Showing posts with label Manusia. Show all posts
Showing posts with label Manusia. Show all posts


Cinta bukanlah sekedar ucapan, melainkan perasaan
Cinta tidak dinilai dari kata-kata
“Aku Cinta Kamu”
Melainkan dari sebuah tindakan

Kata ajaib yang hanya ada dalam dongeng. Sederet mantra cinta telah ku coba tabi tak juga meluluhkan perasaan yang sepi. Hatinya begitu kaku akan cinta yang terpaut masa lalu.

Dari cinta yang monyet hingga ku sebut cinta sejati, kamu selalu menjadi pelabuhan terakhir bagi hati, hingga sempat ia putar haluan terkecoh oleh kata “kesetiaan”


Nikmat mana yang hendak kamu dustai.
Apakah ini layak kamu lontarkan pada gelandangan sepertiku, yang meminta-minta pengakuanmu, yang mengais-ngais dari rasa sakitku. Aku adalah lelaki yang mencintai seorang gadis, terkutuk sebuah janji dan terperangkap masa lalu. Apa selayaknya aku mendapat simpati, tatapan mereka hanya iba, hanya cemooh yang terlontar dalam doa yang menyaru lewat bahasa yang indah. Sejatinya mereka tertawa, mereka tak pernah benar-benar perduli akan rasa menyelimuti qalbu. Aku hanya lelaki yang ikut tertawa dari laku mereka karena sejatinya mereka tak pernah mengerti. Musuhku bukan mereka, tak perlu perduli atau memperdulikan hanya melepas stamina percuma. Lawanku adalah diri berperang melawan waktu.
Hingga habis masa batas, sampai lazuardi menghilang dan mega merah itu nyala berkobar lalu padan. Sedari awal Tuhan telah menganugrahiku dengan cinta dan iblis mengujiku dengan cinta pula. Atas nama nafsu kusarukan menjadi cinta, atas nama dosa ku jabarkan seakan kesetiaan. Wujud dari cinta itu pernah kututupi, kusamarkan hingga tak terlihat. Sesaat hati ini beku atau malah telah membatu.
Darah mengalir dari seperangakat nadi pun aku tak tahu, deras menguras namun tak perduli. Hingga kebebasan menyeruak, iblis terpojok dan jiwa tersadar dari neraka serasa surga. Aku terbelalak menyadari tapi masih menikmati. Ku angkat lagi hati agar ia dapat dipatrikan pada posisinya. Terkorban jiwa demi iblis pun tak percuma karena nyatanya cinta masih memihat, nikmat lama yang Tuhan bagikan masih menyisa, separuh jiwa yang tersisa kan kumanfaatkan.
Melepas perih, mencabut belati. Aku bebas memperkaya diri untuk mendidik anak-anak matahari. Sekali lagi kan kuubah cinta dalam simbol yang berbeda, cinta terhadap sang gadis kini sengaja kukisis, membersihkan hingga kerak tanpa sisa. Meski lagi, waktu kan menjadi saksi, menjadi wali, bagaimana aku menjerat jika hingga batas akhir.
Tak masalah selama nafas masih terengah, oksigen tak kan lepas terhirup. Semakin terjerat, semakin sakit kudapat. Kamu gadis kan lenyap bersama kebebasan, ketidak adaan masa lalu.


Ini hari-hari yang sulit, setelah setengah jalan menapaki janji aku merasa lelah menghantamku. Tubuh ini jadi merasa ragu untuk merangakai kata dari bibir yang membisu, otakku seakan enggan mengurai masa lalu antara kamu dan aku yang sedikit itu.
Entah, ada bagian lain yang merasa mungkin kusimpan saja ini sendiri. Aku tak ingin melepas semua ini, aku tak ingin merelakan, tak ingin mengakui dan tak ingin semua ini berakhir. Seluruh tubuh ku berontak, fikiran ku melayang hilang segala bentuk konsentrasi. Ini terasa lebih sulit dari hari-hari sebelumnya karena kusadari semua hal jadi tak tentu arah, semua hal jadi terasa amburadul.
Kamu selalu sukses membolak-balik perasaanku, mengahantamnya seperti badai, lalu menghilang bagai sepi. Kadang kamu adalah musim panas yang penuh akan cinta, kamu tau aku tergila-gila hingga saat ini hadir menyaru bagai musim dingin. Kamu selalu saja beku, entah kadang sering ku terfikir apa yang menjadi tolak ukurmu menjatuh kan hati. Entah apa yang harus dimiliki seorang laki-laki sehingga ia dapat mencuri perhatianmu, lalu membuatmu jatuh hati.
Perasaan yang terombang-ambing kamu hanya isyaratkan sebuah fiksi. Rasa yang menahun ini kamu terjemahkan sebagai cerita romansa biasa. Aku selalu meminta jika kamu tidak pernah dapat mencintai aku, tolong kembalikan jantungku yang kutitipkan padamu dalam toples kaca itu. Jantung yang meminta mu untuk menyimpannya, tolong kembalikan hanya agar aku dapat mencintai wanita lain. Hanya aku dapat melepasmu seperti maumu, mungkin.
Kini aku sesak, sesak karena kamu menguncinya terlalu erat. Jantungku tak dapat bernafas, aku sesak ketika batas waktunya semakin dekat. Kamu bebaskan lah aku dari perasaan ini, kamu.
Dia pendarkan gerimis menjadi tiga warna dimataku,
Merah untuk menahan kebencianku
Kuning untuk membunuh rinduku
Dan hijau untuk melenyapkan harapanku.

