Showing posts with label Luka. Show all posts
Showing posts with label Luka. Show all posts
Ini adalah puncaknya setelah sempat terhenti di hari 22, ini adalah itu. Sepuluh tahun lalu aku taut kan hari ini sebagai hari dimana aku mulai mencintaimu, hari pertama kali kita kembali berkomunikasi dan kembali memulai semuanya dari kata teman. Aku selayaknya dengan sengaja menghentikan tulisan ku dihari ke 22 masih ada kecemasan disana, ragu, serta khawatir butuh berapa lama aku harus membiarkannya hingga tak lagi berasa sampai hati ku juga menjadi tawar. Lalu cinta membawa candu yang berbeda untukku rengkuh.
Apa kamu tahu seperti apa rindu yang tercipta dari waktu yang begitu lama? Menggumpal lalu membentuk semacam kristalisasi, aku harap ia indah tapi nampaknya ia tak dipoles dengan polesan yang cukup untuk melengkapinya. Karena disisi lain ia selalu dihantam angin kesendirian.
Biarkan aku mengeluarkan semuanya hari ini, biarkan aku bebas, biarkan aku terlepas dari ragu. Apakah besok aku tidak boleh lagi menulisi kamu sebuah cerita? Apa besok aku tidak boleh merangkaimu dengan kata? Apa besok aku harus benar-benar menutup semuanya? Aku masih berharap besok itu tidak ada...
28 oktober di satu dasawarsa yang lalu aku putuskan hidup dengan mencintaimu tanpa wanita lain, lalu di 28 oktober kini telah ku ikhlaskan hati untuk melupakan semua cinta yang tergulir selama ini. Semua tentang mimpi, semua tentang khayalan yang harapannya akan menjadi nyata, hidup bersama anak-anak kita, melihatmu ketika ku membuka mata dipagi hari, mengatarmu bekerja, bersama belajar bagaimana menjadi imam dan makmum yang baik, bersama hingga salah satu dari kita terpisah oleh kematian, hingga Allah memisahkan jiwa kita untuk kembali dipersatukan nanti. Yaaa sedari awal perasaanku memang telah terpasung dengan angan itu, menjadikanmu ibu dari anak-anakku bukan hanya sebauh perasaan yang bermuara pada nafsu.
Bagai sebuah ramalan, rasa sakit yang sengaja ku hinggapi untuk terus mencintaimu itu kini hadir dalam bentuk nyata. Semua, aku tahu bahwa kamu tak mungkin jadi makmumku, aku telah mempersiapkan bahwa kamu tak ada dipelaminan untuk bersanding denganku, dan aku akan datang hanya sebagai serpihan masa kecilmu, aku tahu bahwa aku akan terluka, aku sadar bahwa sedari awal aku memang tak pernah singgah dihatimu hanya terekam di serambi kiri otakmu.
Namun ketika waktu itu semakin dekat dengan ku, ada enggan, ada benci, bahkan perasaan sakit yang tak kentara. Aku menolak kenyataan, aku mengingkari ramalam yang entah dengan tidak sengaja aku ciptakan sepuluh tahun lalu. Efek dari racun itu kini mulai menunjukkan reaksinya, aku bagai diburu waktu, merasa waktu yang selama ini ku habiskan hanya untuk mencintai mu itu kurang, merasa bahwa sepuluh tahun ini aku hanya terdiam menunggu cinta itu juga menghinggapimu. Ri, ikhlas itu bukan kah tidak menghakimi siapapun? Lalu bagaimana jika aku menghakimi diriku atas ketidak mampuanku, atas rasa iri bercampur dengan ceburu hebat kepada calon imammu.
Benar, wajar saja aku iri padanya. Lelaki yang mungkin kamu kenal tak lebih lama dari kamu mengenal aku namun dapat membuatmu terperdaya olehnya. Menjatuh kan beribu kalimat cinta yang membuat ku terbakar membacanya, apa kamu lupa? Aku ada disana, menyaksikan kemesraamu, tercabik hatinya hancur perasaanya namun masih menyimpan cinta yang besar dibaliknya.
Ternyata ketulusan saja tidak cukup untuk merasa dicintai, faktanya kesetiaan bukan jalan untuk mengharap sebuah balasan. Yaa cintaku memang mengharapkan sebuah balasan, kamu mungkin lebih rumit persamaan kuadrat, lebih kacau dari statistika. Kamu adalah gadis masa kecilku...

