Showing posts with label 28 Oktober. Show all posts
Showing posts with label 28 Oktober. Show all posts
Ini adalah puncaknya setelah sempat terhenti di hari 22, ini adalah itu. Sepuluh tahun lalu aku taut kan hari ini sebagai hari dimana aku mulai mencintaimu, hari pertama kali kita kembali berkomunikasi dan kembali memulai semuanya dari kata teman. Aku selayaknya dengan sengaja menghentikan tulisan ku dihari ke 22 masih ada kecemasan disana, ragu, serta khawatir butuh berapa lama aku harus membiarkannya hingga tak lagi berasa sampai hati ku juga menjadi tawar. Lalu cinta membawa candu yang berbeda untukku rengkuh.
Apa kamu tahu seperti apa rindu yang tercipta dari waktu yang begitu lama? Menggumpal lalu membentuk semacam kristalisasi, aku harap ia indah tapi nampaknya ia tak dipoles dengan polesan yang cukup untuk melengkapinya. Karena disisi lain ia selalu dihantam angin kesendirian.
Biarkan aku mengeluarkan semuanya hari ini, biarkan aku bebas, biarkan aku terlepas dari ragu. Apakah besok aku tidak boleh lagi menulisi kamu sebuah cerita? Apa besok aku tidak boleh merangkaimu dengan kata? Apa besok aku harus benar-benar menutup semuanya? Aku masih berharap besok itu tidak ada...
28 oktober di satu dasawarsa yang lalu aku putuskan hidup dengan mencintaimu tanpa wanita lain, lalu di 28 oktober kini telah ku ikhlaskan hati untuk melupakan semua cinta yang tergulir selama ini. Semua tentang mimpi, semua tentang khayalan yang harapannya akan menjadi nyata, hidup bersama anak-anak kita, melihatmu ketika ku membuka mata dipagi hari, mengatarmu bekerja, bersama belajar bagaimana menjadi imam dan makmum yang baik, bersama hingga salah satu dari kita terpisah oleh kematian, hingga Allah memisahkan jiwa kita untuk kembali dipersatukan nanti. Yaaa sedari awal perasaanku memang telah terpasung dengan angan itu, menjadikanmu ibu dari anak-anakku bukan hanya sebauh perasaan yang bermuara pada nafsu.
Bagai sebuah ramalan, rasa sakit yang sengaja ku hinggapi untuk terus mencintaimu itu kini hadir dalam bentuk nyata. Semua, aku tahu bahwa kamu tak mungkin jadi makmumku, aku telah mempersiapkan bahwa kamu tak ada dipelaminan untuk bersanding denganku, dan aku akan datang hanya sebagai serpihan masa kecilmu, aku tahu bahwa aku akan terluka, aku sadar bahwa sedari awal aku memang tak pernah singgah dihatimu hanya terekam di serambi kiri otakmu.
Namun ketika waktu itu semakin dekat dengan ku, ada enggan, ada benci, bahkan perasaan sakit yang tak kentara. Aku menolak kenyataan, aku mengingkari ramalam yang entah dengan tidak sengaja aku ciptakan sepuluh tahun lalu. Efek dari racun itu kini mulai menunjukkan reaksinya, aku bagai diburu waktu, merasa waktu yang selama ini ku habiskan hanya untuk mencintai mu itu kurang, merasa bahwa sepuluh tahun ini aku hanya terdiam menunggu cinta itu juga menghinggapimu. Ri, ikhlas itu bukan kah tidak menghakimi siapapun? Lalu bagaimana jika aku menghakimi diriku atas ketidak mampuanku, atas rasa iri bercampur dengan ceburu hebat kepada calon imammu.
Benar, wajar saja aku iri padanya. Lelaki yang mungkin kamu kenal tak lebih lama dari kamu mengenal aku namun dapat membuatmu terperdaya olehnya. Menjatuh kan beribu kalimat cinta yang membuat ku terbakar membacanya, apa kamu lupa? Aku ada disana, menyaksikan kemesraamu, tercabik hatinya hancur perasaanya namun masih menyimpan cinta yang besar dibaliknya.
Ternyata ketulusan saja tidak cukup untuk merasa dicintai, faktanya kesetiaan bukan jalan untuk mengharap sebuah balasan. Yaa cintaku memang mengharapkan sebuah balasan, kamu mungkin lebih rumit persamaan kuadrat, lebih kacau dari statistika. Kamu adalah gadis masa kecilku...