Pontianak, 14 Februari 2016
Menjumpai, Gadis masa kecilku

Assalamuallaikum, Ri
            Panas ...
Seperti biasa, Pontianak memang selalu bisa membuat orang bergidik ngeri karena suhunya. Bahkan untuk sore hari yang basah setelah terguyur hujan layaknya hari ini. Mungkin berbeda dengan Semarang. Tapi dibawah sinar mataharinya yang terik inilah kita pernah tumbuh bersama. Tertawa seperti selayaknya dua orang bocah.
Ri, bagaimana kabarmu? Setelah sekian lama Dev masih membawa romansa kekonyolan kita sewaktu dulu. Ahhh... Tidak, semuanya terbawa bersama rasa yang tak dapat dimengerti. Bersama kesepian. Ketika Ri tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar.
Saat Dev salah langkah, berusaha menyentuh hati Ri lewat kata (sahabat).
Seminggu lalu, sebuah surat undangan mendarat didepan pintu rumah Dev yang diantarkan oleh seorang kurir. Sebuah petir di siang bolong. Undangan itu adalah undangan pernikahan Ri dengan seorang lelaki.
Sakit...
Dev terluka.
Berita itu bagai sebuah ramalan yang menjadi kenyataan. Mengetahui, bahwa hari itu akan tiba memang menyakitkan. Namun. Menghadapi bahwa ini adalah saatnya? Ternyata lebih perih dari apa yang pernah di bayangkan. Dev sadar, bahwa air yang keluar seperti rintik hujan sore ini adalah bukti kekalahanku. Setelah bertarung dengan semua luka yang membuat dunia menjadi gelap.
Ri... pernahakah merasa diburu waktu? Merasa waktu begitu cepat berlalu tanpa pernah bisa diperlambat, apalagi buat dihentikan, semakin menghimpit juga menikam?
Dev pernah.
Sekarang tepatnya. Sembilan tahun kini hanya menyisakan beberapa hari saja. Sembilan tahun begitu cepat berlalu, tanpa sebuah hasil.
Dev sadar betul. Seorang makmun tak akan mungkin memilih imam yang tergopoh dibelakangnya. Tersiuk-siuk mengimbangi. Sudah selaknya Ri akan memilih seorang imam yang berada didepannya. Memberikan petunjuk arah, bimbingan, dan menuntun Ri dalam mengarungi hidup. Bukan?
Lelaki itu diyakini adalah imam terbaik untuk Ri. Meski mata ini mulai mengembun, tapi Dev sematkan doa untuk yang tercinta. Mendapati Ri dalam bahagia, meski bukan bersama Dev.
Ahhh...
Pendar keyakinan itu kini padam, luka itu telah mentahtakan diri. Sekuat Dev bertahan, sekuat itu juga Dev menghantam. Dev kalah, dipaksa kalah tentunya. Tak berarti menguap bagai embun. Bejana itu memantulkan apa yang tertaklukkan, oleh kenangan. Dev kembali kalah, luka itu lebih dahsyat rupanya. Hari-hari yang melelahkan, nafas yang kian tercekat, air mata yang bergulir, semuanya sia-sia. Dev kalah, dipaksa kalah oleh kenangan.
Sudahlah.
Beberapa hari lagi, waktu semakin cepat berlalu. Setelah sebelumnya Dev bergeliat. Dev akan ke Semarang. Dev ingin menemui Ri.
Dev harap tak akan menemukan Ri dalam keadaan merasa bersalah seperti sembilan tahun lalu. Namun jika rasa itu masih ada. Dev harap bisa merebut semua kenangan itu dan Dev simpan dalam saku kemeja....
Ri.... dalam surat ini Dev berikan burung kertas terakhir. Burung kertas ke 1000 untuk melengkapi harapan Dev atas Ri dimasa mendatang.
Sekarang mentari telah tenggelam, dan sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Dev harus bersiap untuk menyambut malam ini.
Ria.... tunggu Dev di Semarang....!
Wasalamuallaikum, Wr.Wb

