Showing posts with label mimpi. Show all posts
Showing posts with label mimpi. Show all posts
Ini adalah puncaknya setelah sempat terhenti di hari 22, ini adalah itu. Sepuluh tahun lalu aku taut kan hari ini sebagai hari dimana aku mulai mencintaimu, hari pertama kali kita kembali berkomunikasi dan kembali memulai semuanya dari kata teman. Aku selayaknya dengan sengaja menghentikan tulisan ku dihari ke 22 masih ada kecemasan disana, ragu, serta khawatir butuh berapa lama aku harus membiarkannya hingga tak lagi berasa sampai hati ku juga menjadi tawar. Lalu cinta membawa candu yang berbeda untukku rengkuh.
Apa kamu tahu seperti apa rindu yang tercipta dari waktu yang begitu lama? Menggumpal lalu membentuk semacam kristalisasi, aku harap ia indah tapi nampaknya ia tak dipoles dengan polesan yang cukup untuk melengkapinya. Karena disisi lain ia selalu dihantam angin kesendirian.
Biarkan aku mengeluarkan semuanya hari ini, biarkan aku bebas, biarkan aku terlepas dari ragu. Apakah besok aku tidak boleh lagi menulisi kamu sebuah cerita? Apa besok aku tidak boleh merangkaimu dengan kata? Apa besok aku harus benar-benar menutup semuanya? Aku masih berharap besok itu tidak ada...
28 oktober di satu dasawarsa yang lalu aku putuskan hidup dengan mencintaimu tanpa wanita lain, lalu di 28 oktober kini telah ku ikhlaskan hati untuk melupakan semua cinta yang tergulir selama ini. Semua tentang mimpi, semua tentang khayalan yang harapannya akan menjadi nyata, hidup bersama anak-anak kita, melihatmu ketika ku membuka mata dipagi hari, mengatarmu bekerja, bersama belajar bagaimana menjadi imam dan makmum yang baik, bersama hingga salah satu dari kita terpisah oleh kematian, hingga Allah memisahkan jiwa kita untuk kembali dipersatukan nanti. Yaaa sedari awal perasaanku memang telah terpasung dengan angan itu, menjadikanmu ibu dari anak-anakku bukan hanya sebauh perasaan yang bermuara pada nafsu.
Bagai sebuah ramalan, rasa sakit yang sengaja ku hinggapi untuk terus mencintaimu itu kini hadir dalam bentuk nyata. Semua, aku tahu bahwa kamu tak mungkin jadi makmumku, aku telah mempersiapkan bahwa kamu tak ada dipelaminan untuk bersanding denganku, dan aku akan datang hanya sebagai serpihan masa kecilmu, aku tahu bahwa aku akan terluka, aku sadar bahwa sedari awal aku memang tak pernah singgah dihatimu hanya terekam di serambi kiri otakmu.
Namun ketika waktu itu semakin dekat dengan ku, ada enggan, ada benci, bahkan perasaan sakit yang tak kentara. Aku menolak kenyataan, aku mengingkari ramalam yang entah dengan tidak sengaja aku ciptakan sepuluh tahun lalu. Efek dari racun itu kini mulai menunjukkan reaksinya, aku bagai diburu waktu, merasa waktu yang selama ini ku habiskan hanya untuk mencintai mu itu kurang, merasa bahwa sepuluh tahun ini aku hanya terdiam menunggu cinta itu juga menghinggapimu. Ri, ikhlas itu bukan kah tidak menghakimi siapapun? Lalu bagaimana jika aku menghakimi diriku atas ketidak mampuanku, atas rasa iri bercampur dengan ceburu hebat kepada calon imammu.
Benar, wajar saja aku iri padanya. Lelaki yang mungkin kamu kenal tak lebih lama dari kamu mengenal aku namun dapat membuatmu terperdaya olehnya. Menjatuh kan beribu kalimat cinta yang membuat ku terbakar membacanya, apa kamu lupa? Aku ada disana, menyaksikan kemesraamu, tercabik hatinya hancur perasaanya namun masih menyimpan cinta yang besar dibaliknya.
Ternyata ketulusan saja tidak cukup untuk merasa dicintai, faktanya kesetiaan bukan jalan untuk mengharap sebuah balasan. Yaa cintaku memang mengharapkan sebuah balasan, kamu mungkin lebih rumit persamaan kuadrat, lebih kacau dari statistika. Kamu adalah gadis masa kecilku...

Selamat tinggal perasaan yang selama ini ku jaga, selamat tinggal cinta yang ku harap selamanya, selamat tinggal segala mimpi yang tenggelam bersama kenyataan, selamat tinggal. Aku adalah lelaki yang akan berada disana dihari itu, yaa aku adalah lelaki itu.


