sakit ini menjadi teman abadi.

Meski tak banyak memori tercipta tentangku didirimu. Atau sebaliknya. Tapi biarkan aku juga terus dapat mendengar tawamu meski bukan bersamaku. Atau menjadi sakit karena air matamu. Walau bukan tentang aku. Bolehkan?

“Menunggumu adalah caraku
untuk dapat terus mencintai hatimu yang beku”


Aku bisa saja berbelok menyilang arah. Aku bisa entah kapan berlari dan tersesat. Dan aku dengan mudah dapat merangkul yang salah. Tapi tak kau lihatkah dimana aku berada? Dengan siapa aku tertawa bersama. Saling menggenggam erat bersahabat. Mengembangkan keceriaan yang tersirat. Merasa bebas. Tapi bukan tak terkendali.

Namun tak juga hanya membuang masa. Menyisakan penyesalan dimasa tua - itu bukan gayaku. Dan kau tahu itu. Melihat cahaya harapan didalam kedua bola yang redup. Lalu mengisinya dengan seberkas impian. Impian yang mungkin hanya sekedar angan. Tapi tak mengapa karena dari satu mimpi kami bermula. Membuat harapan terakhir itu menjadi nyata. Meski terkadang harapan itu harus kandas. Terkubur bersama air mata kesedihan dan kenangan yang tak dapat dilupakan.

Tapi kami hanya manusia. Yang selayaknya berencana. Lalu biarkan lah kami menyeka tagis yang mengema cukup lama. Dan mulai mengembara diantara mereka yang juga bernasib sama. Masih kaburkah pandangan mu? Masih tak terlihatkah karena matamu terselimut kabut kelabu? Maka raih tanganku. Rasakan apa yang tak dapat kau lihat dengan kedua matamu. Rasakan kataku.

Maka kau akan tahu dimana tanah yang ku pijak kini. Dataran yang tak rata dari bumi yang menenggelamkanmu dengan harta. Dunia yang hanya berisi keambisian yang hampa. Cara yang sebenarnya berbeda dari kebanyakan orang kini ku lakukan. Saat ini ku belajar. Bahwa dunia bukan tentang harta. Dunia bukan bagaimana kita tersenyum bersama kesombongan dengan apa yang kita punya. Dan juga bukan tentang kebohongan yang menjelma.

Ini adalah dunia milik kita termasuk kau dan aku. Yang layak untuk diperjuangkan. Yang layak bertindak dengan hati. Kecintaan. Meski terkadang logika mengambil alih. Dan ini juga dunia yang tak hanya berisi sejumput manusia. Ini dunia yang ramai dengan sesama. Sesama yang juga tak semua bernasib sama. Lalu tak ingin kah engkau merangkul mereka dalam satu jalinan yang ada. Karena kau pun mengerti bagaimana kita tak akan pernah dapat hidup tanpa mereka. Jika kau kata ya. Hidupmu hampa penuh kesendirian yang menyudutkan.


Karenanya meski berulang kali kau cegah. Meski berulang kau berkata tidak. Aku jadi semakin ingin. Aku jadi semakin jauh lebih ingin bersama mereka. Mereka yang meletakkan kecintaan mereka pada sesama. Meski terkadang aku harus bergulat dengan waktu atau sesekali beradu mulut dengan mu. Aku tetap berada di sisi mereka. Karena disini aku temukan duniaku. Dunia yang penuh kehangatan. Kehangatan yang ku sebut rumah.
Bagaimanapun aku tetap seorang istri. Aku tetap makmum seorang suami. Hanya tak kau ijab kabuli aku secara resmi. Tak pula kau pernah pinang aku selayaknya permaisuri. Aku tetap seorang istri yang  mencintai dengan hati. Dan aku juga seorang istri yang ingin mendapatkan sakinah. Ketengan hati yang bukan tak ingin kau bagi. Melainkan sebuah keadaan dimana kita telah sama-sama tahu tentang diri. Bahwa kita hanya mendustai hati dengan ucapan manis. Karena nyatanya ikatan kita dipeluk oleh benteng penghalang. Sosial atau kodrat yang terus dielu-elukan.

