Showing posts with label Hidup. Show all posts
Showing posts with label Hidup. Show all posts
Ini adalah puncaknya setelah sempat terhenti di hari 22, ini adalah itu. Sepuluh tahun lalu aku taut kan hari ini sebagai hari dimana aku mulai mencintaimu, hari pertama kali kita kembali berkomunikasi dan kembali memulai semuanya dari kata teman. Aku selayaknya dengan sengaja menghentikan tulisan ku dihari ke 22 masih ada kecemasan disana, ragu, serta khawatir butuh berapa lama aku harus membiarkannya hingga tak lagi berasa sampai hati ku juga menjadi tawar. Lalu cinta membawa candu yang berbeda untukku rengkuh.
Apa kamu tahu seperti apa rindu yang tercipta dari waktu yang begitu lama? Menggumpal lalu membentuk semacam kristalisasi, aku harap ia indah tapi nampaknya ia tak dipoles dengan polesan yang cukup untuk melengkapinya. Karena disisi lain ia selalu dihantam angin kesendirian.
Biarkan aku mengeluarkan semuanya hari ini, biarkan aku bebas, biarkan aku terlepas dari ragu. Apakah besok aku tidak boleh lagi menulisi kamu sebuah cerita? Apa besok aku tidak boleh merangkaimu dengan kata? Apa besok aku harus benar-benar menutup semuanya? Aku masih berharap besok itu tidak ada...
28 oktober di satu dasawarsa yang lalu aku putuskan hidup dengan mencintaimu tanpa wanita lain, lalu di 28 oktober kini telah ku ikhlaskan hati untuk melupakan semua cinta yang tergulir selama ini. Semua tentang mimpi, semua tentang khayalan yang harapannya akan menjadi nyata, hidup bersama anak-anak kita, melihatmu ketika ku membuka mata dipagi hari, mengatarmu bekerja, bersama belajar bagaimana menjadi imam dan makmum yang baik, bersama hingga salah satu dari kita terpisah oleh kematian, hingga Allah memisahkan jiwa kita untuk kembali dipersatukan nanti. Yaaa sedari awal perasaanku memang telah terpasung dengan angan itu, menjadikanmu ibu dari anak-anakku bukan hanya sebauh perasaan yang bermuara pada nafsu.
Bagai sebuah ramalan, rasa sakit yang sengaja ku hinggapi untuk terus mencintaimu itu kini hadir dalam bentuk nyata. Semua, aku tahu bahwa kamu tak mungkin jadi makmumku, aku telah mempersiapkan bahwa kamu tak ada dipelaminan untuk bersanding denganku, dan aku akan datang hanya sebagai serpihan masa kecilmu, aku tahu bahwa aku akan terluka, aku sadar bahwa sedari awal aku memang tak pernah singgah dihatimu hanya terekam di serambi kiri otakmu.
Namun ketika waktu itu semakin dekat dengan ku, ada enggan, ada benci, bahkan perasaan sakit yang tak kentara. Aku menolak kenyataan, aku mengingkari ramalam yang entah dengan tidak sengaja aku ciptakan sepuluh tahun lalu. Efek dari racun itu kini mulai menunjukkan reaksinya, aku bagai diburu waktu, merasa waktu yang selama ini ku habiskan hanya untuk mencintai mu itu kurang, merasa bahwa sepuluh tahun ini aku hanya terdiam menunggu cinta itu juga menghinggapimu. Ri, ikhlas itu bukan kah tidak menghakimi siapapun? Lalu bagaimana jika aku menghakimi diriku atas ketidak mampuanku, atas rasa iri bercampur dengan ceburu hebat kepada calon imammu.
Benar, wajar saja aku iri padanya. Lelaki yang mungkin kamu kenal tak lebih lama dari kamu mengenal aku namun dapat membuatmu terperdaya olehnya. Menjatuh kan beribu kalimat cinta yang membuat ku terbakar membacanya, apa kamu lupa? Aku ada disana, menyaksikan kemesraamu, tercabik hatinya hancur perasaanya namun masih menyimpan cinta yang besar dibaliknya.
Ternyata ketulusan saja tidak cukup untuk merasa dicintai, faktanya kesetiaan bukan jalan untuk mengharap sebuah balasan. Yaa cintaku memang mengharapkan sebuah balasan, kamu mungkin lebih rumit persamaan kuadrat, lebih kacau dari statistika. Kamu adalah gadis masa kecilku...

Selamat tinggal perasaan yang selama ini ku jaga, selamat tinggal cinta yang ku harap selamanya, selamat tinggal segala mimpi yang tenggelam bersama kenyataan, selamat tinggal. Aku adalah lelaki yang akan berada disana dihari itu, yaa aku adalah lelaki itu.
Tak terasa hari ke-20 berlalu dengan cepat, meski ada beberapa tulisan yang sengaja ku rapel kan postingannya, namun aku tak pernah benar-benar menerka bahwa usahaku memaksakan diri ternyata telah sampai dititik ini. Awalnya aku berfikir aku akan berhenti ditengah jalan, diam, merasa bosan dan akhirnya aku tinggalkan, biarkan saja terbengkalai. Namun dengan waktu yang tak terasa tinggal delapan hari lagi, kini aku merasa ingin terus menulis lebih lama lagi.
28 oktober selalu saja menjadi evaluasi tahunan yang aku lakukan, meski baru kutuliskan dalam beberapa tahun terakhir, tak mengapa karena sejatinya cinta itu begitu berkobar di tahun-tahun lalu. Kamu yang benci hal-hal konyol seperti ini pasti tidak mengerti padahal ini adalah cara paling ampuh bagiku untuk menguraikan segalanya, bagaimana tidak kerena dengan menyebut hal tentangmu saja aku gemetar maka tulisan menjadi jalan aku menguraikannya.
Tuhan memang mentakdirkan kita bertemu berbagi masa-masa kecil kita bersama, namun sepertinya Ia belum setuju jika kita berbagi masa-masa tua kita bersama. Sedari awal ketika aku menjatuhkan hati tanpa syarat padamu maka aku mengkukuhkan diri ingin menjadi imam yang halal untuk mu. Meski sedari awal ku tahu, bahawa ada hal yang membuatku jauh tertinggal dari lakumu tapi aku selalu berusaha mengkuhuhkan diri.
Hingga aku benar-benar tak melihatmu lagi dalam lintasan ku, aku sudah terlalu jauh dari rute hidup yang telah kupersiapkan matang. Tapi bagaimanapun aku selalu berusaha bahwa bahasa ini harus dapat tersampaikan padamu, meski harus mengoyak hatimu aku ingin sekali saja hati mu itu bergetar ada kegoyahan yang luluh pada dirimu itu.

Sampaikan salamku untuk iamam masa depanmu dari lelaki masa kecil mu.