Selamat tinggal perasaan yang selama ini ku jaga, selamat tinggal cinta yang ku harap selamanya, selamat tinggal segala mimpi yang tenggelam bersama kenyataan, selamat tinggal. Aku adalah lelaki yang akan berada disana dihari itu, yaa aku adalah lelaki itu.
Tak terasa hari ke-20 berlalu dengan cepat, meski ada beberapa tulisan yang sengaja ku rapel kan postingannya, namun aku tak pernah benar-benar menerka bahwa usahaku memaksakan diri ternyata telah sampai dititik ini. Awalnya aku berfikir aku akan berhenti ditengah jalan, diam, merasa bosan dan akhirnya aku tinggalkan, biarkan saja terbengkalai. Namun dengan waktu yang tak terasa tinggal delapan hari lagi, kini aku merasa ingin terus menulis lebih lama lagi.
28 oktober selalu saja menjadi evaluasi tahunan yang aku lakukan, meski baru kutuliskan dalam beberapa tahun terakhir, tak mengapa karena sejatinya cinta itu begitu berkobar di tahun-tahun lalu. Kamu yang benci hal-hal konyol seperti ini pasti tidak mengerti padahal ini adalah cara paling ampuh bagiku untuk menguraikan segalanya, bagaimana tidak kerena dengan menyebut hal tentangmu saja aku gemetar maka tulisan menjadi jalan aku menguraikannya.
Tuhan memang mentakdirkan kita bertemu berbagi masa-masa kecil kita bersama, namun sepertinya Ia belum setuju jika kita berbagi masa-masa tua kita bersama. Sedari awal ketika aku menjatuhkan hati tanpa syarat padamu maka aku mengkukuhkan diri ingin menjadi imam yang halal untuk mu. Meski sedari awal ku tahu, bahawa ada hal yang membuatku jauh tertinggal dari lakumu tapi aku selalu berusaha mengkuhuhkan diri.
Hingga aku benar-benar tak melihatmu lagi dalam lintasan ku, aku sudah terlalu jauh dari rute hidup yang telah kupersiapkan matang. Tapi bagaimanapun aku selalu berusaha bahwa bahasa ini harus dapat tersampaikan padamu, meski harus mengoyak hatimu aku ingin sekali saja hati mu itu bergetar ada kegoyahan yang luluh pada dirimu itu.

Sampaikan salamku untuk iamam masa depanmu dari lelaki masa kecil mu.


Nikmat mana yang hendak kamu dustai.
Apakah ini layak kamu lontarkan pada gelandangan sepertiku, yang meminta-minta pengakuanmu, yang mengais-ngais dari rasa sakitku. Aku adalah lelaki yang mencintai seorang gadis, terkutuk sebuah janji dan terperangkap masa lalu. Apa selayaknya aku mendapat simpati, tatapan mereka hanya iba, hanya cemooh yang terlontar dalam doa yang menyaru lewat bahasa yang indah. Sejatinya mereka tertawa, mereka tak pernah benar-benar perduli akan rasa menyelimuti qalbu. Aku hanya lelaki yang ikut tertawa dari laku mereka karena sejatinya mereka tak pernah mengerti. Musuhku bukan mereka, tak perlu perduli atau memperdulikan hanya melepas stamina percuma. Lawanku adalah diri berperang melawan waktu.
Hingga habis masa batas, sampai lazuardi menghilang dan mega merah itu nyala berkobar lalu padan. Sedari awal Tuhan telah menganugrahiku dengan cinta dan iblis mengujiku dengan cinta pula. Atas nama nafsu kusarukan menjadi cinta, atas nama dosa ku jabarkan seakan kesetiaan. Wujud dari cinta itu pernah kututupi, kusamarkan hingga tak terlihat. Sesaat hati ini beku atau malah telah membatu.
Darah mengalir dari seperangakat nadi pun aku tak tahu, deras menguras namun tak perduli. Hingga kebebasan menyeruak, iblis terpojok dan jiwa tersadar dari neraka serasa surga. Aku terbelalak menyadari tapi masih menikmati. Ku angkat lagi hati agar ia dapat dipatrikan pada posisinya. Terkorban jiwa demi iblis pun tak percuma karena nyatanya cinta masih memihat, nikmat lama yang Tuhan bagikan masih menyisa, separuh jiwa yang tersisa kan kumanfaatkan.
Melepas perih, mencabut belati. Aku bebas memperkaya diri untuk mendidik anak-anak matahari. Sekali lagi kan kuubah cinta dalam simbol yang berbeda, cinta terhadap sang gadis kini sengaja kukisis, membersihkan hingga kerak tanpa sisa. Meski lagi, waktu kan menjadi saksi, menjadi wali, bagaimana aku menjerat jika hingga batas akhir.
Tak masalah selama nafas masih terengah, oksigen tak kan lepas terhirup. Semakin terjerat, semakin sakit kudapat. Kamu gadis kan lenyap bersama kebebasan, ketidak adaan masa lalu.
Pontianak, 13 Februari 2015