Meski tak dapat dipungkiri ini bukan cinta yang suci. Meski tetap sakinah yang dicari. Dan sakinah tak akan mungkin terjadi jika hanya antara kau dan aku yang meyakini. Jika yang lain terus saja tak akan mampu meridhai. Jika pun berakhir dengan mengikhlaskan maka ini akan jadi perjalanan yang panjang. Tak akan mungkin terarungi dengan deburan yang tenang.

Lalu bagaimana? Meneruskan diri dengan kebimbangan yang menanti? Melanjutkan dan memilih mengarungi atau terombang – ambing tentang diri. Aku pun tak dapat memilih. Tapi aku juga ingin mendapatkan sakinah. Karena setiap istri berhak mendapatkannya. Karena seorang istri entah baagimanapun itu adalah seorang istri.

Walau tak dapat dipungkiri kau acap kali memberiku mawaddah dan warohmah. Namun apakah tak mengapa, aku mendapatkan mawaddah dan warohmah lebih dini? Kasih dan sayang yang tak dapat ku ragukan lagi. Rasa yang sanggup membuatku merasa tenang sejenak. Tak bisa berlama-lama karena bayang kerap saja membuntuti. Tak boleh kah aku menjadi istri yang sempurna lewat sakinah?

Aku masih kerap menengadahkan tangan disepertiga malam. Atau terisak dalam hati meminta berselimut doa. Tentang sebuah cinta yang hanya dapat berakhir diam diantara kita. Dan masih meminta kesempuranaan dalam jiwa. Entah mengapa aku masih berkeras agar cinta ini dihalalkan untukku. Entah bagaimana bisa aku meminta Tuhan membuat pengecualian untukku.

Sakinah sepertinya memang bukan untukku. Bahkan jika mereka memberikannya maka itu tak lebih dari sekedar lisan. Maka biarlah aku tak sempurna sebagai istri. Biarlah. Biarlah aku cukup berpuas diri dengan mawaddah dan warrohmah yang kau beri. Karena aku seorang istri dan seorang lelaki.
Butuh waktu bertahun-tahun agar mereka mau mendengar betapa aku sungguh mencintai ilmu itu. Butuh bertahun-tahun hingga akhirnya hati yang terselubung ego itu terketuk tuk dapat akui betapa besar niatku pada ilmu.

Hingga aku patah arang. Hilang segala daya tuk dapat lagi bertahan dengan jalan yang ingin aku tempuh. Tapi semua seakan memaksa ku untuk menyerah. Dan akhirnya aku menyerah. Menciptakan peperangan yang tak berujung pada kata sepakat. Rasa yang membelenggu aku pada benci. Benci yang sesungguhnya hanya inginkan kebebasan.

Dan aku memilih untuk diam. Diam dan tak lagi mengusik niatku yang tak akan pernah menjadi sesuatu. Sampah. Awalnya kukira ia mempersiapkan aku untuk itu. Untuk berulang kali gagal dan dihancurkan. Berulang kali merasa tak berdaya agar dapat diperdaya. Dan menjadi boneka yang terus terkendali dalam hirarki yang menakutkan. Lagi. Tersudut dalam memori kesendirian.

Tapi ini belum berakhir. Satu bisikan kecil ditelingamu ternyata mampu meluruhkan hati yang selama ini tak dapat kutembus. Meski berkali-kali aku coba. Meski berulang kali aku memaksamu mengerti tapi tak jua berhasil. Tapi mengapa suara itu mampu melakukannya dengan mulus dalam sekali hembusan nafas. Aku iri. Dan aku jadi begitu marah pada diriku yang tak sanggup melakukannya.

Sekaligus berterimakasih. Karena bisiknyalah yang membuka matanmu akan keberdaanku. Saat ini. Waktu yang mungkin entah kapan aku masih merasa takut untuk kehilangan kesempatan itu.


Karena ku tahu ia bisa secepat kilat beralih arah haluan. Untuk mengurungku pada sangkar yang sama. Sangkar yang bertahun aku berusaha untuk kabur. Tapi tak bisa. Tapi walau bagaimanapun aku akan berjuang dengan mempertaruhkan ragaku. Meski juga harus menggadaikan jiwaku. Untuk agar aku dapat mencintai apa itu kebebasan. Kebebasan yang menyeret aku pada aku yang sebenarnya. Jiwa yang selama ini terkubur dalam ketakutan.

"Sebut aku bodoh, karena aku tak pernah dapat palingkan hati. Untuk tak lagi dapat mencintaimu."
~Devdan Dewa