Bagaikan tanpa rasa, mungkin sedari awal akan berasa hambar. Namun tidak, cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Pemberi rasa dalam hidup, pemudar kegundahan yang nyatanya masih kerap kusantap hingga saat ini. Tak perduli terlalu banyak tuangkan saja maka akan ku lahap dengan semangat..
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Meski pada kenyataannya cinta tak memberiku takaran yang tepat tapi tetap saja memberiku rasa dalam dilema.
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Bayangkan saja aku tanpa cinta lantas jadi apa? Hidangan lezat itu tanpa perasa akan terkecap bagaimana?
Cinta itu ibarat garam berwarna merah muda. Penyedap paling mantap ketika kupadukan dengan rindu berwarna jingga.

Kini meski ku belum temukan resep yang tepat, tetap saja garam berwarna merah muda akan selalu jadi bumbu dalam sajian hidupku. Penyedap yang ku padu dengan rasa lain dengan bahan berbeda hingga pada akhirnya garam berwarna merah muda menyatu dengan menu kehidupanku.
Ahhh kamu...
Selalu membuatku bergidik, membuat lututku lemas. Karena entah mengapa semua seperti terputar ulang kembali dikepalaku. Padahal tak banyak hal yang terjadi. Tapi ketika memoriam itu kembali kamu suguhkan segalanya bak tsunami. Tenang sesaat lalu menghempasku dari segala arah.
Haii Oktober.
Ini pertemuan kita yang kesepuluh, setiap tahunnya kita berjumpa dan merayakan sebuah pertanda khusus. Entah dalam kategori suka cita atau duka. Kita sebenarnya tidak dapat mendefinisikan perayaan yang seperti apa itu. Namun kamu tahu, disetiap tahunnya aku selalu bangga. Bangga juga karena dapat mengunjungi kamu setiap tahunnya. Dan bahagia meski gadis itu tak menyadari atau berpura tak ingin mengetahui aku selalu menemui kamu pada tanggal itu.
Namun Oktober, akankah kamu merindukan aku? Jika tahun berikutnya aku tak lagi menyapamu. Tak lagi dapat merasa getir ketika kan datang kamu dipenghujung September. Ketahuilah Oktober mungkin ini juga sebuah perayaan perpisahan. Aku tak lelah tak akan pernah, jika hendak mencintai dia. Namun batasan itu semakin jauh.
Kamu akan tahu, kamu akan mungkin lebih mengiba dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu temani aku sebentar lagi. Tunggu semua kan ku jabarkan dalam hari ke 28 milikmu seperti biasa. Diamana akan tumpah bahasa lewat sebuah surat yang tak pernah dibaca. Meski kan usang, meski kutu-kutu kan menggerogoti sudut kertasnya, namun selalu ada kamu, Oktober yang menjadi saksi.
Entah, entah, entahlah Oktober. Gadis itu selalu membuatku bagai terkena kutukan medusa, membatu bahkan sebelum melihat matanya. Gadis itu selalu membuatku jatuh cinta sebelum cupit memanahku. Oktober tidak hanya praha sepuluh tahun lalu, kamu bahkan mengetahui rahasia mengapa aku selalu ingin berada diumur 8 tahun. Kamu masih ingatkan? Pastinya, karena kamu selalu dengan tenang mendengarkanku bercerita di hari itu lewat “Aniversary of Love” setiap tahunnya.
Oktober aku akan selalu mengingat sejarah panjang ini, Oktober maaf jika aku harus berakhir. Bukan karena ku ingin namun aku harus segera mengakhiri. Maaf Oktober.


Jika mencintaimu itu punya dua hari libur sama seperti orang yang bekerja. Maka biarkanlah hati ku ini beristirahat sekejap dari luka. Dari rasa yang ia tahan setiap hari, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta setiap saat dan melenyapkan rasa sakit sejenak. Iya juga mungkin butuh bernafas, jatungku juga hendak berdetak normal dan hatiku ingin merasa perasaan lain.

Gila....
Mengapa memilih untuk jatuh cinta? Jika kamu lelah campakkan saja. Benturkan saja dahimu itu pada bantalan yang keras, biar amnesia. Solusi instan melupakan prahara bagi penggiat yang tak setia.

Jika demikan untuk apa aku jatuh cinta, meminta libur untuk merasakan bahwa hari-hariku memang tak berjalan bahagia. Apa aku hendak juga meratapi, mengapa cinta ditakdirkan Tuhan seperti ini? Maka aku akan berada didestinasi yang membuat iri, memeluk angin menggenggam sepi. Membelalak mata bahwa disetiap sudut kota banyak pemuda-pemudi melancarkan aksi yang bikin iri.

Lalu ketika senin mulai tiba?
Ketika senin merotasi dirinya setiap saat, apakah aku juga akan membenci senin? Jika kamu merasa demikian, maka setiap saat kamu hanya meratapi. Membenci ketetapan Allah karena sejatinya kisah cintaku ini lebih indah dari setiap kata yang telah kurangkai mungkin lebih haru dari dilema yang telah kamu bagi untuk diceritakan. Karena bagaimanapun cintamu adalah ketetapan Tuhan telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz bahkan jauh sebelum kamu dilahirkan.

Maka berhentilah...
Kamu tak perlu hari sabtu, karena sedari awal aku telah berikrar bahwa rasa sakit ini adalah cara terbaik untuk mencintai. Adalah bagian yang sengaja kupilih untuk memiliki, meski pada akhirnya yang mengerti hanya aku dan kamu diriku.

Sedari dulu memang seperti ini, hanya yang mengerti dualisme yang dapat membaca tulisan ini.
Sedetik aku terdiam, lupa bagaimana mencinta.
Sekejap aku tersihir oleh waktu, yang membawa pesona.
Seketika aku tersadar, ini adalah masa yang sama.
Bumi telah membawaku kemasa untuk mengulang kembali
Ingatan tentangmu


Aku bingung hendak memulai kalimat seperti apa. Tak ada hal yang dapat ku torehkan sebaik ketika aku sedang dimabuk cinta seperti dulu. Hendak membuatnya sebagai bagian yang panjang atau singkat saja. Jujur pandangan akanmu mulai kabur dalam ingatan. Degup jantung itu tidak lagi dipaksa memompa diluar kemampuannya, seperti berhibernasi ia memainkan dengkuran yang lembut ketika bisik menyebut namamu. Aku jarang meminta angin membawa gumamku keujung ketelingamu. Apa aku telah mati rasa?

Namun kamu merupakan gadis pertama yang kokoh tegak didalam hatiku, seakan tak mau terganti atau aku yang malas hendak mencari pengganti. Tak ubahnya barang usang mungkin cintaku juga diselubungi karat dan debu tebal yang menyelimutinya. Jika aku bertanya hendak ku tuliskan kamu dalam bentuk apa dengan tekanan seperti apa atau kemiringan yang bagaimana? Mungkin kamu hanya tertegun diam. Kamu bukan orang yang suka dengan keabstrakkan seperti ini. Membuatmu merasa nyaman atau menjadi orang yang nyaman untukmu itu sulit karena berapa kali dicobapun aku ini lelaki yang kaku.