Menjumpai Bunda
di ujung fajar

Assalamuallaikum...
Apa kabar Bunda? Devdan harap Bunda selalu sekokoh biasanya, meski kerap kali penat menyinggahi tubuh Bunda yang mulai renta. Apakah Bunda masih sering menggerutu seperti biasanya? Yaa... Bunda memang selalu seperti itu, sekejap membelai namun dengan cepat berubah menjadi sosok yang tak lagi dikenali. Bunda betapa lancangnya Dev ini, belum-belum sudah mengencangkan amarah Bunda dengan tidak sopan berbicara seenaknya. Bunda tentu belum mengetahui siapa sosok yang mengirimi bunda aksara pagi ini. Karena apalah Dev ini Bunda, hanya pecahan jiwa yang terserak dari seonggok daging yang Bunda pelihara. Tumbuh lalu berkembang dan Bunda dengan terengah nafas menamainya Indra. Yaa putra Bunda yang hingga kini masih apik menyimpan lara dihati Bunda.
Namun yang kini menyapa Bunda sama sekali bukan Indra, melainkan sisi yang tidak pernah Bunda ketahui. Dev terlahir dari ketidak berdayaan putra Bunda, Indra. Sepanjang hidup, Indra bagai membawa kontak milik pandora yang membukanya hanya akan menebar bencana. Indra terus saja diam Bunda, dengan segala kebingungannya akan tingkah Bunda yang tak dapat dipahami. Karena salah-salah Bunda dengan mudah dapat meronai pipi sisi kiri Indra. Indra pernah berkata pada Dev. Bahwa bahasa seakan tak ada dalam rumah itu. Karena satu-satunya yang berhak atas segala hal adalah Bunda. Mengapa Bunda? Apa bunda mengenal siapa Indra? Selain sebagai putra yang mungkin tidak pernah Bunda sadari keberadaanya. Tenggelam bersama jingga dan menyudut bersama malam.
Bunda, Dev pertama menjumpai Indra dalam keadaan lusuh penuh luka. Menyudut di koridor lembab berbau amis yang pekat, keempat pergelangannya terkunci oleh karat. Matanya Bunda, mata yang seharusnya berbinar penuh harap itu kosong redup bahkan tak ada sayup-sayup. Bibirnya gemetar seakan ingin mengutarakan namun tak sanggup, Dev mendekat melekati tubuh Indra. Dan Indra melihat tajam kearah Dev lalu dengan diam Indra memeluk Dev begitu erat. Sesak namun Dev memahami betapa bekunya hati Indra tanpa cinta. Yang ada hanya kebencian terhadap Bunda yang tak pernah sanggup meluap. Dev berjanji Bunda, berjanji akan menjadi bibir dan lidah untuk bersuara akan rasa sakit milik Indra. Setidaknya Indra memiliki Dev untuk berbagi derita.
Bunda. Apakah Bunda masih dapat dengan fasih menyebut berapa banyak teman yang Indra bawa pulang selepas sekolah untuk Indra perkenalkan kepada Bunda secara langsung? Maka Bunda pasti akan menjawab hampir tidak pernah kan. Karena jika pun ada, teman itu bagaikan penguntit kecil. Mengikuti Indra pulang dan dengan ramah menyapa Bunda dirumah atau hanya menunggu saja didepan pintu untuk menjemput Indra beberapa saat. Karena Indra begitu takut Bunda akan menghujani pertanyaan, seperti yang Bunda lakukan terhadap Indra tanpa mengetahui alasan dari sebuah tindakan kepada yang datang. Indra juga berusaha melindungi Bunda dari sikap Bunda yang sering senaknya atau tempramen Bunda yang kerap naik turun tak menentu. Indra tak ingin Bunda dicemooh dan diperbincangkan.