 Yang Selalu Menyayangi

Devdan
Apa kabar teman?
Masihkah kamu dipersalahkan oleh mereka yang luka hatinya?
Oleh mereka yang tak mengakui kenyataan akan kehidupan, lantas menjadikanmu tumbal. Teman maafkan aku yang juga kadang menyalahkanmu akan keadaan walau nyatanya kamu juga setia menemani hariku. Kamu adalah simbol terkuat dari sejarah perjalananku.
Kamu torehkan banyak hal untuk diputar ulang dalam bentuk kenangan, kamu mempersiapkan sejuta rahasia dalam wujud masa depan, dan kamu memintaku untuk memegang keduanya agar tak salah arah. Agar dapat menghargai apa yang terjadi dan menyusun kembali hal yang mungkin belum terealisasi.
Teman iringi aku sepanjang nafasku yang sudah mulai terengah, diantara kembimbangan dan buta arah. Banyak orang masih mempersalahkan kamu yaaa teman. Lalu memaksa mu mundur agar segalanya dapat ditata menjadi lebih baik.
Mereka yang belum siap dengan hasil berharap kamu dapat memberi kesempatan kedua untuk membenahi kembali, mereka yang belum sanggup dengan konsekuensi terkadang berakhir dengan menyesali. Benar kata para tetua, bahwa kamu juga berwujud laksana pedang. Siap menghunus dan membunuh pemiliknya namun jika dapat digunakan dengan baik, maka kamu akan menjadi senjata paling ambuh.
Teman maafkan aku yang juga pernah mengorbankan kesetiaanku, teman ku telah mulai merelai masa lalu itu tak ingin menghapusnya namun kukaburkan saja dengan sedikit bayangan. Terkadang konfergen itu perlu, sudah cukup lelah aku dengan beberapa hal yang disajikan berulang.
Teman kamu adalah masa.
Teman kamu adalah rahasia.
Teman kamu dipuja.

Namun juga dianggap tiada.
Dipersimpangan jalan kota ini aku terdiam, memandangi sudut lain manusia yang bahagia dengan dunianya. Tertegun bersama hitung mundur di lampu merah, aku merasa waktuku semakin sesak semakin tak banyak. Tapi melihatnya menari-nari, tertawa, serta sorak-sorai dari bahasa tubuhnya aku jadi iri.
Lelaki setengah waras itu mempermalukanku dalam hitung waktu. Ia jadi begitu rasional dimataku. Bahwa dunianya tak ada satupun mengganggu. Mata-mata yang melihatpun tak perlu meragu, yaa karena ia sedang meluapkan perasaan tanpa identitas semu. Lelaki itu menjadi begitu jujur dihadapku, bahkan mungkin juga lebih mujur.
Meramu hidup tak perlu takut kehilangan hidup, tak perduli menyeka, tak perduli dihina, tak ragu dicerca. Jika hendak marah ya luapkan saja, jika ingin berkata yaa ungkapkan saja. Aku malah reda karena ditolak cintanya, meski bersikukuh memuja tapi tetap saja tak berani meraba siapa yang dicinta.
Ahhh...
Lelaki itu memang setengah waras, tapi lihatlah ada gambaran kedamaian diparasnya. Ketulusan senyum yang memiliki derajat mutu dan keikhlasan yang diatas rata-rata bahkan pejabat saja kalah tak layak jadi pembandingnya. Aku juga ingin seperti itu, bebas tanpa batas. Ikhlas tanpa pernah berharap cinta ini juga akan dia balas. Tapi mana bisa, mencintai tanpa memiliki hanya ada dinegeri dongeng. Sekecil apapun cinta pasti meminta balas, minimal sebuah pengakuan dari yang dicinta.