Selamat tinggal perasaan yang selama ini ku jaga, selamat tinggal cinta yang ku harap selamanya, selamat tinggal segala mimpi yang tenggelam bersama kenyataan, selamat tinggal. Aku adalah lelaki yang akan berada disana dihari itu, yaa aku adalah lelaki itu.


Sedari awal aku sudah salah dalam mencintaimu, bukan cinta ini yang salah tapi bagaimana aku mencintaimu yang rasanya kurang tepat. Sejak mula aku mencintaimu bukankah aku terlalu percaya diri untuk bertahan, terlalu angkuh untuk berdiri sendiri tanpa adanya kamu. Aku terlalu gegabah dalam merumuskan cinta dengan persamaan kuadrat yang salah dengan persamaan dan statistika yang berbeda dari kebanyakan orang.
Aku salah memulai cintai ini dengan sumpah. Sumpah aku hanya mencintai kamu dalam hidupku terlontar semudah menuangkan segelas air kedalam bejana. Aku memang tak salah memilih cinta tapi aku terlalu sembrono mengikatnya dengan ikrar para petua. Lalu nyatanya aku memang hanya mencintai kamu, hidup bersama cinta yang kini hendak mencapai satu dasawarsa. Begitu panjang jika aku uraikan dalam bentuk bulan, hari atau terlebih dalam satuan detik tentang berapa lama sumpah itu mengena padaku.
Lalu lidah ini kelu, merasa emosi diatas dada lantas aku mengutuk. Aku lantas mengutuki diri bahwa aku sanggup mencintai dengan cara ini. Bahwa ini adalah jalan yang telah dengan sengaja kutoreh untuk mencintaimu, faktanya aku berulang kali terluka, berulang kali patah hati, juga pernah merasa dikhianati tapi sumpah aku masih tetap mencintaimu sampai detik ini.
Ahhh... kukutuki diri karena tidak pernah berpaling darimu. Bersiap patah hati berkali-kali, tapi bangkit lagi seperti zombie. Aku hidupi cinta ini dengan rasa sakit, semakin kencang degupnya ku nilai lebih baik, semakin terluka semakin asyik. Padahal aku ini rapuh terlalu mencintai dengan hanya menggunakan naluri, sekejap hati menyebut namamu lalu ia mentrasmisikannya ke otak lalu menterjemahkannya lewat bahasa bahwa ini cinta.
Tapi aku lupa dalam doa. Bagaimana jika sedari awal aku lebih kuat dalam doa? Apakah cinta juga akan tertoreh didalam buku takdir kehidupan milikku? Maka akan beda ceritanya jika selalu kusemat namamu dalam sepertiga malamku, menyanyikanmu lewat shalawat dan dzikir sebelum tidurmu. Jika demikian maka aku hanya akan menekan tombol deletnya saja, menghapus sumpah dan kutukan sedari awal.
Seharusnya ini menjadi cinta yang merindu lewat doa.
Seharusnya ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya.