Kini aku sulit menggambarkan kamu dalam situasi seperti ini. Kamu yang seakan memutus mata rantai yang bermula dari kebetulan. Kebetulan karena kita sama-sama dimasukkan kesekolah yang sama. Tapi aku menyebutnya sebagian dari takdir, karena kenagan itu terbawa sebegitu apik olehku hingga aku mengenal cinta untuk pertama kalinya. Mengusik setiap rusukku karena jantung ini selalu saja bedetak kencang. Hingga 3 tahun lalu kamu merubahnya menjadi perpisahan, lari dari kenyataan bahwa aku telah cukup lama menjajaki cinta dalam bentuk diam. Aku salah memasuki hatimu lewat kata sahabat. Aku salah karena telah menyudahi pertemuan sebagai bukti keterikatan kita.

Hari ini sembilan tahun dari masa pubertas yang penuh keberatan, angkuh dengan rasa kepemilikan dalam hati akan kamu. Bebal dengan segala jejal teman-temanku untuk segera menyudahi menyakiti diri. Kini kamu yang melakukannya lewat waktu. Kini aku semakin terbiasa tanpa patahan kata lewat pesan singkatmu. Meski aku belum sanggup untuk benar-benar menyudahi ini dengan menautkan hati pada gadis baru. Namun aku tetap bahagia diatas bahagiamu meski imam-mu bukan seperti imajiku.

Rotasi waktu membuatku menemukan cinta yang sedikit berbeda. Kini aku memilih menjadi bayang untuk seseorang, menjadi bagian yang bersamanya aku ingin terus tumbuh menjadi variabel yang terpisah. Karena takdir hingga zaman berakhir tak akan mengizinkannya. Iya tak ubahnya sama dengan kamu mendapat perlakuan luarbiasa dari hatiku. Karena aku tak tahu mengapa aku mencintainya atau mengapa aku memilihnya. Seperti sekumpulan nama acak yang terpilih begitu saja tanpa alasan yang jelas. Aku memilih menjadi bayang untuk cahaya yang cukup bersinar. Meski gelap namun bayang akan semakin pekat bersama cahaya yang benderang.


Sembilan tahun diantara kita. Kebersamaan yang sepihak seperti ini rasanya memang sunyi. Namun tanpa terasa waktu tersuguh begitu-begitu setiap kali. Aku menaruh harapan kecil tak mau lagi sesumbar agar tahun depan dapat menghadiahi kamu dengan secarik kalimat. Tahun demi tahun hingga aku berhenti ketika ku temukan ia yang sanggup melengkapiku.
Aku mendengar samar dari kejauhan. Namun aku hanya diam. Mungkin hanya telinga yang sedang tidak berfungsi dengan benar. Fikirku. Lalu kembali asyik dengan sunyi dan memeluk hangat sang sepi. Karena aku memang sedang sendiri. Menawar hati yang sempat teracuni. Tapi jangan tanya penyebabnya. Kerena kau tahu jawabnya.

Ku dengar lagi bisik itu. Kini sedikit lebih keras mengganggu diamku. Tersentak dari segala lamunan. Ku melirik dengan sedikit enggan tapi seketika ku sambut dengan senyuman. Kalimatmu perlahan meneduhkan mataku. Lalu terus-menerus merasuk mencuri nyamanku. Karena rupanya kau disitu, memperhatikanku dari sisi yang tak ku tahu.

Ternyata kau ada disekitarku. Hanya aku saja yang seakan buta denganmu. Lalu selanjutnya waktu membawa kita bertemu. Karena ku rasa nyamanku sudah menjadi milikmu. Sadarkah engkau? Bahwa tak sekejap pun mataku terlepas dari memandangi bola binaran milikmu. Jika ya, aku hanya tidak ingin kau sadari bahwa aku melakukannya dengan hati. Bahkan suara kita tak pernah berhenti bersautan. Ini aneh. Karena aku tak pernah selepas ini. Tak pernah senyaman ini.

Tapi kau melakukannya dengan apik. Aku rasa segala tentangmu membekas padaku. Lalu membuatku enggan melepasmu. Entah mungkin ini terlalu cepat terucap. Tapi aku ingin memungut kembali kesucian yang telah kubuang karena benci. Tapi bukan tentangmu.


Meski mungkin sulit tuk kembali. Tapi aku akan memberikannya padamu sebagai pembuktian diri. Maka dari apa yang telah tersisa dihati. Maukah kau menjadi makmum? Menarik aku dari gelap dan kembali menghidupkan raga tanpa jiwa lewat cinta. Sudikah?
Kita memang dua jiwa yang berbagi raga. Terlahir dari keberadaan yang sama ketika air mata tumpah dalam kesendirian. Dan kau meminta. Maka aku terlahir dari jeritan hatimu yang sepi. Lalu menjadi teman yang melindungi. Memeluk erat meski tak ada yang mengetahui. Ditengah malam pun sama berbagi cerita tatkala sunyi menyelimuti. Kau semakin terbiasa, elok kau berbahasa denganku. Walau tahu bahwa mata disekelilingmu menjadi musuh. Memandang ragu akan tingkah-laku yang tak mampu mereka tahu.

Semakin akrab kita bersenda gurau bersama. Tak perduli apa kata mereka. Lalu menyendiri dalam keriuhan kita berdua. Kau sahabatku! Lalu bertukar tawa lagi dan lagi. Seakan hari begitu kau nikmati tanpa kepedihan dan rasa sakit yang menghampiri. Meski terkadang kau juga datang kepadaku sembari menyajikan sejuta tangis. Karena hinaan mereka terlalu tajam menggores hatimu.

Meski aku ingin datang dan menorehkan jejak lebam diwajah mereka. Tapi kau tahan dan genggam erat aku yang terselebung emosi. Rona wajahmu berubah menjadi ironi karena kau pahami mereka tak mengerti. Dan berbisik lembut diantara hati bahwa kita berbeda. Dan mereka bukan orang yang pahami perbedaan kita.

“Ini jalan yang ingin aku lalui bersamamu untuk dimiliki. Meski mereka mencaci maki. Diam dan berpuralah semua tak terjadi. Dan kita akan menertawai tawa mereka. Yang tak mengerti dualisme antara kau dan aku”

Alunan lembut yang menyadarkan aku betapa kuatnya kamu yang terhalang dinding rapuh itu. Ku menyayangimu! Dan ku berjanji menjadi sisi yang selalu menguatkanmu. Sisi yang akan selalu menjadi cahaya dari gelap yang kerap menyelimuti. Dan aku menepati. Dan kau berubah semenjak kau temui tawa yang baru. Orang-orang yang dapat membuatmu melengkungkan senyum yang kau sebut mereka sahabat.