Lama-lama aku jadi terlewat waras. Ikuti saja alurnya, ikuti saja takdirnya maka dengan sendirinya tanpa sekat antara rasional dan irasional. Biarkan aku tak tahu beda keduanya, jadi sedikit semaunya.
Sedetik aku terdiam, lupa bagaimana mencinta.
Sekejap aku tersihir oleh waktu, yang membawa pesona.
Seketika aku tersadar, ini adalah masa yang sama.
Bumi telah membawaku kemasa untuk mengulang kembali
Ingatan tentangmu


Aku bingung hendak memulai kalimat seperti apa. Tak ada hal yang dapat ku torehkan sebaik ketika aku sedang dimabuk cinta seperti dulu. Hendak membuatnya sebagai bagian yang panjang atau singkat saja. Jujur pandangan akanmu mulai kabur dalam ingatan. Degup jantung itu tidak lagi dipaksa memompa diluar kemampuannya, seperti berhibernasi ia memainkan dengkuran yang lembut ketika bisik menyebut namamu. Aku jarang meminta angin membawa gumamku keujung ketelingamu. Apa aku telah mati rasa?

Namun kamu merupakan gadis pertama yang kokoh tegak didalam hatiku, seakan tak mau terganti atau aku yang malas hendak mencari pengganti. Tak ubahnya barang usang mungkin cintaku juga diselubungi karat dan debu tebal yang menyelimutinya. Jika aku bertanya hendak ku tuliskan kamu dalam bentuk apa dengan tekanan seperti apa atau kemiringan yang bagaimana? Mungkin kamu hanya tertegun diam. Kamu bukan orang yang suka dengan keabstrakkan seperti ini. Membuatmu merasa nyaman atau menjadi orang yang nyaman untukmu itu sulit karena berapa kali dicobapun aku ini lelaki yang kaku.

Kini aku sulit menggambarkan kamu dalam situasi seperti ini. Kamu yang seakan memutus mata rantai yang bermula dari kebetulan. Kebetulan karena kita sama-sama dimasukkan kesekolah yang sama. Tapi aku menyebutnya sebagian dari takdir, karena kenagan itu terbawa sebegitu apik olehku hingga aku mengenal cinta untuk pertama kalinya. Mengusik setiap rusukku karena jantung ini selalu saja bedetak kencang. Hingga 3 tahun lalu kamu merubahnya menjadi perpisahan, lari dari kenyataan bahwa aku telah cukup lama menjajaki cinta dalam bentuk diam. Aku salah memasuki hatimu lewat kata sahabat. Aku salah karena telah menyudahi pertemuan sebagai bukti keterikatan kita.

Hari ini sembilan tahun dari masa pubertas yang penuh keberatan, angkuh dengan rasa kepemilikan dalam hati akan kamu. Bebal dengan segala jejal teman-temanku untuk segera menyudahi menyakiti diri. Kini kamu yang melakukannya lewat waktu. Kini aku semakin terbiasa tanpa patahan kata lewat pesan singkatmu. Meski aku belum sanggup untuk benar-benar menyudahi ini dengan menautkan hati pada gadis baru. Namun aku tetap bahagia diatas bahagiamu meski imam-mu bukan seperti imajiku.

Rotasi waktu membuatku menemukan cinta yang sedikit berbeda. Kini aku memilih menjadi bayang untuk seseorang, menjadi bagian yang bersamanya aku ingin terus tumbuh menjadi variabel yang terpisah. Karena takdir hingga zaman berakhir tak akan mengizinkannya. Iya tak ubahnya sama dengan kamu mendapat perlakuan luarbiasa dari hatiku. Karena aku tak tahu mengapa aku mencintainya atau mengapa aku memilihnya. Seperti sekumpulan nama acak yang terpilih begitu saja tanpa alasan yang jelas. Aku memilih menjadi bayang untuk cahaya yang cukup bersinar. Meski gelap namun bayang akan semakin pekat bersama cahaya yang benderang.