Sedari awal aku sudah salah dalam mencintaimu, bukan cinta ini yang salah tapi bagaimana aku mencintaimu yang rasanya kurang tepat. Sejak mula aku mencintaimu bukankah aku terlalu percaya diri untuk bertahan, terlalu angkuh untuk berdiri sendiri tanpa adanya kamu. Aku terlalu gegabah dalam merumuskan cinta dengan persamaan kuadrat yang salah dengan persamaan dan statistika yang berbeda dari kebanyakan orang.
Aku salah memulai cintai ini dengan sumpah. Sumpah aku hanya mencintai kamu dalam hidupku terlontar semudah menuangkan segelas air kedalam bejana. Aku memang tak salah memilih cinta tapi aku terlalu sembrono mengikatnya dengan ikrar para petua. Lalu nyatanya aku memang hanya mencintai kamu, hidup bersama cinta yang kini hendak mencapai satu dasawarsa. Begitu panjang jika aku uraikan dalam bentuk bulan, hari atau terlebih dalam satuan detik tentang berapa lama sumpah itu mengena padaku.
Lalu lidah ini kelu, merasa emosi diatas dada lantas aku mengutuk. Aku lantas mengutuki diri bahwa aku sanggup mencintai dengan cara ini. Bahwa ini adalah jalan yang telah dengan sengaja kutoreh untuk mencintaimu, faktanya aku berulang kali terluka, berulang kali patah hati, juga pernah merasa dikhianati tapi sumpah aku masih tetap mencintaimu sampai detik ini.
Ahhh... kukutuki diri karena tidak pernah berpaling darimu. Bersiap patah hati berkali-kali, tapi bangkit lagi seperti zombie. Aku hidupi cinta ini dengan rasa sakit, semakin kencang degupnya ku nilai lebih baik, semakin terluka semakin asyik. Padahal aku ini rapuh terlalu mencintai dengan hanya menggunakan naluri, sekejap hati menyebut namamu lalu ia mentrasmisikannya ke otak lalu menterjemahkannya lewat bahasa bahwa ini cinta.
Tapi aku lupa dalam doa. Bagaimana jika sedari awal aku lebih kuat dalam doa? Apakah cinta juga akan tertoreh didalam buku takdir kehidupan milikku? Maka akan beda ceritanya jika selalu kusemat namamu dalam sepertiga malamku, menyanyikanmu lewat shalawat dan dzikir sebelum tidurmu. Jika demikian maka aku hanya akan menekan tombol deletnya saja, menghapus sumpah dan kutukan sedari awal.
Seharusnya ini menjadi cinta yang merindu lewat doa.
Seharusnya ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya.

Ini cinta ...

"Meski suatu hari nanti tak lagi terselip dijari manis ku, namun cincin penanda janji itu akan berada semakin dekat. Ku rantaikan tepat dikerongkongan agar menyatu dengan nafas. Terjuntai jatuh tepat disisi jantung ku”

“Terjuntai tepat disisi jantung ku. Menjadi cawan bagi detaknya. Meredakan debar saat pesona lain mulai membuka. Menjaga gerbang hati yang telah sesak. Menguncinya hingga patri”


Cinta bukanlah sekedar ucapan, melainkan perasaan
Cinta tidak dinilai dari kata-kata
“Aku Cinta Kamu”
Melainkan dari sebuah tindakan

Kata ajaib yang hanya ada dalam dongeng. Sederet mantra cinta telah ku coba tabi tak juga meluluhkan perasaan yang sepi. Hatinya begitu kaku akan cinta yang terpaut masa lalu.

Dari cinta yang monyet hingga ku sebut cinta sejati, kamu selalu menjadi pelabuhan terakhir bagi hati, hingga sempat ia putar haluan terkecoh oleh kata “kesetiaan”
Hei, kamu. Apa yang kamu kenakan pada wajahmu itu? Bukankah itu riasan yang menutupi dirimu. Aku suka dengan keputusanmu mengenakan hijab, aku suka jika sesekali kamu mengenakan perona wajah. Tapi aku benci jika kamu terlalu mempolesnya berlebihan. Sebenarnya apa yang hendak kamu tutupi dari riasanmu itu?
Kamu adalah gadis yang indah tanpa riasan tanpa sentuhan berlebihan, entah kamu hendak menjadi lebih mempesona demi raja yang kini mengisi seluruh hatimu dengan cinta dan kepercayaan atau kamu hendak menutupi sesuatu dari apa yang tidak dapat kamu sembunyikan.
Aku adalah pria yang nyaman dengan itu, dengan apa adanya kamu secara fisik karena mencintaimu itu sedari awal aku telah buta. Karenanya tak perlu lagi mata untuk melihat. Sebab sedari awal aku telah tuli. Tak perlu lagi telinga untuk mendengar merdu suaramu.
Hey, kamu. Apakah kamu nyaman dengan semua itu? Entah, anggap saja ini hanya prediksiku yang salah. Tapi aku terka ada lelah disana, ada hal yang terlalu dipaksakan disana. Namun tubuhmu tak menyadarinya. Kamu itu sahabatku sebelum cinta ini memintamu menjadi jodohku.