Ini cinta ...
Tak terasa hari ke-20 berlalu dengan cepat, meski ada beberapa tulisan yang sengaja ku rapel kan postingannya, namun aku tak pernah benar-benar menerka bahwa usahaku memaksakan diri ternyata telah sampai dititik ini. Awalnya aku berfikir aku akan berhenti ditengah jalan, diam, merasa bosan dan akhirnya aku tinggalkan, biarkan saja terbengkalai. Namun dengan waktu yang tak terasa tinggal delapan hari lagi, kini aku merasa ingin terus menulis lebih lama lagi.
28 oktober selalu saja menjadi evaluasi tahunan yang aku lakukan, meski baru kutuliskan dalam beberapa tahun terakhir, tak mengapa karena sejatinya cinta itu begitu berkobar di tahun-tahun lalu. Kamu yang benci hal-hal konyol seperti ini pasti tidak mengerti padahal ini adalah cara paling ampuh bagiku untuk menguraikan segalanya, bagaimana tidak kerena dengan menyebut hal tentangmu saja aku gemetar maka tulisan menjadi jalan aku menguraikannya.
Tuhan memang mentakdirkan kita bertemu berbagi masa-masa kecil kita bersama, namun sepertinya Ia belum setuju jika kita berbagi masa-masa tua kita bersama. Sedari awal ketika aku menjatuhkan hati tanpa syarat padamu maka aku mengkukuhkan diri ingin menjadi imam yang halal untuk mu. Meski sedari awal ku tahu, bahawa ada hal yang membuatku jauh tertinggal dari lakumu tapi aku selalu berusaha mengkuhuhkan diri.
Hingga aku benar-benar tak melihatmu lagi dalam lintasan ku, aku sudah terlalu jauh dari rute hidup yang telah kupersiapkan matang. Tapi bagaimanapun aku selalu berusaha bahwa bahasa ini harus dapat tersampaikan padamu, meski harus mengoyak hatimu aku ingin sekali saja hati mu itu bergetar ada kegoyahan yang luluh pada dirimu itu.

Sampaikan salamku untuk iamam masa depanmu dari lelaki masa kecil mu.

"Meski suatu hari nanti tak lagi terselip dijari manis ku, namun cincin penanda janji itu akan berada semakin dekat. Ku rantaikan tepat dikerongkongan agar menyatu dengan nafas. Terjuntai jatuh tepat disisi jantung ku”

“Terjuntai tepat disisi jantung ku. Menjadi cawan bagi detaknya. Meredakan debar saat pesona lain mulai membuka. Menjaga gerbang hati yang telah sesak. Menguncinya hingga patri”





Salam dari pemilik malam, ia yang memeluk rembulan. Jemari yang penat menuliskan kalimat fatamorgana, tubuh yang lemas karena rutinitas mahasiswa. Aku tak akan berjaya menghadapi mu. Aku tak akan sanggup menyuguhimu, karena hingga kini aku masih tersauk-sauk mengimbangi.

Dari angin yang membawa udara segar, aku hadirkan dengan bahasa sederhanya hanya agar kamu mengerti. Tapi kamu langsung menyudahi, tak lagi berarti. Bagai rintik yang menjadi badai, lalu beliung meluluh lantakkannya, hati itu hancur tanpa sisa karena porah-poranda.

Demi cinta yang tercipta dari ingatan. Aku sesajikan persembahan terakhir lari cambuk waktu yang kian sulit berkecamuk. Mengharap bagai peminta-minta, mengemis karena tak punya. Namun apa daya simpati pun tak dapat, hanya menatap dengan harap.









Cinta bukanlah sekedar ucapan, melainkan perasaan
Cinta tidak dinilai dari kata-kata
“Aku Cinta Kamu”
Melainkan dari sebuah tindakan

Kata ajaib yang hanya ada dalam dongeng. Sederet mantra cinta telah ku coba tabi tak juga meluluhkan perasaan yang sepi. Hatinya begitu kaku akan cinta yang terpaut masa lalu.