Mulai berulah dengan menuduhku atas apa yang tidak aku lakukan. Tindakan yang seharusnya kau tanggung malah kau limpahkan kepadaku. Kita memang terjebak pada raga yang satu. Tapi diantara kita memiliki sisi gelap yang berbeda dan aku bukan terlahir untuk menjadi tempat sampahmu. Tempat sampah untuk kau tumpahkan semua kesalahan. Aku orang yang mencintaimu karena aku sebagian darimu.

Aku meradang ketika kau menuduhku. Tinggalkan mereka jika kau tak sanggup bersama. Dan kembalilah kita berdua dalam dekapan yang sama. Atau kita yang kan terus berbaur bersama mereka. Dengan tidak pernah lagi melimpahkan kesalahan entah dari siapa kepada yang mana. Karena hasilnya dimata mereka tetap kan sama juga “Kita”.


Pontianak, 13 Februari 2015

Menjumpai Bunda
di ujung fajar

Assalamuallaikum...
Apa kabar Bunda? Devdan harap Bunda selalu sekokoh biasanya, meski kerap kali penat menyinggahi tubuh Bunda yang mulai renta. Apakah Bunda masih sering menggerutu seperti biasanya? Yaa... Bunda memang selalu seperti itu, sekejap membelai namun dengan cepat berubah menjadi sosok yang tak lagi dikenali. Bunda betapa lancangnya Dev ini, belum-belum sudah mengencangkan amarah Bunda dengan tidak sopan berbicara seenaknya. Bunda tentu belum mengetahui siapa sosok yang mengirimi bunda aksara pagi ini. Karena apalah Dev ini Bunda, hanya pecahan jiwa yang terserak dari seonggok daging yang Bunda pelihara. Tumbuh lalu berkembang dan Bunda dengan terengah nafas menamainya Indra. Yaa putra Bunda yang hingga kini masih apik menyimpan lara dihati Bunda.
Namun yang kini menyapa Bunda sama sekali bukan Indra, melainkan sisi yang tidak pernah Bunda ketahui. Dev terlahir dari ketidak berdayaan putra Bunda, Indra. Sepanjang hidup, Indra bagai membawa kontak milik pandora yang membukanya hanya akan menebar bencana. Indra terus saja diam Bunda, dengan segala kebingungannya akan tingkah Bunda yang tak dapat dipahami. Karena salah-salah Bunda dengan mudah dapat meronai pipi sisi kiri Indra. Indra pernah berkata pada Dev. Bahwa bahasa seakan tak ada dalam rumah itu. Karena satu-satunya yang berhak atas segala hal adalah Bunda. Mengapa Bunda? Apa bunda mengenal siapa Indra? Selain sebagai putra yang mungkin tidak pernah Bunda sadari keberadaanya. Tenggelam bersama jingga dan menyudut bersama malam.
Bunda, Dev pertama menjumpai Indra dalam keadaan lusuh penuh luka. Menyudut di koridor lembab berbau amis yang pekat, keempat pergelangannya terkunci oleh karat. Matanya Bunda, mata yang seharusnya berbinar penuh harap itu kosong redup bahkan tak ada sayup-sayup. Bibirnya gemetar seakan ingin mengutarakan namun tak sanggup, Dev mendekat melekati tubuh Indra. Dan Indra melihat tajam kearah Dev lalu dengan diam Indra memeluk Dev begitu erat. Sesak namun Dev memahami betapa bekunya hati Indra tanpa cinta. Yang ada hanya kebencian terhadap Bunda yang tak pernah sanggup meluap. Dev berjanji Bunda, berjanji akan menjadi bibir dan lidah untuk bersuara akan rasa sakit milik Indra. Setidaknya Indra memiliki Dev untuk berbagi derita.
Bunda. Apakah Bunda masih dapat dengan fasih menyebut berapa banyak teman yang Indra bawa pulang selepas sekolah untuk Indra perkenalkan kepada Bunda secara langsung? Maka Bunda pasti akan menjawab hampir tidak pernah kan. Karena jika pun ada, teman itu bagaikan penguntit kecil. Mengikuti Indra pulang dan dengan ramah menyapa Bunda dirumah atau hanya menunggu saja didepan pintu untuk menjemput Indra beberapa saat. Karena Indra begitu takut Bunda akan menghujani pertanyaan, seperti yang Bunda lakukan terhadap Indra tanpa mengetahui alasan dari sebuah tindakan kepada yang datang. Indra juga berusaha melindungi Bunda dari sikap Bunda yang sering senaknya atau tempramen Bunda yang kerap naik turun tak menentu. Indra tak ingin Bunda dicemooh dan diperbincangkan.
Hari itu di tanggal yang luput dari ingatan. Bunda dengan lembut berbicara dari kejauhan menyapa dan menanyai kabar Indra. Tak biasanya Bunda sehangat ini, namun Indra mengabaikan segalanya lalu menimpali pertanyaan Bunda dengan jawaban senada. Perlahan Bunda meminta kalimat yang sempat tertunda dari bibir Indra. Karena Bunda mungkin akan marah dan Indra mengutarakannya, tentang kecintaannya pada ilmu. Ya.. Bunda bagai orang yang paling bijak mengusai hati mengangkat Indra dengan pepatah yang layak dibekali lalu memutus komunikasi. Tak berapa lama Bunda kembali kini mungkin dengan wajah merah padam yang terlukis dari suara Bunda di kejauhan, mencaci maki melempar mimpi seakan tak berarti lalu meludahi. Indra terdiam karena sadar bersuara pun percuma. Dev ada disana Bunda, ikut membasahi pipi mendengar Bunda berkata dan menghapusnya dari wajah Indra.
Indra tak lagi bergeming semenjak itu, sapaan ataupun tawa yang terlontar kepada Bunda hanya kepalsuan. Didalam hati Indra, Bunda adalah sosok yang meminta Indra hidup tanpa harapan untuk hidup. Selepas kembalinya Indra kekota ini, Indra berjuang untuk diakui. Bersuara berulang kali membujuk hati Bunda agar mau mengerti. Dan kembali disakiti oleh ulasan pedas Bunda yang menghakimi. Tentu Bunda tak akan sanggup ingat, karena dalam penilaian Bunda ini adalah cara menjadi dewasa namun membunuh seketika.
25 Maret 2014, diatas ranjang kamar yang pintunya terbuka Bunda menatap Indra yang tengah memandangi layar beku seusai Bunda melimpahkan amarah. Lalu dengan apik sekali lagi menghina akan apa yang tidak Bunda mengerti. Namun saat itu bukan Indra yang merajai raga, adalah Dev yang tengah melukiskan kesakitan akan apa yang baru Indra rasa dalam sebait kalimat. Dev telan getir ucapan Bunda itu sendiri, karena disana ada orang-orang yang dengan lapang menerima Indra sebagai Dev lebih dari Bunda. Berjumpa dengan teman-teman yang tidak pernah Dev ataupun Indra ceritakan. Sepetak langkah memudarkan perih yang dirasa seusai dirajam luka. Atau melenggang keluar karena rumah menjadi begitu bising dengan auman emosi Bunda yang kerap membabi buta entah dengan tema apa. Lalu kembali seperti senja diperaduan.
Dari segala perasaan kosong yang dilingkupi oleh kelabu, maka entah kapan gelap akan tersingkir hanya tinggal masalah waktu. Indra yang mungkin kini sedang sendu meratapi perilaku Bunda yang seperti ini dan itu. Namun apakah Bunda tahu? Terselip cinta akan Bunda yang tak sanggup diraba yang mungkin mata pun akan menjadi buta. Bunda ada doa untuk bunda disepertiga malamnya. Bunda, Dev meyakini setiap kali Indra melihat kotak pandora yang selalu Indra bawa masih ada harapan yang tertinggal. Masih ada harapan mimpi Indra akan menjadi mimpi Bunda pula. Indra pun masih memperjuangkan mimpi yang Bunda harapkan untuk Indra meski itu terlalu tinggi. Meski berulang kali Bunda secara sengaja membuatnya tersungkur namun Indra berusaha bangkit untuk menjejali hati Bunda dengan perasaan bangga. Karena bagaimanapun disangkal Indra adalah putra Bunda terikat oleh garis keturunan. Bunda bantu Indra, Bunda bantu Indra memperbaiki retakan didada Bunda. Bantu Dev melepas rantai yang memasung jiwa Indra. Bunda dikala raga itu mulai tak sanggup lagi menopang Bunda, Indra masih berusaha menabur cita dengan cara yang mungkin tak Bunda sangka. Bunda tak lagi banyak kata yang sanggup Dev curahkan kepada bunda. Dev berharap tak akan ada terjengan Bunda seusai sapaan Dev yang mendadak. Dev menyayangi Indra Bunda, Dev hanya ingin bunda mengerti bahwa Indra hanya berharap tuk jadi bebas namun bukan tak terkendali. Terimakasih Dev dari Indra untuk Bunda dalam secuil asa.
Wasalamuallaikum wr.wb