Sembilan tahun diantara kita. Kebersamaan yang sepihak seperti ini rasanya memang sunyi. Namun tanpa terasa waktu tersuguh begitu-begitu setiap kali. Aku menaruh harapan kecil tak mau lagi sesumbar agar tahun depan dapat menghadiahi kamu dengan secarik kalimat. Tahun demi tahun hingga aku berhenti ketika ku temukan ia yang sanggup melengkapiku.
Ketika ku ucap kepadamu shanju, tentang 507. Kau tahu maksudku. Ketika ku bercerita tentang si pencuri madu. Ku tahu kau marah padaku. Dan kini kebenaran yang sesungguhnya telah terungkap. Karena waktu yang menunjukkan jalannya. Bahwa aku tak salah mengambil keputusan waktu itu. Yang salah adalah karena aku tak percaya. Dan menoleh kepada si pendusta. Percaya setiap ucapannya. Dan tenggelam dalam dekapannya. Dekap sakit hati kini.

Maafkan aku walau meski kau tak tahu tapi aku pernah menghianatimu. Meski kau tak tahu aku pernah mengingkari janji kepadamu. Dan kini setelah perpisahan kita berdua yang tak terduga. Perasaan sedihpun ditinggalkan begitu saja didalam mata. Dan bayang akan dirimu masih menggantung dibola senja.

Aku merindu mu. Berulang kali hati menjerit mengetuk milikmu. Aku merindu. Bahkan aku merindu diammu. Aku merindu bekas jejak langkahmu disana. Sesekali ku datang, melihat ilusi dirimu yang lalu lalang. Dan bercengkrama dengan sesama. Aku rindu punggungmu yang kutatap tajam ketika kau berjalan mendahului aku. Lalu berbalik dan tersenyum kepadaku. Aku rindu itu. Tapi mungkinkah setiap tumpukan rindu yang telah menggunung kini sanggup tercurah kembali padamu?

Karena aku tak akan mungkin menyapamu dan berkata begitu. Sebab diantara kita mungkin kau anggap masa lalu. Bersama, aku dan kau setuju untuk mengakhiri hubungan ini dengan baik. Juga dengan alasan yang terucap darimu. Aku menghargainya. Tapi cinta ini bagaimana? Masih memintamu bersamanya. Walau nyatanya kini aku telah bersama yang lain. Tapi aku hanya dapat merefleksikan dirimu padanya.


Aku bingung bagaimana hendak bersikap. Aku bingung bagaimana harus bertingkah. Karena ku gelisah. Karena ku tak sanggup berpura bawa cinta masih singgah didada. Shanju haruskah ku bagi rinduku padamu. Haruskah ku ceritakan tentang tangisku. Lalu berpura lupa bahwa diantra kita telah melepas ikatan yang dulu. Haruskah aku melakukannya karena ku masih begitu enggan berpisah. Dan biarlah kita bersama meski dalam sebuah rahasia.
Pontianak, 13 Februari 2015