Maka tatap lah aku dan biarkan getarnya bicara padamu tentang hatimu, tentang hatiku. Agar kamu tak pernah meragu atau merasa sekeras batu.


Nikmat mana yang hendak kamu dustai.
Apakah ini layak kamu lontarkan pada gelandangan sepertiku, yang meminta-minta pengakuanmu, yang mengais-ngais dari rasa sakitku. Aku adalah lelaki yang mencintai seorang gadis, terkutuk sebuah janji dan terperangkap masa lalu. Apa selayaknya aku mendapat simpati, tatapan mereka hanya iba, hanya cemooh yang terlontar dalam doa yang menyaru lewat bahasa yang indah. Sejatinya mereka tertawa, mereka tak pernah benar-benar perduli akan rasa menyelimuti qalbu. Aku hanya lelaki yang ikut tertawa dari laku mereka karena sejatinya mereka tak pernah mengerti. Musuhku bukan mereka, tak perlu perduli atau memperdulikan hanya melepas stamina percuma. Lawanku adalah diri berperang melawan waktu.
Hingga habis masa batas, sampai lazuardi menghilang dan mega merah itu nyala berkobar lalu padan. Sedari awal Tuhan telah menganugrahiku dengan cinta dan iblis mengujiku dengan cinta pula. Atas nama nafsu kusarukan menjadi cinta, atas nama dosa ku jabarkan seakan kesetiaan. Wujud dari cinta itu pernah kututupi, kusamarkan hingga tak terlihat. Sesaat hati ini beku atau malah telah membatu.
Darah mengalir dari seperangakat nadi pun aku tak tahu, deras menguras namun tak perduli. Hingga kebebasan menyeruak, iblis terpojok dan jiwa tersadar dari neraka serasa surga. Aku terbelalak menyadari tapi masih menikmati. Ku angkat lagi hati agar ia dapat dipatrikan pada posisinya. Terkorban jiwa demi iblis pun tak percuma karena nyatanya cinta masih memihat, nikmat lama yang Tuhan bagikan masih menyisa, separuh jiwa yang tersisa kan kumanfaatkan.
Melepas perih, mencabut belati. Aku bebas memperkaya diri untuk mendidik anak-anak matahari. Sekali lagi kan kuubah cinta dalam simbol yang berbeda, cinta terhadap sang gadis kini sengaja kukisis, membersihkan hingga kerak tanpa sisa. Meski lagi, waktu kan menjadi saksi, menjadi wali, bagaimana aku menjerat jika hingga batas akhir.
Tak masalah selama nafas masih terengah, oksigen tak kan lepas terhirup. Semakin terjerat, semakin sakit kudapat. Kamu gadis kan lenyap bersama kebebasan, ketidak adaan masa lalu.
Dia pendarkan gerimis menjadi tiga warna dimataku,
Merah untuk menahan kebencianku
Kuning untuk membunuh rinduku
Dan hijau untuk melenyapkan harapanku.