Hari itu di tanggal yang luput dari ingatan. Bunda dengan lembut berbicara dari kejauhan menyapa dan menanyai kabar Indra. Tak biasanya Bunda sehangat ini, namun Indra mengabaikan segalanya lalu menimpali pertanyaan Bunda dengan jawaban senada. Perlahan Bunda meminta kalimat yang sempat tertunda dari bibir Indra. Karena Bunda mungkin akan marah dan Indra mengutarakannya, tentang kecintaannya pada ilmu. Ya.. Bunda bagai orang yang paling bijak mengusai hati mengangkat Indra dengan pepatah yang layak dibekali lalu memutus komunikasi. Tak berapa lama Bunda kembali kini mungkin dengan wajah merah padam yang terlukis dari suara Bunda di kejauhan, mencaci maki melempar mimpi seakan tak berarti lalu meludahi. Indra terdiam karena sadar bersuara pun percuma. Dev ada disana Bunda, ikut membasahi pipi mendengar Bunda berkata dan menghapusnya dari wajah Indra.
Indra tak lagi bergeming semenjak itu, sapaan ataupun tawa yang terlontar kepada Bunda hanya kepalsuan. Didalam hati Indra, Bunda adalah sosok yang meminta Indra hidup tanpa harapan untuk hidup. Selepas kembalinya Indra kekota ini, Indra berjuang untuk diakui. Bersuara berulang kali membujuk hati Bunda agar mau mengerti. Dan kembali disakiti oleh ulasan pedas Bunda yang menghakimi. Tentu Bunda tak akan sanggup ingat, karena dalam penilaian Bunda ini adalah cara menjadi dewasa namun membunuh seketika.
25 Maret 2014, diatas ranjang kamar yang pintunya terbuka Bunda menatap Indra yang tengah memandangi layar beku seusai Bunda melimpahkan amarah. Lalu dengan apik sekali lagi menghina akan apa yang tidak Bunda mengerti. Namun saat itu bukan Indra yang merajai raga, adalah Dev yang tengah melukiskan kesakitan akan apa yang baru Indra rasa dalam sebait kalimat. Dev telan getir ucapan Bunda itu sendiri, karena disana ada orang-orang yang dengan lapang menerima Indra sebagai Dev lebih dari Bunda. Berjumpa dengan teman-teman yang tidak pernah Dev ataupun Indra ceritakan. Sepetak langkah memudarkan perih yang dirasa seusai dirajam luka. Atau melenggang keluar karena rumah menjadi begitu bising dengan auman emosi Bunda yang kerap membabi buta entah dengan tema apa. Lalu kembali seperti senja diperaduan.
Dari segala perasaan kosong yang dilingkupi oleh kelabu, maka entah kapan gelap akan tersingkir hanya tinggal masalah waktu. Indra yang mungkin kini sedang sendu meratapi perilaku Bunda yang seperti ini dan itu. Namun apakah Bunda tahu? Terselip cinta akan Bunda yang tak sanggup diraba yang mungkin mata pun akan menjadi buta. Bunda ada doa untuk bunda disepertiga malamnya. Bunda, Dev meyakini setiap kali Indra melihat kotak pandora yang selalu Indra bawa masih ada harapan yang tertinggal. Masih ada harapan mimpi Indra akan menjadi mimpi Bunda pula. Indra pun masih memperjuangkan mimpi yang Bunda harapkan untuk Indra meski itu terlalu tinggi. Meski berulang kali Bunda secara sengaja membuatnya tersungkur namun Indra berusaha bangkit untuk menjejali hati Bunda dengan perasaan bangga. Karena bagaimanapun disangkal Indra adalah putra Bunda terikat oleh garis keturunan. Bunda bantu Indra, Bunda bantu Indra memperbaiki retakan didada Bunda. Bantu Dev melepas rantai yang memasung jiwa Indra. Bunda dikala raga itu mulai tak sanggup lagi menopang Bunda, Indra masih berusaha menabur cita dengan cara yang mungkin tak Bunda sangka. Bunda tak lagi banyak kata yang sanggup Dev curahkan kepada bunda. Dev berharap tak akan ada terjengan Bunda seusai sapaan Dev yang mendadak. Dev menyayangi Indra Bunda, Dev hanya ingin bunda mengerti bahwa Indra hanya berharap tuk jadi bebas namun bukan tak terkendali. Terimakasih Dev dari Indra untuk Bunda dalam secuil asa.
Wasalamuallaikum wr.wb