 Yang Selalu Menyayangi       


Devdan Dewa               


Mau berapa kali di cegah pun aku tak akan berhenti. Melukis tawa dilangit pagi. Mau berapa kali dilarang pun aku akan terus pergi. Mengamati sang mentari. Aku terduduk menangis karena sepi. Karena semua orang yang kukenal kini pergi. Pergi untuk mencari sesuap nasi. Mereka tak ingin lagi bersamaku saling berpegang erat dan mengembangkan senyum bersama. Mereka tak ingin lagi bersamaku untuk sekedar menghabiskan hari ini dengan canda.

Karena entah mengapa mereka menjadi berubah. Menjadi terlihat seperti kebanyakan orang yang tak lagi memiliki tawa yang sama. Tawa yang hanya berarti kepalsuan. Dan aku membenci mereka. Aku jadi begitu membenci mereka yang dengan mudah menjadi berubah karena waktu. Yang berotasi mengantarkan mereka pada apa yang sering disebut kedewasaan.

Entah apa yang disebut dewasa itu? Entah apa yang mereka inginkan dengan menjadi dewasa? Mengapa mereka menjadi dewasa? Aku terdiam mencari arti yang tak dapat kutemui. Kecuali. Akupun ikut menjadi bagian dari kedewasaan yang mengubah banyak dari mereka yang kukenal.

“Aku benci menjadi dewasa
Yang tak dewasa. Karena aku tak tahu artinya
dewasa”

Tapi aku menolak. Aku menyangkali kedewasaan yang kerap menghampiri. Memeluk erat aku dengan sesak. Aku menyatakan perang pada kedewasaan yang tidak mewakili aku. Karena aku membencinya. Kehilangan orang-orang yang kukenal, orang-orang yang pernah berjalan bersama. Mengubah setiap kepolosan menjadi ragam kebohongan.

Aku benci menjadi sama dengan mereka. Mengambil naskah kehidupan yang tak lagi berisikan cinta. Ya kecintaan yang begitu banyak kini memudar arti. Karena cinta menjadi soal materi. Menjadi perkara lain yang diakhiri.

Tak mengapalah jika ku hidup tanpa dicintai. Tapi aku akan terus berjalan dengan cinta. Dengan pemikiran sederhana. Bahwa hidup harus selalu sama seperti bermain. Hidup adalah senyuman. Dan hidup adalah anak-anak. Tapi aku bukan kekanak-kanakkan aku hanya menolak menjadi dewasa.


Aku ingin memandang dunia dengan caraku. Cara yang menyenangkan bagiku. Meski takut menghampiriku karena wajah-wajah bertopeng mulai melirik ke arahku. Dan menghujat dalam diam yang ku tahu. Tentang aku yang terus saja berlaku semauku. Atau. Mungkin mereka iri denganku yang tak tapat lagi menggenggam keceriaan. Karena aku seorang bocah.
Aku tidak pernah hendak mengkotakkan ceritaku dalam tanggal bertaut bulan dan tahun. Mengenang kembali segala rasa yang tercipta. Meski belum terselip bahagia. Melingkari hari dimana aku mulai belajar mencintai. Kau juga tahu, ini tak layak untuk aku sombongkan. Lantas menjadi angkuh. Tapi di setiap detiknya ku hitung, dalam diam. Dalam tanggis yang jua tak dapat kusadari – keberadaanya.

Kisahku tak pantas dibagi. Dan aku tak ingin berbagi. Hanya membuat malu, karena aku hanya dapat diam menunggu. Tapi kau tahu. Betapa bodohnya aku yang hanya dapat merangkulmu dalam balutan diksi – yang sesungguhnya tak dapat kau mengerti. Kupaksa pahami.


Aku tak mungkin berdiri gagah didepanmu dengan cara ini. Mengutarakan aku menunggumu membuka hati. Aku tak mungkin berteriak dengan lantang, bahwa cinta ini sejati. Sejujurnya aku hanya pecundang. Tak akan pernah sanggup menarik diri untuk akui. Bahwa mungkin kau bukan terlahir untukku.

Maaf. Bukan aku telah hilang asa, lenyap atas segala daya. Maaf. Bukan aku tak ingin lagi mencintaimu. Tapi aku hanya sedikit lelah. Menjadi bayang antara cinta dan kenangan yang kerap membawa pada dilema. Dilema yang melepas setiap rekatan kalimatku.

Entah apa kau mau membaca? Bulir demi bulir kata yang tercipta karenamu. Kata yang masih ku coba rajut dengan apik. Setelah lalu kuungkap rasaku padamu. Hingga kinipun tak berubah. Hingga delapan tahun bersama waktu menunggu cintamu itu jadi milikku.