Pontianak, 14 Februari 2016
Menjumpai, Gadis masa kecilku

Assalamuallaikum, Ri
            Panas ...
Seperti biasa, Pontianak memang selalu bisa membuat orang bergidik ngeri karena suhunya. Bahkan untuk sore hari yang basah setelah terguyur hujan layaknya hari ini. Mungkin berbeda dengan Semarang. Tapi dibawah sinar mataharinya yang terik inilah kita pernah tumbuh bersama. Tertawa seperti selayaknya dua orang bocah.
Ri, bagaimana kabarmu? Setelah sekian lama Dev masih membawa romansa kekonyolan kita sewaktu dulu. Ahhh... Tidak, semuanya terbawa bersama rasa yang tak dapat dimengerti. Bersama kesepian. Ketika Ri tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar.
Saat Dev salah langkah, berusaha menyentuh hati Ri lewat kata (sahabat).
Seminggu lalu, sebuah surat undangan mendarat didepan pintu rumah Dev yang diantarkan oleh seorang kurir. Sebuah petir di siang bolong. Undangan itu adalah undangan pernikahan Ri dengan seorang lelaki.
Sakit...
Dev terluka.
Berita itu bagai sebuah ramalan yang menjadi kenyataan. Mengetahui, bahwa hari itu akan tiba memang menyakitkan. Namun. Menghadapi bahwa ini adalah saatnya? Ternyata lebih perih dari apa yang pernah di bayangkan. Dev sadar, bahwa air yang keluar seperti rintik hujan sore ini adalah bukti kekalahanku. Setelah bertarung dengan semua luka yang membuat dunia menjadi gelap.
Ri... pernahakah merasa diburu waktu? Merasa waktu begitu cepat berlalu tanpa pernah bisa diperlambat, apalagi buat dihentikan, semakin menghimpit juga menikam?
Dev pernah.
Sekarang tepatnya. Sembilan tahun kini hanya menyisakan beberapa hari saja. Sembilan tahun begitu cepat berlalu, tanpa sebuah hasil.
Dev sadar betul. Seorang makmun tak akan mungkin memilih imam yang tergopoh dibelakangnya. Tersiuk-siuk mengimbangi. Sudah selaknya Ri akan memilih seorang imam yang berada didepannya. Memberikan petunjuk arah, bimbingan, dan menuntun Ri dalam mengarungi hidup. Bukan?
Lelaki itu diyakini adalah imam terbaik untuk Ri. Meski mata ini mulai mengembun, tapi Dev sematkan doa untuk yang tercinta. Mendapati Ri dalam bahagia, meski bukan bersama Dev.
Ahhh...
Pendar keyakinan itu kini padam, luka itu telah mentahtakan diri. Sekuat Dev bertahan, sekuat itu juga Dev menghantam. Dev kalah, dipaksa kalah tentunya. Tak berarti menguap bagai embun. Bejana itu memantulkan apa yang tertaklukkan, oleh kenangan. Dev kembali kalah, luka itu lebih dahsyat rupanya. Hari-hari yang melelahkan, nafas yang kian tercekat, air mata yang bergulir, semuanya sia-sia. Dev kalah, dipaksa kalah oleh kenangan.
Sudahlah.
Beberapa hari lagi, waktu semakin cepat berlalu. Setelah sebelumnya Dev bergeliat. Dev akan ke Semarang. Dev ingin menemui Ri.
Dev harap tak akan menemukan Ri dalam keadaan merasa bersalah seperti sembilan tahun lalu. Namun jika rasa itu masih ada. Dev harap bisa merebut semua kenangan itu dan Dev simpan dalam saku kemeja....
Ri.... dalam surat ini Dev berikan burung kertas terakhir. Burung kertas ke 1000 untuk melengkapi harapan Dev atas Ri dimasa mendatang.
Sekarang mentari telah tenggelam, dan sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Dev harus bersiap untuk menyambut malam ini.
Ria.... tunggu Dev di Semarang....!
Wasalamuallaikum, Wr.Wb

 Yang Selalu Menyayangi

Devdan
Apa kabar teman?
Masihkah kamu dipersalahkan oleh mereka yang luka hatinya?
Oleh mereka yang tak mengakui kenyataan akan kehidupan, lantas menjadikanmu tumbal. Teman maafkan aku yang juga kadang menyalahkanmu akan keadaan walau nyatanya kamu juga setia menemani hariku. Kamu adalah simbol terkuat dari sejarah perjalananku.
Kamu torehkan banyak hal untuk diputar ulang dalam bentuk kenangan, kamu mempersiapkan sejuta rahasia dalam wujud masa depan, dan kamu memintaku untuk memegang keduanya agar tak salah arah. Agar dapat menghargai apa yang terjadi dan menyusun kembali hal yang mungkin belum terealisasi.
Teman iringi aku sepanjang nafasku yang sudah mulai terengah, diantara kembimbangan dan buta arah. Banyak orang masih mempersalahkan kamu yaaa teman. Lalu memaksa mu mundur agar segalanya dapat ditata menjadi lebih baik.
Mereka yang belum siap dengan hasil berharap kamu dapat memberi kesempatan kedua untuk membenahi kembali, mereka yang belum sanggup dengan konsekuensi terkadang berakhir dengan menyesali. Benar kata para tetua, bahwa kamu juga berwujud laksana pedang. Siap menghunus dan membunuh pemiliknya namun jika dapat digunakan dengan baik, maka kamu akan menjadi senjata paling ambuh.
Teman maafkan aku yang juga pernah mengorbankan kesetiaanku, teman ku telah mulai merelai masa lalu itu tak ingin menghapusnya namun kukaburkan saja dengan sedikit bayangan. Terkadang konfergen itu perlu, sudah cukup lelah aku dengan beberapa hal yang disajikan berulang.
Teman kamu adalah masa.
Teman kamu adalah rahasia.
Teman kamu dipuja.