Dari cinta yang monyet hingga ku sebut cinta sejati, kamu selalu menjadi pelabuhan terakhir bagi hati, hingga sempat ia putar haluan terkecoh oleh kata “kesetiaan”
Hei, kamu. Apa yang kamu kenakan pada wajahmu itu? Bukankah itu riasan yang menutupi dirimu. Aku suka dengan keputusanmu mengenakan hijab, aku suka jika sesekali kamu mengenakan perona wajah. Tapi aku benci jika kamu terlalu mempolesnya berlebihan. Sebenarnya apa yang hendak kamu tutupi dari riasanmu itu?
Kamu adalah gadis yang indah tanpa riasan tanpa sentuhan berlebihan, entah kamu hendak menjadi lebih mempesona demi raja yang kini mengisi seluruh hatimu dengan cinta dan kepercayaan atau kamu hendak menutupi sesuatu dari apa yang tidak dapat kamu sembunyikan.
Aku adalah pria yang nyaman dengan itu, dengan apa adanya kamu secara fisik karena mencintaimu itu sedari awal aku telah buta. Karenanya tak perlu lagi mata untuk melihat. Sebab sedari awal aku telah tuli. Tak perlu lagi telinga untuk mendengar merdu suaramu.
Hey, kamu. Apakah kamu nyaman dengan semua itu? Entah, anggap saja ini hanya prediksiku yang salah. Tapi aku terka ada lelah disana, ada hal yang terlalu dipaksakan disana. Namun tubuhmu tak menyadarinya. Kamu itu sahabatku sebelum cinta ini memintamu menjadi jodohku.

Maka tatap lah aku dan biarkan getarnya bicara padamu tentang hatimu, tentang hatiku. Agar kamu tak pernah meragu atau merasa sekeras batu.


Nikmat mana yang hendak kamu dustai.
Apakah ini layak kamu lontarkan pada gelandangan sepertiku, yang meminta-minta pengakuanmu, yang mengais-ngais dari rasa sakitku. Aku adalah lelaki yang mencintai seorang gadis, terkutuk sebuah janji dan terperangkap masa lalu. Apa selayaknya aku mendapat simpati, tatapan mereka hanya iba, hanya cemooh yang terlontar dalam doa yang menyaru lewat bahasa yang indah. Sejatinya mereka tertawa, mereka tak pernah benar-benar perduli akan rasa menyelimuti qalbu. Aku hanya lelaki yang ikut tertawa dari laku mereka karena sejatinya mereka tak pernah mengerti. Musuhku bukan mereka, tak perlu perduli atau memperdulikan hanya melepas stamina percuma. Lawanku adalah diri berperang melawan waktu.
Hingga habis masa batas, sampai lazuardi menghilang dan mega merah itu nyala berkobar lalu padan. Sedari awal Tuhan telah menganugrahiku dengan cinta dan iblis mengujiku dengan cinta pula. Atas nama nafsu kusarukan menjadi cinta, atas nama dosa ku jabarkan seakan kesetiaan. Wujud dari cinta itu pernah kututupi, kusamarkan hingga tak terlihat. Sesaat hati ini beku atau malah telah membatu.
Darah mengalir dari seperangakat nadi pun aku tak tahu, deras menguras namun tak perduli. Hingga kebebasan menyeruak, iblis terpojok dan jiwa tersadar dari neraka serasa surga. Aku terbelalak menyadari tapi masih menikmati. Ku angkat lagi hati agar ia dapat dipatrikan pada posisinya. Terkorban jiwa demi iblis pun tak percuma karena nyatanya cinta masih memihat, nikmat lama yang Tuhan bagikan masih menyisa, separuh jiwa yang tersisa kan kumanfaatkan.
Melepas perih, mencabut belati. Aku bebas memperkaya diri untuk mendidik anak-anak matahari. Sekali lagi kan kuubah cinta dalam simbol yang berbeda, cinta terhadap sang gadis kini sengaja kukisis, membersihkan hingga kerak tanpa sisa. Meski lagi, waktu kan menjadi saksi, menjadi wali, bagaimana aku menjerat jika hingga batas akhir.
Tak masalah selama nafas masih terengah, oksigen tak kan lepas terhirup. Semakin terjerat, semakin sakit kudapat. Kamu gadis kan lenyap bersama kebebasan, ketidak adaan masa lalu.