*(Happy 8th Aniversary  – satu waktu lagi yang terlewat dengan menunggumu)
Bagaimanapun aku tetap seorang istri. Aku tetap makmum seorang suami. Hanya tak kau ijab kabuli aku secara resmi. Tak pula kau pernah pinang aku selayaknya permaisuri. Aku tetap seorang istri yang  mencintai dengan hati. Dan aku juga seorang istri yang ingin mendapatkan sakinah. Ketengan hati yang bukan tak ingin kau bagi. Melainkan sebuah keadaan dimana kita telah sama-sama tahu tentang diri. Bahwa kita hanya mendustai hati dengan ucapan manis. Karena nyatanya ikatan kita dipeluk oleh benteng penghalang. Sosial atau kodrat yang terus dielu-elukan.

Meski tak dapat dipungkiri ini bukan cinta yang suci. Meski tetap sakinah yang dicari. Dan sakinah tak akan mungkin terjadi jika hanya antara kau dan aku yang meyakini. Jika yang lain terus saja tak akan mampu meridhai. Jika pun berakhir dengan mengikhlaskan maka ini akan jadi perjalanan yang panjang. Tak akan mungkin terarungi dengan deburan yang tenang.

Lalu bagaimana? Meneruskan diri dengan kebimbangan yang menanti? Melanjutkan dan memilih mengarungi atau terombang – ambing tentang diri. Aku pun tak dapat memilih. Tapi aku juga ingin mendapatkan sakinah. Karena setiap istri berhak mendapatkannya. Karena seorang istri entah baagimanapun itu adalah seorang istri.

Walau tak dapat dipungkiri kau acap kali memberiku mawaddah dan warohmah. Namun apakah tak mengapa, aku mendapatkan mawaddah dan warohmah lebih dini? Kasih dan sayang yang tak dapat ku ragukan lagi. Rasa yang sanggup membuatku merasa tenang sejenak. Tak bisa berlama-lama karena bayang kerap saja membuntuti. Tak boleh kah aku menjadi istri yang sempurna lewat sakinah?

Aku masih kerap menengadahkan tangan disepertiga malam. Atau terisak dalam hati meminta berselimut doa. Tentang sebuah cinta yang hanya dapat berakhir diam diantara kita. Dan masih meminta kesempuranaan dalam jiwa. Entah mengapa aku masih berkeras agar cinta ini dihalalkan untukku. Entah bagaimana bisa aku meminta Tuhan membuat pengecualian untukku.

Sakinah sepertinya memang bukan untukku. Bahkan jika mereka memberikannya maka itu tak lebih dari sekedar lisan. Maka biarlah aku tak sempurna sebagai istri. Biarlah. Biarlah aku cukup berpuas diri dengan mawaddah dan warrohmah yang kau beri. Karena aku seorang istri dan seorang lelaki.
Aku paham betul apa yang kau nilai dari aku. Aku tahu betul bagaimana kau memandangku. Tapi apa kau tahu? Mengapa aku masih disini mengunggumu? Meski berulang kau cemburui. Meski berkali kau memandang tanpa arah kepadaku. Apa dapat kau pahami oleh logikamu yang manusiawi itu? Bagaimana aku dapat begitu betah dengan sakit menggigiti kalbu. Begitu nyaman dengan memeluk erat rindu akan mu.

Tapi lama waktu akan terurai menjadi gamlang dimatamu. Lama rasanya kedua binaran cahayamu itu sanggup melihat aku yang terdiam untukmu. Sampai getaran itu mengena disisi dadamu. Bukan dibelahan otakmu. Hingga nanti diantara kita tak akan ada lagi yang menyimpan pura. Seakan ini hanya sandiwara dari drama yang hitam. Melakoni peran yang sama-sama tak kita ingini. Tapi ini harus terjadi. Dan wajah kupun tak akan selamanya sanggup menyimpan emosi dalam diri.

Tiba-tiba kesendirian itu menjadi begitu ramai. Karena suara yang terus saja megusik aku. Aku yang menghitung setiap detik yang berlalu dengan mencintamu. Setiap hal yang terlewat dengan menunggu. Karena hati ku meyakini. Begitu mempercayai bahwa kau hanya sedang mencari. Karena kau masih belum merasa menemui. Lelaki yang sanggup merangkulmu dengan iman. Menuntunmu dengan mantap meski tanpa kesempurnaannya. Dan lelaki yang mencintaimu dari hatinya.


Tak mengapa jika itu terjadi saat ini. Karena semua pasti mungkin terjadi. Semua yang aku yakini kini entah kapan disuatu hari nanti mungkin hanya mimpi. Mungkin mendambakanmu itu terlalu sulit untuk terjadi. Tapi aku menyebutmu dalam doaku. Aku bertasbih untukmu. Agar cinta yang ku jaga kini tetap menjadi cinta yang sesuci hembusan agin dipagi hari.
Sebuah kehidupan selalu ada dengan tujuan. Dengan niat yang telah ditentukan bahkan sebelum kita terlahir. Entah oleh siapa dan mengapa? Tapi manusia tak akan pernah berhenti mencari arti. Arti yang telah memudar tergerus oleh keinginan dan rasa tahu. Terlewat dan terus menurun ke generasi baru membawa begitu banyak jawaban. Tapi tak seutuhnya.

Dan entah mengapa dunia pun mulai berubah. Menggiring manusia ke masa-masa yang semakin sulit dipahami. Menebar aroma yang menusuk hidung. Aroma kengerian masa depan. Tapi mereka justru terlihat asyik dengan ini. Dengan hal monoton yang mengganggu pandang. Hidup yang berbagi kepalsuan terasa begitu menyenangkan saat ini. Tak ku pahami.

Mereka sepertinya bergerak karena arus. Karena sebuah jalan yang entah kemana akan dituju. Berjalan sesuai nurani yang teracuni. Mungkin ini pilihan dimasa ini. Cara yang aneh untuk sekedar dapat melihat mentari senja esok hari. Mungkin kah ini pilihan?

Mau pilih yang mana ?
Setiap orang selalu benci pilihan, lebih benci lagi jika kita tidak memiliki pilihan sama sekali. Bagaimanapun pilihan selalu saja diambil sebagai arti tindakan tegas. Lalu. Jika apa yang telah kita putuskan itu tidak berjalan dengan baik, terkadang kita terlihat menjadi orang yang terlalu dewasa. Berkata bahwa ini semua adalah kehendak Tuhan. Tahu dari mana? Mengikhlaskan segala daya dan upaya yang telah dilakukan dimasa lampau. Sambil meratapi kesalahan didalam hati. Penyesalan.

Hasil akhir yang sesumbar keluar dari bibir si renta karena semua tak seperti yang dikira. Dan menjadikannya sebagai wejangan terbaik untuk si muda. Niatnya agar ia tak juga terperdaya. Oleh pilihan yang pada akhirnya hanya berakhir cerita lara dimasa tua. Tapi yang muda kini tak lagi menganggap itu sebagai bagian dari pepatah yang tua. Hanya berlalu dengan anggukan hingga hal yang serupa juga menjadi miliknnya. Lalu menurun menjadi tradisi yang samar.