Namun juga dianggap tiada.

Jika mencintaimu itu punya dua hari libur sama seperti orang yang bekerja. Maka biarkanlah hati ku ini beristirahat sekejap dari luka. Dari rasa yang ia tahan setiap hari, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta setiap saat dan melenyapkan rasa sakit sejenak. Iya juga mungkin butuh bernafas, jatungku juga hendak berdetak normal dan hatiku ingin merasa perasaan lain.

Gila....
Mengapa memilih untuk jatuh cinta? Jika kamu lelah campakkan saja. Benturkan saja dahimu itu pada bantalan yang keras, biar amnesia. Solusi instan melupakan prahara bagi penggiat yang tak setia.

Jika demikan untuk apa aku jatuh cinta, meminta libur untuk merasakan bahwa hari-hariku memang tak berjalan bahagia. Apa aku hendak juga meratapi, mengapa cinta ditakdirkan Tuhan seperti ini? Maka aku akan berada didestinasi yang membuat iri, memeluk angin menggenggam sepi. Membelalak mata bahwa disetiap sudut kota banyak pemuda-pemudi melancarkan aksi yang bikin iri.

Lalu ketika senin mulai tiba?
Ketika senin merotasi dirinya setiap saat, apakah aku juga akan membenci senin? Jika kamu merasa demikian, maka setiap saat kamu hanya meratapi. Membenci ketetapan Allah karena sejatinya kisah cintaku ini lebih indah dari setiap kata yang telah kurangkai mungkin lebih haru dari dilema yang telah kamu bagi untuk diceritakan. Karena bagaimanapun cintamu adalah ketetapan Tuhan telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz bahkan jauh sebelum kamu dilahirkan.

Maka berhentilah...
Kamu tak perlu hari sabtu, karena sedari awal aku telah berikrar bahwa rasa sakit ini adalah cara terbaik untuk mencintai. Adalah bagian yang sengaja kupilih untuk memiliki, meski pada akhirnya yang mengerti hanya aku dan kamu diriku.

Sedari dulu memang seperti ini, hanya yang mengerti dualisme yang dapat membaca tulisan ini.
Mau berapa kali di cegah pun aku tak akan berhenti. Melukis tawa dilangit pagi. Mau berapa kali dilarang pun aku akan terus pergi. Mengamati sang mentari. Aku terduduk menangis karena sepi. Karena semua orang yang kukenal kini pergi. Pergi untuk mencari sesuap nasi. Mereka tak ingin lagi bersamaku saling berpegang erat dan mengembangkan senyum bersama. Mereka tak ingin lagi bersamaku untuk sekedar menghabiskan hari ini dengan canda.

Karena entah mengapa mereka menjadi berubah. Menjadi terlihat seperti kebanyakan orang yang tak lagi memiliki tawa yang sama. Tawa yang hanya berarti kepalsuan. Dan aku membenci mereka. Aku jadi begitu membenci mereka yang dengan mudah menjadi berubah karena waktu. Yang berotasi mengantarkan mereka pada apa yang sering disebut kedewasaan.

Entah apa yang disebut dewasa itu? Entah apa yang mereka inginkan dengan menjadi dewasa? Mengapa mereka menjadi dewasa? Aku terdiam mencari arti yang tak dapat kutemui. Kecuali. Akupun ikut menjadi bagian dari kedewasaan yang mengubah banyak dari mereka yang kukenal.

“Aku benci menjadi dewasa
Yang tak dewasa. Karena aku tak tahu artinya
dewasa”

Tapi aku menolak. Aku menyangkali kedewasaan yang kerap menghampiri. Memeluk erat aku dengan sesak. Aku menyatakan perang pada kedewasaan yang tidak mewakili aku. Karena aku membencinya. Kehilangan orang-orang yang kukenal, orang-orang yang pernah berjalan bersama. Mengubah setiap kepolosan menjadi ragam kebohongan.

Aku benci menjadi sama dengan mereka. Mengambil naskah kehidupan yang tak lagi berisikan cinta. Ya kecintaan yang begitu banyak kini memudar arti. Karena cinta menjadi soal materi. Menjadi perkara lain yang diakhiri.

Tak mengapalah jika ku hidup tanpa dicintai. Tapi aku akan terus berjalan dengan cinta. Dengan pemikiran sederhana. Bahwa hidup harus selalu sama seperti bermain. Hidup adalah senyuman. Dan hidup adalah anak-anak. Tapi aku bukan kekanak-kanakkan aku hanya menolak menjadi dewasa.