Ini hari-hari yang sulit, setelah setengah jalan menapaki janji aku merasa lelah menghantamku. Tubuh ini jadi merasa ragu untuk merangakai kata dari bibir yang membisu, otakku seakan enggan mengurai masa lalu antara kamu dan aku yang sedikit itu.
Entah, ada bagian lain yang merasa mungkin kusimpan saja ini sendiri. Aku tak ingin melepas semua ini, aku tak ingin merelakan, tak ingin mengakui dan tak ingin semua ini berakhir. Seluruh tubuh ku berontak, fikiran ku melayang hilang segala bentuk konsentrasi. Ini terasa lebih sulit dari hari-hari sebelumnya karena kusadari semua hal jadi tak tentu arah, semua hal jadi terasa amburadul.
Kamu selalu sukses membolak-balik perasaanku, mengahantamnya seperti badai, lalu menghilang bagai sepi. Kadang kamu adalah musim panas yang penuh akan cinta, kamu tau aku tergila-gila hingga saat ini hadir menyaru bagai musim dingin. Kamu selalu saja beku, entah kadang sering ku terfikir apa yang menjadi tolak ukurmu menjatuh kan hati. Entah apa yang harus dimiliki seorang laki-laki sehingga ia dapat mencuri perhatianmu, lalu membuatmu jatuh hati.
Perasaan yang terombang-ambing kamu hanya isyaratkan sebuah fiksi. Rasa yang menahun ini kamu terjemahkan sebagai cerita romansa biasa. Aku selalu meminta jika kamu tidak pernah dapat mencintai aku, tolong kembalikan jantungku yang kutitipkan padamu dalam toples kaca itu. Jantung yang meminta mu untuk menyimpannya, tolong kembalikan hanya agar aku dapat mencintai wanita lain. Hanya aku dapat melepasmu seperti maumu, mungkin.
Kini aku sesak, sesak karena kamu menguncinya terlalu erat. Jantungku tak dapat bernafas, aku sesak ketika batas waktunya semakin dekat. Kamu bebaskan lah aku dari perasaan ini, kamu.
Dia pendarkan gerimis menjadi tiga warna dimataku,
Merah untuk menahan kebencianku
Kuning untuk membunuh rinduku
Dan hijau untuk melenyapkan harapanku.