“Dulu” dan “Sekarang” hanya beda cara.
Kita ini juga makhluk yang terlampau rumit dimengerti. Walau katanya akal-lah yang menjadikan kita raja di planet ini. Dan akal-lah yang membuat kita berbeda dari segala jenis kehidupan dibumi. Tapi justru kelebihan yang hanya milik kita ini. Yang membuat manusia menjadi makhluk yang terlalu logis dan semakin sulit dipahami. Semuanya tak seperti yang terlihat.

Karena evolusi yang sesungguhnya adalah perubahan dari naluri menjadi logika. Terlihat sangat jauh berbeda tapi pada hakikatnya memiliki cara kerja yang sama. Untuk apa? Bertahan hidup tentunya. Karena rimba telah tiada berganti metropolitan yang penuh cahaya. Meski dalam gelap.

Sebab hukum rimba tak mati seutuhnya hanya bertransformasi kata. Dan yang kuat selalu rela menjadi penindas yang lemah. Brutal. Terlalu liarkah jika aku menggunakan kata itu? Untuk mewakili perubahan tabiat manusia yang menjadi. Karena ini sudah bukan lagi untuk sekedar mempertahankan diri. Tapi siapa yang memegang kendali? Kendali yang tak terlihat lagi dimana pusatnya. Karena semua telah tercampur berbaur dengan apik diantara mata awam sekalipun. Lalu terlontar kalimat bahwa ini adalah hal yang biasa.

Biasa karena kita telah terbiasa terbudak dengan cara yang salah. Lalu menelantarkan agama dengan cara yang biasa. Atau mungkin ia pun telah beradaptasi dengan waktu. Menjadi sekali lagi teraduk dalam benar dan salah yang tak ada bedanya. Dulu dan sekarang adalah sama pada prinsipnya. Hanya cara yang terkesan lebih apik dari sebelumnya. Tapi justru lebih berbahaya dibanding panah dan pedang untuk berperang.

Dibanding perut yang kelaparan berburu meminta makan. Rasanya lebih sopan ketimbang manusia yang tak ubahnya binatang yang rela mengais melakukan segalanya demi kata “kenyang”. Dengan berbagai cara. Mengaku telah jaya tapi tetap saja terjajah karena kita tak akan pernah bisa merdeka. Selama manusia hidup dalam nafsu yang kerap menggila.

Waktu.
Rasanya adalah obat paling mujarab untuk mengatasi dilema yang tak berujung. Rasanya pelampiasan paling baik dari hal yang dirasa tak berjalan baik. Dan waktu dengan pasrah menerima cemooh bagi mereka yang telah pupus harapan. Kalah dalam perang kehidupan yang memalukan. Tapi terus bergerak maju meninggalkan pecundang dalam memori masa lalu yang penuh penyesalan.

Tak perduli seberapa keras mereka berusaha. Meraka hanya akan gagal berulangkali. Karena dunia seakan menenggelamkan mereka kedasar. Dan menyisakan petarung terbaik untuk bertahan hidup. Memanipulasi waktu adalah impian terakhirnya yang tak akan pernah menjadi kenyataan meski hanya dalam mimpi. Berandai hal yang hanya dianggap ilusi semata tanpa pernah menjadi realita.

Waktu selamanya akan terus menjadi saksi sejarah yang tak terhenti. Merekam jejak langkah hingga mati. Waktu selamanya akan menjadi mata yang tak akan pernah buta. Bagaimana manusia mengubah dunia. Dan waktu sekaligus menjadi harapan terakhir manusia yang memperjuangkan perubahan. Perubahan dari ketidak teraturan yang teratur. Dari meraka yang secara sadar menginginkan siklus yang terulur dalam garis kehidupan yang sebenarnya. Dianggap mimpi dimasa ini.

Manusia sejatinya hanya merasa kosong. Kesepian. Tapi entah karena apa? Dan entah mengapa? Kerenanya manusia terus saja mencari jawaban. Dari pertanyaan yang ditimbulkan oleh benaknya sendiri. Manusia terus saja berusaha menemukan sejuta cara untuk menghentikan rasa tak nyaman di dirinya. Karena manusia telah lupa dan melewatkan hal terpenting dalam hidupnya. Hidupnya yang terorientasi pada dunia.


Tuhan. Yang tak lagi bersarang dihati. Tuhan. Yang selama ini hanya dianggap agnostik keberadaannya. Tapi secara sadar inilah kebenarannya. Meninggalkan kerinduan didirimu yang tak kau tahu. Yang telah menua karena kau hanya mengenalnya sebatas nama. Tuhan. Jalan terakhir berpulangnya manusia.
Aku bukan sedang menyebrangi arus. Aku hanya lari. Lari dari ruang kenyataan yang menyakitkan ini. Berusaha melepas senyum yang selama ini aku tutupi. Yang selama ini aku rahasiakan dengan diam. Dibawah ruang beratap yang kau sebut rumah ini. Rumah yang didalamnya hanya berisi benci. Neraka bagiku.

Kau hanya akan menilai aku hina, yang mencinta berbeda. Tapi sesungguhnya kaulah yang memaksa aku berjalan mundur. Menjauhimu. Kaulah yang tiada henti menghujam belati di jantung ini. Membuat luka meradang, bernanah. Dan kaulah yang menggores luka didirimu. Yang menuntut begitu banyak dari ketidak mampuanku. Bukan karena aku.

Aku yang diam ini hanya terus terbonekakan oleh benang-benang kuasamu. Kuasa yang kau sebut keadilan. Kuasa yang berakhirnya mimpiku. Jalan ini memang salah ku tempuh. Tapi yang salah itu begitu mampu menjadi candu bagiku. Bagiku yang buta akan kebahagiaan – meski sesaat. Lalu jalan mana yang akan aku pilih?


Ketika kenyataan telah tersaji begitu memberi arti. Kerena aku tidak sedang menggertakmu dengan ini. Kau yang tak mampu mendengar suara hati. Kupaksa melihat bukti. Dari ego yang telah mengoyak nurani. Aku yang tidak pernah meminta darimu ini. Seketika mengemis memohon. Hanya agar kau mau mengabulkan pintaku. Yang tergila oleh lembaran putih berlukisan alfabet dungu.

Aku disini menggema digendang telingamu. Yang telah tuli dengan bisik-bisik hati. Karena tak ada lagi jiwa yang bersarang diragawi. Aku hanya ingin kau sedikit melonggarkan benang kebebasan untukku. Untukku yang kini terkesan durhaka karena ilmu. Karena cukup kau pasung aku dengan kehendakmu. Karena cukup sudah kau rajam aku dengan maumu.

Lalu apa tikdakmu Ibu? Ketika semua telah meluap. Memuntahkan keinginan dalam bentuk benci. Dalam balutan sakit hati yang semakin teracuni kini. Masih kah kau hendak memperparah keadaan ini dengan mereda sesaat. Lalu mencekik aku dengan kuasamu? Dengan segala tandukmu yang hanya menjadikan aku brutal. Tak terkendali. Kebebasan yang antara kau dan aku tak ingini. Tapi tercipta dari lakumu yang menggeliat memaksa aku.