Aku ingin memandang dunia dengan caraku. Cara yang menyenangkan bagiku. Meski takut menghampiriku karena wajah-wajah bertopeng mulai melirik ke arahku. Dan menghujat dalam diam yang ku tahu. Tentang aku yang terus saja berlaku semauku. Atau. Mungkin mereka iri denganku yang tak tapat lagi menggenggam keceriaan. Karena aku seorang bocah.
Bagaimanapun aku tetap seorang istri. Aku tetap makmum seorang suami. Hanya tak kau ijab kabuli aku secara resmi. Tak pula kau pernah pinang aku selayaknya permaisuri. Aku tetap seorang istri yang  mencintai dengan hati. Dan aku juga seorang istri yang ingin mendapatkan sakinah. Ketengan hati yang bukan tak ingin kau bagi. Melainkan sebuah keadaan dimana kita telah sama-sama tahu tentang diri. Bahwa kita hanya mendustai hati dengan ucapan manis. Karena nyatanya ikatan kita dipeluk oleh benteng penghalang. Sosial atau kodrat yang terus dielu-elukan.

Meski tak dapat dipungkiri ini bukan cinta yang suci. Meski tetap sakinah yang dicari. Dan sakinah tak akan mungkin terjadi jika hanya antara kau dan aku yang meyakini. Jika yang lain terus saja tak akan mampu meridhai. Jika pun berakhir dengan mengikhlaskan maka ini akan jadi perjalanan yang panjang. Tak akan mungkin terarungi dengan deburan yang tenang.

Lalu bagaimana? Meneruskan diri dengan kebimbangan yang menanti? Melanjutkan dan memilih mengarungi atau terombang – ambing tentang diri. Aku pun tak dapat memilih. Tapi aku juga ingin mendapatkan sakinah. Karena setiap istri berhak mendapatkannya. Karena seorang istri entah baagimanapun itu adalah seorang istri.

Walau tak dapat dipungkiri kau acap kali memberiku mawaddah dan warohmah. Namun apakah tak mengapa, aku mendapatkan mawaddah dan warohmah lebih dini? Kasih dan sayang yang tak dapat ku ragukan lagi. Rasa yang sanggup membuatku merasa tenang sejenak. Tak bisa berlama-lama karena bayang kerap saja membuntuti. Tak boleh kah aku menjadi istri yang sempurna lewat sakinah?

Aku masih kerap menengadahkan tangan disepertiga malam. Atau terisak dalam hati meminta berselimut doa. Tentang sebuah cinta yang hanya dapat berakhir diam diantara kita. Dan masih meminta kesempuranaan dalam jiwa. Entah mengapa aku masih berkeras agar cinta ini dihalalkan untukku. Entah bagaimana bisa aku meminta Tuhan membuat pengecualian untukku.

Sakinah sepertinya memang bukan untukku. Bahkan jika mereka memberikannya maka itu tak lebih dari sekedar lisan. Maka biarlah aku tak sempurna sebagai istri. Biarlah. Biarlah aku cukup berpuas diri dengan mawaddah dan warrohmah yang kau beri. Karena aku seorang istri dan seorang lelaki.
Butuh waktu bertahun-tahun agar mereka mau mendengar betapa aku sungguh mencintai ilmu itu. Butuh bertahun-tahun hingga akhirnya hati yang terselubung ego itu terketuk tuk dapat akui betapa besar niatku pada ilmu.

Hingga aku patah arang. Hilang segala daya tuk dapat lagi bertahan dengan jalan yang ingin aku tempuh. Tapi semua seakan memaksa ku untuk menyerah. Dan akhirnya aku menyerah. Menciptakan peperangan yang tak berujung pada kata sepakat. Rasa yang membelenggu aku pada benci. Benci yang sesungguhnya hanya inginkan kebebasan.

Dan aku memilih untuk diam. Diam dan tak lagi mengusik niatku yang tak akan pernah menjadi sesuatu. Sampah. Awalnya kukira ia mempersiapkan aku untuk itu. Untuk berulang kali gagal dan dihancurkan. Berulang kali merasa tak berdaya agar dapat diperdaya. Dan menjadi boneka yang terus terkendali dalam hirarki yang menakutkan. Lagi. Tersudut dalam memori kesendirian.

Tapi ini belum berakhir. Satu bisikan kecil ditelingamu ternyata mampu meluruhkan hati yang selama ini tak dapat kutembus. Meski berkali-kali aku coba. Meski berulang kali aku memaksamu mengerti tapi tak jua berhasil. Tapi mengapa suara itu mampu melakukannya dengan mulus dalam sekali hembusan nafas. Aku iri. Dan aku jadi begitu marah pada diriku yang tak sanggup melakukannya.