Pontianak, 14 Februari 2016
Menjumpai, Gadis masa kecilku

Assalamuallaikum, Ri
            Panas ...
Seperti biasa, Pontianak memang selalu bisa membuat orang bergidik ngeri karena suhunya. Bahkan untuk sore hari yang basah setelah terguyur hujan layaknya hari ini. Mungkin berbeda dengan Semarang. Tapi dibawah sinar mataharinya yang terik inilah kita pernah tumbuh bersama. Tertawa seperti selayaknya dua orang bocah.
Ri, bagaimana kabarmu? Setelah sekian lama Dev masih membawa romansa kekonyolan kita sewaktu dulu. Ahhh... Tidak, semuanya terbawa bersama rasa yang tak dapat dimengerti. Bersama kesepian. Ketika Ri tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar.
Saat Dev salah langkah, berusaha menyentuh hati Ri lewat kata (sahabat).
Seminggu lalu, sebuah surat undangan mendarat didepan pintu rumah Dev yang diantarkan oleh seorang kurir. Sebuah petir di siang bolong. Undangan itu adalah undangan pernikahan Ri dengan seorang lelaki.
Sakit...
Dev terluka.
Berita itu bagai sebuah ramalan yang menjadi kenyataan. Mengetahui, bahwa hari itu akan tiba memang menyakitkan. Namun. Menghadapi bahwa ini adalah saatnya? Ternyata lebih perih dari apa yang pernah di bayangkan. Dev sadar, bahwa air yang keluar seperti rintik hujan sore ini adalah bukti kekalahanku. Setelah bertarung dengan semua luka yang membuat dunia menjadi gelap.
Ri... pernahakah merasa diburu waktu? Merasa waktu begitu cepat berlalu tanpa pernah bisa diperlambat, apalagi buat dihentikan, semakin menghimpit juga menikam?
Dev pernah.
Sekarang tepatnya. Sembilan tahun kini hanya menyisakan beberapa hari saja. Sembilan tahun begitu cepat berlalu, tanpa sebuah hasil.
Dev sadar betul. Seorang makmun tak akan mungkin memilih imam yang tergopoh dibelakangnya. Tersiuk-siuk mengimbangi. Sudah selaknya Ri akan memilih seorang imam yang berada didepannya. Memberikan petunjuk arah, bimbingan, dan menuntun Ri dalam mengarungi hidup. Bukan?
Lelaki itu diyakini adalah imam terbaik untuk Ri. Meski mata ini mulai mengembun, tapi Dev sematkan doa untuk yang tercinta. Mendapati Ri dalam bahagia, meski bukan bersama Dev.
Ahhh...
Pendar keyakinan itu kini padam, luka itu telah mentahtakan diri. Sekuat Dev bertahan, sekuat itu juga Dev menghantam. Dev kalah, dipaksa kalah tentunya. Tak berarti menguap bagai embun. Bejana itu memantulkan apa yang tertaklukkan, oleh kenangan. Dev kembali kalah, luka itu lebih dahsyat rupanya. Hari-hari yang melelahkan, nafas yang kian tercekat, air mata yang bergulir, semuanya sia-sia. Dev kalah, dipaksa kalah oleh kenangan.
Sudahlah.
Beberapa hari lagi, waktu semakin cepat berlalu. Setelah sebelumnya Dev bergeliat. Dev akan ke Semarang. Dev ingin menemui Ri.
Dev harap tak akan menemukan Ri dalam keadaan merasa bersalah seperti sembilan tahun lalu. Namun jika rasa itu masih ada. Dev harap bisa merebut semua kenangan itu dan Dev simpan dalam saku kemeja....
Ri.... dalam surat ini Dev berikan burung kertas terakhir. Burung kertas ke 1000 untuk melengkapi harapan Dev atas Ri dimasa mendatang.
Sekarang mentari telah tenggelam, dan sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Dev harus bersiap untuk menyambut malam ini.
Ria.... tunggu Dev di Semarang....!
Wasalamuallaikum, Wr.Wb

 Yang Selalu Menyayangi

Devdan
Apa kabar teman?
Masihkah kamu dipersalahkan oleh mereka yang luka hatinya?
Oleh mereka yang tak mengakui kenyataan akan kehidupan, lantas menjadikanmu tumbal. Teman maafkan aku yang juga kadang menyalahkanmu akan keadaan walau nyatanya kamu juga setia menemani hariku. Kamu adalah simbol terkuat dari sejarah perjalananku.
Kamu torehkan banyak hal untuk diputar ulang dalam bentuk kenangan, kamu mempersiapkan sejuta rahasia dalam wujud masa depan, dan kamu memintaku untuk memegang keduanya agar tak salah arah. Agar dapat menghargai apa yang terjadi dan menyusun kembali hal yang mungkin belum terealisasi.
Teman iringi aku sepanjang nafasku yang sudah mulai terengah, diantara kembimbangan dan buta arah. Banyak orang masih mempersalahkan kamu yaaa teman. Lalu memaksa mu mundur agar segalanya dapat ditata menjadi lebih baik.
Mereka yang belum siap dengan hasil berharap kamu dapat memberi kesempatan kedua untuk membenahi kembali, mereka yang belum sanggup dengan konsekuensi terkadang berakhir dengan menyesali. Benar kata para tetua, bahwa kamu juga berwujud laksana pedang. Siap menghunus dan membunuh pemiliknya namun jika dapat digunakan dengan baik, maka kamu akan menjadi senjata paling ambuh.
Teman maafkan aku yang juga pernah mengorbankan kesetiaanku, teman ku telah mulai merelai masa lalu itu tak ingin menghapusnya namun kukaburkan saja dengan sedikit bayangan. Terkadang konfergen itu perlu, sudah cukup lelah aku dengan beberapa hal yang disajikan berulang.
Teman kamu adalah masa.
Teman kamu adalah rahasia.
Teman kamu dipuja.