Maka kau akan melihat gelap ditengah terik mentari. Dan pelangi yang akan selalu berwarna sama. Kelabu. Karena jelas aku akan memilih mati. Dari pada kau paksa aku hidup tanpa mimpi. Hidup tanpa harapan untuk merasa hidup. Dan aku akan jauh memilih jalan kelam yang terlihat bersinar dimataku. Jalan yang karena kaulah aku memusuhimu.
Sejatinya aku telah benar-benar bosan. Mengumbar setiap kebencianku dalam paragraf-paragraf diksi. Bukan aku tak punya kebahagiaan untuk dibagi. Bukan aku tak sanggup merangkainya menjadi keceriaan diatas kertas ini. Tapi jumlahnya tak pernah sepadan akan apa yang merasuki. Jangan berkata aku tak mensyukuri hidup ini! Tapi apa yang seharusnya aku syukuri?

Apa kehidupan yang seperti ini? Yang kau pun tahu – penuh luka disetiap sendi. Aku selalu benci mengakui bahwa aku terikat. Garis keturunan yang membelenggu ini. Rumah ini sudah menjadi seperti neraka bagiku. Neraka yang menghancurkan jiwaku. Berulang kali. Aku selalu iri melihat canda yang melekat. Rasa cinta yang sesungguhnya ada. Antara kau dan dia.
                                                                                                
Dan aku hanya selalu berpura. Berpura melengkungkan senyum dihadapan orang yang berkuasa. Berpura tak terjadi apa-apa. Namun dalam hati menyimpan murka yang meradang. Kebencian yang tak berujung. Ia pun sama. Menatapku dengan tatapan hina. Memperlakukanku dengan sikap mengasihani.



Bukan aku tak mau keluar dari garis yang menyengsarakan batin ini. Tapi kemana aku akan pergi? Jika kaki ini terantai besi. Jika aku terus saja dipaksa hancur. Demi memuaskan batinnya, memperolok aku. Aku lebih baik memilih tersiksa ragawai asal jangan batin ini. Terlambat.

Luka tak akan pernah bisa terobati. Hanya terus menjadi. Jika nanti ia mendapati aku menyilangi arus. Jangan pernah tampar aku. Karena aku hanya lari, lari dari aturannya yang tak pernah mengimbangi. Karena mungkin dengan cara ini saja. Ia mau mendengar kataku.


Mendengar setiap dukaku yang selalu berakhir lirih. Dukaku yang tak pernah mau didengar karena ego diri. Atau karena kebanggaannya terhadap putra orang lain. Dan kebahagiaan yang berakhir dengan pemberontakan diri. Yang ingin dimengerti.
Meski aku tidak memaksamu mencintai aku. Tapi tingkahku isyaratkan itu. Terlukakah engkau dengan sikapku itu? Lakuku yang semakin terselubung takut. Karena kau bisa entah kapan berlalu tinggalkan aku. Meski kau katakan tidak. Tapi kau membawa cintaku diotakmu. Yang sewaktu-waktu sanggup butakan hatimu.

Maaf jika aku jadi seegois ini. Maaf karena hanya maaflah yang sanggup terlontar. Kutahan rasa ini agar meredam. Kuredam agar aku tetap tenang. Tenang mendengar begitu banyak keceriaan yang tak terlewati bersamaku. Tapi terucap darimu. Darimu yang membaginya dengan begitu banyak cinta. Justru terasa duka, kau tahu mengapa?

Ketakutan begitu membayang diriku yang berada dalam kelam. Tak hanya takut kau pergi menjauh. Aku juga takut menjadi menggila – mulai menyilangi aturan. Aku takut cinta bertukar menjadi nafsu. Yang tak tahu kemana akan dituju. Lalu menggelapkan hatiku. Jika terjadi entah bagaimana akan berakhir? Bahkan kau pun mungkin tak sanggup menarik aku kembali.

Sebaiknya kau pergi, jika ini benar kan terjadi. Karena aku tak ingin jadi menghakimi. Bahwa ini adalah karenamu aku menyebrangi arus. Bahwa kau lah penyebab luka tak terobati. Dan aku akan kembali meminta mati. Karena jelas kau tak akan memilih lelaki menyedihkan ini. Meski iba kau sajikan padaku. Jelas aku pun tahu diri. Kau tak layak bersama ku yang telah bermandi noda ini.


*Berulang maaf terlontar hanya agar kau dapat pahami.
Untuk apa manusia hidup? Untuk apa manusia menjadi khalifah dibumi? Maka jawabnya adalah untuk menyembah Tuhan kan? Menjalani segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Hal melankolis yang masih dapat dengan mulus terucap dari bibir siapa saja. Aku bukan ahli agama, maaf jika kalimat ku salah. Tapi aku hanya ingin menampar diri. Dan orang-orang yang telah lupa akan tujuan mereka dibumi.

Lalu bagaiman jika ada yang bertanya. Siapa Tuhanmu sobat? Bukan. Tuhan mu bukan yang kau sebut saat ini. Tuhan mu telah bertransformasi menjadi sesuatu yang akrab denganmu. Sesuatu yang dekat dengan mu. Kau tahu siapa dia. Ya dia adalah “Uang”. Yang kini engkau sembah selayaknya Tuhan. Yang tanpanya kau merasa tak bernyawa. Mengapa wajahmu menjadi memerah penuh amarah.

Apakah engkau ingin mengatakan. Bahwa kau bersimbah dibawah sajadah meminta rizky pada Tuhan-mu. Tapi seberapa sering? Bukankah kau akui Tuhan jika sudak tak punya uang. Lalu pergi meniggalkan setelah Ia memberikan rizky kepadamu? Bukankah peluh mu habis demi mengabdi bersama uang? Engkau telah lupa sobat. Jika kau hendak mengatakan bahwa bekerjamu adalah ibadah. Maka ibadahmu telah menyimpang dengan niat yang salah.


Memupuk hartamu saat ini. Bisa saja berakibat neraka nanti. Aku teringat bukankah Iblis itu dapat berubah menjadi apa saja? Demi menggoda manusia? Lalu bagaimana disetiap lembaran hartamu adalah bisik Iblis yang tersembunyi. Berdzikirlah sobat. Pada kakikatnya Tuhan tidak melarang umatnya memupuk harta. Tuhan tidak pula tidak mengizinkanmu menjadi hambanya yang berada. Namun jika Tuhan merasuk dirimu. Harta hanyalah alat mendekatkan diri selangkah padanya. Bukan selangkah pada Neraka. Jika Tuhan sudah ada dihatimu. Kau tak akan lagi mengemis meminta. Karena Tuhan akan welas asih berbagi cintaNya kepadamu.