Sekaligus berterimakasih. Karena bisiknyalah yang membuka matanmu akan keberdaanku. Saat ini. Waktu yang mungkin entah kapan aku masih merasa takut untuk kehilangan kesempatan itu.


Karena ku tahu ia bisa secepat kilat beralih arah haluan. Untuk mengurungku pada sangkar yang sama. Sangkar yang bertahun aku berusaha untuk kabur. Tapi tak bisa. Tapi walau bagaimanapun aku akan berjuang dengan mempertaruhkan ragaku. Meski juga harus menggadaikan jiwaku. Untuk agar aku dapat mencintai apa itu kebebasan. Kebebasan yang menyeret aku pada aku yang sebenarnya. Jiwa yang selama ini terkubur dalam ketakutan.
Entah mengapa kau selalu menjadi jalanku untuk pulang. Meski aku telah menyebrangi arus. Meski aku berusaha pergi dari rasa lelah dihatiku. Tapi kau selalu menjadi cahaya dalam gelap. Menjadi mata untuk melihat dunia. Dunia kelam yang kurasa dapat menjadi candu. Kelam yang setidaknya dapat mengaburkan pandangan dari dilemaku. Amarah akan orang tuaku.

Tapi seketika aku ditampar oleh kenyataan. Oleh hati yang tak nyaman. Menggundah karena aku terlalu jauh melangkah. Dan kau selalu saja yang pertama terlintas dibenakku. Tentang cinta yang sekuat tenaga ku kayuh agar tetap utuh. Meski sakit didadaku ini, karena menunggu. Menunggu begitu sabar bayang-banyang dirimu yang bahkan mungkin tak akan pernah jadi milikku.

Tapi kau begitu syahdu terdengar. Meski aku tenggelam bersama dosa. Meski setiap bibir berbicara lirih untuk telingaku. Menyayat hati dengan berkata akan lakuku yang mereka anggap bodoh. Tapi aku masih disini untukmu. Aku tak anggap ini sebagai sakit. Aku tak pernah artikan getaran dihati ini sebagai luka.

Karena aku mencinta dan siap terluka. Meski kau memandangku sebelah mata. Atau menganggap aku tak ada. Tak masalah. Karena yang meraka bilang luka malah menjadi candu yang sebenarnya. Candu yang berulang kali kembali kepadamu. Cinta yang semakin kukuh bahwa Tuhan telah menakdirkan engkau untukku.

Dan ia tak rela aku berkhianat. Kepada yang tak seharusnya. Tuhan masih sayang padaku. Dengan mengrimmu tepat mengisi seluruh rongga hati. Meski aku harus berjuang untuk tetap menyayangi. Karena berulang kali aku merasa lelah. Merasa pupus mencinta. Lalu seketika mengggila.

Maafkan aku yang mendua tak seharusnya. Maafkan aku yang berusaha lari menyebrang arus. Dan maafkan aku yang telah mencoba menyelimuti kelabu di setiap ingatanku akanmu. Maafkan. Aku akan disini berdiri untukmu. Kambali menjadi aku yang setulus dulu. Karena kau rumah untukku. Karena kau kunci hatiku.


Kunci yang hanya engkau saja yang dapat membuka. Membuka rahasia yang terdapat didalamnya. Didalam diri yang telah sekian lama mencinta. Dan jelas kau hanya akan melihat cinta. Cinta. Meski beberapa berkarat karena terlalu lama. Dan membusuk karena dusta. Tapi ini cintaku. Cinta yang menumpuk untuk segera kau tahu.
Sejatinya aku telah benar-benar bosan. Mengumbar setiap kebencianku dalam paragraf-paragraf diksi. Bukan aku tak punya kebahagiaan untuk dibagi. Bukan aku tak sanggup merangkainya menjadi keceriaan diatas kertas ini. Tapi jumlahnya tak pernah sepadan akan apa yang merasuki. Jangan berkata aku tak mensyukuri hidup ini! Tapi apa yang seharusnya aku syukuri?

Apa kehidupan yang seperti ini? Yang kau pun tahu – penuh luka disetiap sendi. Aku selalu benci mengakui bahwa aku terikat. Garis keturunan yang membelenggu ini. Rumah ini sudah menjadi seperti neraka bagiku. Neraka yang menghancurkan jiwaku. Berulang kali. Aku selalu iri melihat canda yang melekat. Rasa cinta yang sesungguhnya ada. Antara kau dan dia.
                                                                                                
Dan aku hanya selalu berpura. Berpura melengkungkan senyum dihadapan orang yang berkuasa. Berpura tak terjadi apa-apa. Namun dalam hati menyimpan murka yang meradang. Kebencian yang tak berujung. Ia pun sama. Menatapku dengan tatapan hina. Memperlakukanku dengan sikap mengasihani.