Namun juga dianggap tiada.
Aku selalu suka saat butiran air itu jatuh ke bumi, membasahinya dan membuat aroma rumput menyeruak. Tak hanya menikmati hujan aku acap kali membiarkan hujan basahi tubuhku karena bersama hujan ia sanggup menyamarkan air mata yang luruh.
Bukankah dulu hujan adalah sahabat kita Ri, berlarian diantara genangan air yang meluap hampir banjir. Lalu kini hujan menjadi penghubung antara aku dengan kenangan itu. Aku masih tetap menikmatinya seperti dulu, sesekali membiarkan tubuhku basah atau menatap dibalik kaca yang mengembun bersama secangkir kopi. Ku bau-i semua percampuran antara wangi kopi dan tanah yang basah karena hujan lalu merekatkan kedua tangan memeluk erat diri.
Suhunya kadang cukup sejuk untuk udara kota ini yang selalu panas, cukup dingin untuk dibandingkan dengan perasaan yang membeku.

Aku mencitai hujan sama seperti aku mencintaimu. Hujan membantuku merasakan hangat tubuhmu ketika ia menyuh kulitku, angin membawakan suaramu keujung telingaku. Hujan basahi aku dihari itu, hujan hapuskan air mataku di hari itu. Karena bagaimanapun disaat itu ikhlas adalah taruhanku.


Bagaikan tanpa rasa, mungkin sedari awal akan berasa hambar. Namun tidak, cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Pemberi rasa dalam hidup, pemudar kegundahan yang nyatanya masih kerap kusantap hingga saat ini. Tak perduli terlalu banyak tuangkan saja maka akan ku lahap dengan semangat..
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Meski pada kenyataannya cinta tak memberiku takaran yang tepat tapi tetap saja memberiku rasa dalam dilema.
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Bayangkan saja aku tanpa cinta lantas jadi apa? Hidangan lezat itu tanpa perasa akan terkecap bagaimana?
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Penyedap paling mantap ketika kupadukan dengan rindu berwarna jingga.

Kini meski ku belum temukan resep yang tepat, tetap saja garam berwarna merah muda akan selalu jadi bumbu dalam sajian hidupku. Penyedap yang ku padu dengan rasa lain dengan bahan berbeda hingga pada akhirnya garam berwarna merah muda menyatu dengan menu kehidupanku.
Ahhh kamu...
Selalu membuatku bergidik, membuat lututku lemas. Karena entah mengapa semua seperti terputar ulang kembali dikepalaku. Padahal tak banyak hal yang terjadi. Tapi ketika memoriam itu kembali kamu suguhkan segalanya bak tsunami. Tenang sesaat lalu menghempasku dari segala arah.
Haii Oktober.
Ini pertemuan kita yang kesepuluh, setiap tahunnya kita berjumpa dan merayakan sebuah pertanda khusus. Entah dalam kategori suka cita atau duka. Kita sebenarnya tidak dapat mendefinisikan perayaan yang seperti apa itu. Namun kamu tahu, disetiap tahunnya aku selalu bangga. Bangga juga karena dapat mengunjungi kamu setiap tahunnya. Dan bahagia meski gadis itu tak menyadari atau berpura tak ingin mengetahui aku selalu menemui kamu pada tanggal itu.
Namun Oktober, akankah kamu merindukan aku? Jika tahun berikutnya aku tak lagi menyapamu. Tak lagi dapat merasa getir ketika kan datang kamu dipenghujung September. Ketahuilah Oktober mungkin ini juga sebuah perayaan perpisahan. Aku tak lelah tak akan pernah, jika hendak mencintai dia. Namun batasan itu semakin jauh.
Kamu akan tahu, kamu akan mungkin lebih mengiba dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu temani aku sebentar lagi. Tunggu semua kan ku jabarkan dalam hari ke 28 milikmu seperti biasa. Diamana akan tumpah bahasa lewat sebuah surat yang tak pernah dibaca. Meski kan usang, meski kutu-kutu kan menggerogoti sudut kertasnya, namun selalu ada kamu, Oktober yang menjadi saksi.
Entah, entah, entahlah Oktober. Gadis itu selalu membuatku bagai terkena kutukan medusa, membatu bahkan sebelum melihat matanya. Gadis itu selalu membuatku jatuh cinta sebelum cupit memanahku. Oktober tidak hanya praha sepuluh tahun lalu, kamu bahkan mengetahui rahasia mengapa aku selalu ingin berada diumur 8 tahun. Kamu masih ingatkan? Pastinya, karena kamu selalu dengan tenang mendengarkanku bercerita di hari itu lewat “Aniversary of Love” setiap tahunnya.
Oktober aku akan selalu mengingat sejarah panjang ini, Oktober maaf jika aku harus berakhir. Bukan karena ku ingin namun aku harus segera mengakhiri. Maaf Oktober.