Menjumpai Bunda
di ujung fajar

Assalamuallaikum...
Apa kabar Bunda? Devdan harap Bunda selalu sekokoh biasanya, meski kerap kali penat menyinggahi tubuh Bunda yang mulai renta. Apakah Bunda masih sering menggerutu seperti biasanya? Yaa... Bunda memang selalu seperti itu, sekejap membelai namun dengan cepat berubah menjadi sosok yang tak lagi dikenali. Bunda betapa lancangnya Dev ini, belum-belum sudah mengencangkan amarah Bunda dengan tidak sopan berbicara seenaknya. Bunda tentu belum mengetahui siapa sosok yang mengirimi bunda aksara pagi ini. Karena apalah Dev ini Bunda, hanya pecahan jiwa yang terserak dari seonggok daging yang Bunda pelihara. Tumbuh lalu berkembang dan Bunda dengan terengah nafas menamainya Indra. Yaa putra Bunda yang hingga kini masih apik menyimpan lara dihati Bunda.
Namun yang kini menyapa Bunda sama sekali bukan Indra, melainkan sisi yang tidak pernah Bunda ketahui. Dev terlahir dari ketidak berdayaan putra Bunda, Indra. Sepanjang hidup, Indra bagai membawa kontak milik pandora yang membukanya hanya akan menebar bencana. Indra terus saja diam Bunda, dengan segala kebingungannya akan tingkah Bunda yang tak dapat dipahami. Karena salah-salah Bunda dengan mudah dapat meronai pipi sisi kiri Indra. Indra pernah berkata pada Dev. Bahwa bahasa seakan tak ada dalam rumah itu. Karena satu-satunya yang berhak atas segala hal adalah Bunda. Mengapa Bunda? Apa bunda mengenal siapa Indra? Selain sebagai putra yang mungkin tidak pernah Bunda sadari keberadaanya. Tenggelam bersama jingga dan menyudut bersama malam.
Bunda, Dev pertama menjumpai Indra dalam keadaan lusuh penuh luka. Menyudut di koridor lembab berbau amis yang pekat, keempat pergelangannya terkunci oleh karat. Matanya Bunda, mata yang seharusnya berbinar penuh harap itu kosong redup bahkan tak ada sayup-sayup. Bibirnya gemetar seakan ingin mengutarakan namun tak sanggup, Dev mendekat melekati tubuh Indra. Dan Indra melihat tajam kearah Dev lalu dengan diam Indra memeluk Dev begitu erat. Sesak namun Dev memahami betapa bekunya hati Indra tanpa cinta. Yang ada hanya kebencian terhadap Bunda yang tak pernah sanggup meluap. Dev berjanji Bunda, berjanji akan menjadi bibir dan lidah untuk bersuara akan rasa sakit milik Indra. Setidaknya Indra memiliki Dev untuk berbagi derita.
Bunda. Apakah Bunda masih dapat dengan fasih menyebut berapa banyak teman yang Indra bawa pulang selepas sekolah untuk Indra perkenalkan kepada Bunda secara langsung? Maka Bunda pasti akan menjawab hampir tidak pernah kan. Karena jika pun ada, teman itu bagaikan penguntit kecil. Mengikuti Indra pulang dan dengan ramah menyapa Bunda dirumah atau hanya menunggu saja didepan pintu untuk menjemput Indra beberapa saat. Karena Indra begitu takut Bunda akan menghujani pertanyaan, seperti yang Bunda lakukan terhadap Indra tanpa mengetahui alasan dari sebuah tindakan kepada yang datang. Indra juga berusaha melindungi Bunda dari sikap Bunda yang sering senaknya atau tempramen Bunda yang kerap naik turun tak menentu. Indra tak ingin Bunda dicemooh dan diperbincangkan.
Hari itu di tanggal yang luput dari ingatan. Bunda dengan lembut berbicara dari kejauhan menyapa dan menanyai kabar Indra. Tak biasanya Bunda sehangat ini, namun Indra mengabaikan segalanya lalu menimpali pertanyaan Bunda dengan jawaban senada. Perlahan Bunda meminta kalimat yang sempat tertunda dari bibir Indra. Karena Bunda mungkin akan marah dan Indra mengutarakannya, tentang kecintaannya pada ilmu. Ya.. Bunda bagai orang yang paling bijak mengusai hati mengangkat Indra dengan pepatah yang layak dibekali lalu memutus komunikasi. Tak berapa lama Bunda kembali kini mungkin dengan wajah merah padam yang terlukis dari suara Bunda di kejauhan, mencaci maki melempar mimpi seakan tak berarti lalu meludahi. Indra terdiam karena sadar bersuara pun percuma. Dev ada disana Bunda, ikut membasahi pipi mendengar Bunda berkata dan menghapusnya dari wajah Indra.
Indra tak lagi bergeming semenjak itu, sapaan ataupun tawa yang terlontar kepada Bunda hanya kepalsuan. Didalam hati Indra, Bunda adalah sosok yang meminta Indra hidup tanpa harapan untuk hidup. Selepas kembalinya Indra kekota ini, Indra berjuang untuk diakui. Bersuara berulang kali membujuk hati Bunda agar mau mengerti. Dan kembali disakiti oleh ulasan pedas Bunda yang menghakimi. Tentu Bunda tak akan sanggup ingat, karena dalam penilaian Bunda ini adalah cara menjadi dewasa namun membunuh seketika.
25 Maret 2014, diatas ranjang kamar yang pintunya terbuka Bunda menatap Indra yang tengah memandangi layar beku seusai Bunda melimpahkan amarah. Lalu dengan apik sekali lagi menghina akan apa yang tidak Bunda mengerti. Namun saat itu bukan Indra yang merajai raga, adalah Dev yang tengah melukiskan kesakitan akan apa yang baru Indra rasa dalam sebait kalimat. Dev telan getir ucapan Bunda itu sendiri, karena disana ada orang-orang yang dengan lapang menerima Indra sebagai Dev lebih dari Bunda. Berjumpa dengan teman-teman yang tidak pernah Dev ataupun Indra ceritakan. Sepetak langkah memudarkan perih yang dirasa seusai dirajam luka. Atau melenggang keluar karena rumah menjadi begitu bising dengan auman emosi Bunda yang kerap membabi buta entah dengan tema apa. Lalu kembali seperti senja diperaduan.
Dari segala perasaan kosong yang dilingkupi oleh kelabu, maka entah kapan gelap akan tersingkir hanya tinggal masalah waktu. Indra yang mungkin kini sedang sendu meratapi perilaku Bunda yang seperti ini dan itu. Namun apakah Bunda tahu? Terselip cinta akan Bunda yang tak sanggup diraba yang mungkin mata pun akan menjadi buta. Bunda ada doa untuk bunda disepertiga malamnya. Bunda, Dev meyakini setiap kali Indra melihat kotak pandora yang selalu Indra bawa masih ada harapan yang tertinggal. Masih ada harapan mimpi Indra akan menjadi mimpi Bunda pula. Indra pun masih memperjuangkan mimpi yang Bunda harapkan untuk Indra meski itu terlalu tinggi. Meski berulang kali Bunda secara sengaja membuatnya tersungkur namun Indra berusaha bangkit untuk menjejali hati Bunda dengan perasaan bangga. Karena bagaimanapun disangkal Indra adalah putra Bunda terikat oleh garis keturunan. Bunda bantu Indra, Bunda bantu Indra memperbaiki retakan didada Bunda. Bantu Dev melepas rantai yang memasung jiwa Indra. Bunda dikala raga itu mulai tak sanggup lagi menopang Bunda, Indra masih berusaha menabur cita dengan cara yang mungkin tak Bunda sangka. Bunda tak lagi banyak kata yang sanggup Dev curahkan kepada bunda. Dev berharap tak akan ada terjengan Bunda seusai sapaan Dev yang mendadak. Dev menyayangi Indra Bunda, Dev hanya ingin bunda mengerti bahwa Indra hanya berharap tuk jadi bebas namun bukan tak terkendali. Terimakasih Dev dari Indra untuk Bunda dalam secuil asa.
Wasalamuallaikum wr.wb