Bukan aku tak mau keluar dari garis yang menyengsarakan batin ini. Tapi kemana aku akan pergi? Jika kaki ini terantai besi. Jika aku terus saja dipaksa hancur. Demi memuaskan batinnya, memperolok aku. Aku lebih baik memilih tersiksa ragawai asal jangan batin ini. Terlambat.

Luka tak akan pernah bisa terobati. Hanya terus menjadi. Jika nanti ia mendapati aku menyilangi arus. Jangan pernah tampar aku. Karena aku hanya lari, lari dari aturannya yang tak pernah mengimbangi. Karena mungkin dengan cara ini saja. Ia mau mendengar kataku.


Mendengar setiap dukaku yang selalu berakhir lirih. Dukaku yang tak pernah mau didengar karena ego diri. Atau karena kebanggaannya terhadap putra orang lain. Dan kebahagiaan yang berakhir dengan pemberontakan diri. Yang ingin dimengerti.
Meski aku tidak memaksamu mencintai aku. Tapi tingkahku isyaratkan itu. Terlukakah engkau dengan sikapku itu? Lakuku yang semakin terselubung takut. Karena kau bisa entah kapan berlalu tinggalkan aku. Meski kau katakan tidak. Tapi kau membawa cintaku diotakmu. Yang sewaktu-waktu sanggup butakan hatimu.

Maaf jika aku jadi seegois ini. Maaf karena hanya maaflah yang sanggup terlontar. Kutahan rasa ini agar meredam. Kuredam agar aku tetap tenang. Tenang mendengar begitu banyak keceriaan yang tak terlewati bersamaku. Tapi terucap darimu. Darimu yang membaginya dengan begitu banyak cinta. Justru terasa duka, kau tahu mengapa?

Ketakutan begitu membayang diriku yang berada dalam kelam. Tak hanya takut kau pergi menjauh. Aku juga takut menjadi menggila – mulai menyilangi aturan. Aku takut cinta bertukar menjadi nafsu. Yang tak tahu kemana akan dituju. Lalu menggelapkan hatiku. Jika terjadi entah bagaimana akan berakhir? Bahkan kau pun mungkin tak sanggup menarik aku kembali.

Sebaiknya kau pergi, jika ini benar kan terjadi. Karena aku tak ingin jadi menghakimi. Bahwa ini adalah karenamu aku menyebrangi arus. Bahwa kau lah penyebab luka tak terobati. Dan aku akan kembali meminta mati. Karena jelas kau tak akan memilih lelaki menyedihkan ini. Meski iba kau sajikan padaku. Jelas aku pun tahu diri. Kau tak layak bersama ku yang telah bermandi noda ini.


*Berulang maaf terlontar hanya agar kau dapat pahami.
Jantung ini kini benar-benar berhenti berdetak. Tak seperti waktu, yang terus saja berputar. Menenggelamkan aku dalam abu-abu. Mata sembab ini telah berhenti meneteskan duka. Hanya tatapan kosong penuh kekecewaan. Aku bukan hendak meratapi, tapi aku hanya sedang mengasihani diri. Atas cita yang sedikit lagi dapat ku gapai. Untuk harapan yang telah aku perjuangkan mati-matian.

Aku jadi merasa ingin melampiaskan ini pada Tuhan, padaNya yang aku anggap tak adil. Sampai separuh nyawa pun Kau ambil didetik terakhir harapan. Luka ini semakin merumah, dengan nadi yang kembali bernanah. Tuhan, apa aku harus terus berjalan? Pada garisan yang kau beri untukku? Yang Kau tahu, aku tak kan pernah bisa bertahan.

Aku hanya akan terus gagal. Dan kau tahu pintaku sederhana Tuhan. Hanya ingin merasa bebas dengan ilmu. Hanya ingin mencintainya dengan hati berkarat milikku. Tapi mengapa Kau seakan membelenggu aku pada kenyataan. Membangunkan aku dari mimpi dan janji-janji. Tuhan beri aku naskahMu. Naskah yang dapat aku jalani dengan hatiku. Jika setiap langkahku salah dimataMu.


Tuhan apa Kau sedang mengujiku? Dari tengadah tangan yang hanya meminta palsu. Dari hati yang berjanji mengabdi semu. Apa kau marah padaku, Tuhan? Karena aku selalu saja terlihat mempermainkan kuasamu. Tapi mengapa Tuhan, Kau hukum aku dengan waktu? Yang ku punya tak lagi penuh. Tuhan, sungguh beri aku lebih dari petunjukmu. Agar aku dapat menggali kembali setiap impian dan harapan, yang harus ku kubur membusuk itu.