Jika mencintaimu itu punya dua hari libur sama seperti orang yang bekerja. Maka biarkanlah hati ku ini beristirahat sekejap dari luka. Dari rasa yang ia tahan setiap hari, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta setiap saat dan melenyapkan rasa sakit sejenak. Iya juga mungkin butuh bernafas, jatungku juga hendak berdetak normal dan hatiku ingin merasa perasaan lain.

Gila....
Mengapa memilih untuk jatuh cinta? Jika kamu lelah campakkan saja. Benturkan saja dahimu itu pada bantalan yang keras, biar amnesia. Solusi instan melupakan prahara bagi penggiat yang tak setia.

Jika demikan untuk apa aku jatuh cinta, meminta libur untuk merasakan bahwa hari-hariku memang tak berjalan bahagia. Apa aku hendak juga meratapi, mengapa cinta ditakdirkan Tuhan seperti ini? Maka aku akan berada didestinasi yang membuat iri, memeluk angin menggenggam sepi. Membelalak mata bahwa disetiap sudut kota banyak pemuda-pemudi melancarkan aksi yang bikin iri.

Lalu ketika senin mulai tiba?
Ketika senin merotasi dirinya setiap saat, apakah aku juga akan membenci senin? Jika kamu merasa demikian, maka setiap saat kamu hanya meratapi. Membenci ketetapan Allah karena sejatinya kisah cintaku ini lebih indah dari setiap kata yang telah kurangkai mungkin lebih haru dari dilema yang telah kamu bagi untuk diceritakan. Karena bagaimanapun cintamu adalah ketetapan Tuhan telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz bahkan jauh sebelum kamu dilahirkan.

Maka berhentilah...
Kamu tak perlu hari sabtu, karena sedari awal aku telah berikrar bahwa rasa sakit ini adalah cara terbaik untuk mencintai. Adalah bagian yang sengaja kupilih untuk memiliki, meski pada akhirnya yang mengerti hanya aku dan kamu diriku.

Sedari dulu memang seperti ini, hanya yang mengerti dualisme yang dapat membaca tulisan ini.


Tiada malam yang begitu indah untuk si penyendiri.
Tiada siang yang begitu terang untuk lelaki yang suram.
Tiada hal yang dapat menggugurkan niat selain maksiat.
Tiada nikmat jika doa tak lagi jadi jimat.

Kesendirian itu apa?
Kesendirian itu luka.
Kesendirian selalu berteman sepi
Kesepian adalah jiwa yang selalu berusaha untuk ditutupi

Aku mati sedari dulu.
Hatiku sakau tapi tak mencandu.
Sunyi temankan aku.
Gulita jaga aku.