 Yang Selalu Menyayangi       


Devdan Dewa               


Aku yang datang mendamba sebuah kehangatan ditengah malam. Hadir menyapa dengan senyum yang tak biasa. Gemetar. Kepadamu yang tertawa bersama. Mereka yang meski juga hidup dalam gelap mampu menjadi cahaya diantara sesama. Lahir gairah tuk lebih bersama. Entah bagaimana aku jadi terpikat untuk jatuh kedalam rasa. Akan kah ini kebebasan itu?

Kebebasan yang aku cari tapi tak juga ditemui. Kebebasan yang tak pahami artinya. Hanya ingin bebas. Karena lelah telah begitu lama menghinggapi. Hingga karat hati membendung diri. Tak usah tanya karena siapa ini terjadi. Telah lama aku goreskan dalam balutan diksi. Tapi aku disini. Untuk melupakan sejenak luka pada diri. Setidaknya bersama masa yang menguap dengan canda.

Bersamanya yang benar menjadi sebuah tawa besar. Bersamanya yang jadi senyaman ini. Tapi... Mendadak kurasa berbeda. Ini terlalu dekat menjadi begitu janggal. Justru menyakitkan. Mengapa? Semakin dekat langkah mereka hanya membuatku gelisah. Menjadi tak betah. Aku meronta ingin mengurai setiap rasa yang ada. Setiap untaian kebebasan yang kucari malah jadi seperti ini. Tapi aku juga tak ingin mereka terlalu jauh dari pandang ku. Menghilang.

Ya bagaikan landak. Semakin mendekat semakin menyakiti. Hanya dapat merintih dengan air mata yang tertahan. Karena mandekatpun tak bisa. Merasa pun tak sanggup sepenuh jiwa. Lalu aku? Bagaimana? Aku masih ingin merasa bersama mereka. Tapi tak sedekat ini. Atau jadi terlalu renggang. Karena sakitnya kau juga yang merasa. Karena aku tak dapat sanggup lagi berpura bahwa aku berbeda.


Tapi mengertilah bahwa aku hanya ingin menjaga sejumput rahasia. Entah apa. Hanya ingin membaginya separuh saja kepadamu. Dan aku akan coba pahami diri yang tak biasa ini. Diri yang tak pernah benar – benar merasa nyaman dengan sesama. Duri dalam kesendirian. 
Kau kembali berulah. Kembali menghilang tanpa jejak langkahmu. Menghilang tanpa pernah meninggalkan sisa bayangmu yang terpantul mentari. Entah jalan mana yang kau ambil. Hingga engkau begitu apik bersembunyi dalam ironi. Kau juga jadi seketika membisu. Terdiam karena hening ini menyaru dengan geliat lakumu. Lalu aku? Hanya dapat mengerutkan dahi tak mengerti. Dan seketika tersadar akan sesuatu.

“Apakah hening ini kerena ku?”

Karena lalu ku ungkap rasaku. Karena itukah? Tapi mengapa kau mundur lalu berbalik meninggalkan aku? Aku paham betul dimana aku berada. Aku sadar dimana kau letakkan aku didirimu. Takut kah engkau menyakitiku? Bodoh! Aku berteriak keras karena kau tak mengerti. Atau sekedar mencoba memahami. Karena aku yang memintanya. Karena aku yang menginginkannya. Rasa sakit ini.

Lalu kenapa kau mencoba untuk mengobatinya? Yang ternyata. Hanya memperdalam lukanya. Aku berkata karena aku sudah begitu lama menyimpannya. Dan seketika meluap menumpahkan sejuta bahasa. Hanya agar kau mengetahui. Bukan memaksamu untuk aku miliki. Meski nyatanya aku tak sanggup bertindak berpura. Aku tak bisa menyimpan hasrat untuk mencintai. Tapi biarlah sakit ini menjadi teman abadi.

Meski tak banyak memori tercipta tentangku didirimu. Atau sebaliknya. Tapi biarkan aku juga terus dapat mendengar tawamu meski bukan bersamaku. Atau menjadi sakit karena air matamu. Walau bukan tentang aku. Bolehkan?

“Menunggumu adalah caraku
untuk dapat terus mencintai hatimu yang beku”


Mau berapa kali di cegah pun aku tak akan berhenti. Melukis tawa dilangit pagi. Mau berapa kali dilarang pun aku akan terus pergi. Mengamati sang mentari. Aku terduduk menangis karena sepi. Karena semua orang yang kukenal kini pergi. Pergi untuk mencari sesuap nasi. Mereka tak ingin lagi bersamaku saling berpegang erat dan mengembangkan senyum bersama. Mereka tak ingin lagi bersamaku untuk sekedar menghabiskan hari ini dengan canda.

Karena entah mengapa mereka menjadi berubah. Menjadi terlihat seperti kebanyakan orang yang tak lagi memiliki tawa yang sama. Tawa yang hanya berarti kepalsuan. Dan aku membenci mereka. Aku jadi begitu membenci mereka yang dengan mudah menjadi berubah karena waktu. Yang berotasi mengantarkan mereka pada apa yang sering disebut kedewasaan.

Entah apa yang disebut dewasa itu? Entah apa yang mereka inginkan dengan menjadi dewasa? Mengapa mereka menjadi dewasa? Aku terdiam mencari arti yang tak dapat kutemui. Kecuali. Akupun ikut menjadi bagian dari kedewasaan yang mengubah banyak dari mereka yang kukenal.

“Aku benci menjadi dewasa
Yang tak dewasa. Karena aku tak tahu artinya
dewasa”

Tapi aku menolak. Aku menyangkali kedewasaan yang kerap menghampiri. Memeluk erat aku dengan sesak. Aku menyatakan perang pada kedewasaan yang tidak mewakili aku. Karena aku membencinya. Kehilangan orang-orang yang kukenal, orang-orang yang pernah berjalan bersama. Mengubah setiap kepolosan menjadi ragam kebohongan.

Aku benci menjadi sama dengan mereka. Mengambil naskah kehidupan yang tak lagi berisikan cinta. Ya kecintaan yang begitu banyak kini memudar arti. Karena cinta menjadi soal materi. Menjadi perkara lain yang diakhiri.

Tak mengapalah jika ku hidup tanpa dicintai. Tapi aku akan terus berjalan dengan cinta. Dengan pemikiran sederhana. Bahwa hidup harus selalu sama seperti bermain. Hidup adalah senyuman. Dan hidup adalah anak-anak. Tapi aku bukan kekanak-kanakkan aku hanya menolak menjadi dewasa.


Aku ingin memandang dunia dengan caraku. Cara yang menyenangkan bagiku. Meski takut menghampiriku karena wajah-wajah bertopeng mulai melirik ke arahku. Dan menghujat dalam diam yang ku tahu. Tentang aku yang terus saja berlaku semauku. Atau. Mungkin mereka iri denganku yang tak tapat lagi menggenggam keceriaan. Karena aku seorang bocah.