 Yang Selalu Menyayangi       


Devdan Dewa               


Butuh waktu bertahun-tahun agar mereka mau mendengar betapa aku sungguh mencintai ilmu itu. Butuh bertahun-tahun hingga akhirnya hati yang terselubung ego itu terketuk tuk dapat akui betapa besar niatku pada ilmu.

Hingga aku patah arang. Hilang segala daya tuk dapat lagi bertahan dengan jalan yang ingin aku tempuh. Tapi semua seakan memaksa ku untuk menyerah. Dan akhirnya aku menyerah. Menciptakan peperangan yang tak berujung pada kata sepakat. Rasa yang membelenggu aku pada benci. Benci yang sesungguhnya hanya inginkan kebebasan.

Dan aku memilih untuk diam. Diam dan tak lagi mengusik niatku yang tak akan pernah menjadi sesuatu. Sampah. Awalnya kukira ia mempersiapkan aku untuk itu. Untuk berulang kali gagal dan dihancurkan. Berulang kali merasa tak berdaya agar dapat diperdaya. Dan menjadi boneka yang terus terkendali dalam hirarki yang menakutkan. Lagi. Tersudut dalam memori kesendirian.

Tapi ini belum berakhir. Satu bisikan kecil ditelingamu ternyata mampu meluruhkan hati yang selama ini tak dapat kutembus. Meski berkali-kali aku coba. Meski berulang kali aku memaksamu mengerti tapi tak jua berhasil. Tapi mengapa suara itu mampu melakukannya dengan mulus dalam sekali hembusan nafas. Aku iri. Dan aku jadi begitu marah pada diriku yang tak sanggup melakukannya.

Sekaligus berterimakasih. Karena bisiknyalah yang membuka matanmu akan keberdaanku. Saat ini. Waktu yang mungkin entah kapan aku masih merasa takut untuk kehilangan kesempatan itu.


Karena ku tahu ia bisa secepat kilat beralih arah haluan. Untuk mengurungku pada sangkar yang sama. Sangkar yang bertahun aku berusaha untuk kabur. Tapi tak bisa. Tapi walau bagaimanapun aku akan berjuang dengan mempertaruhkan ragaku. Meski juga harus menggadaikan jiwaku. Untuk agar aku dapat mencintai apa itu kebebasan. Kebebasan yang menyeret aku pada aku yang sebenarnya. Jiwa yang selama ini terkubur dalam ketakutan.
Aku bukan sedang menyebrangi arus. Aku hanya lari. Lari dari ruang kenyataan yang menyakitkan ini. Berusaha melepas senyum yang selama ini aku tutupi. Yang selama ini aku rahasiakan dengan diam. Dibawah ruang beratap yang kau sebut rumah ini. Rumah yang didalamnya hanya berisi benci. Neraka bagiku.

Kau hanya akan menilai aku hina, yang mencinta berbeda. Tapi sesungguhnya kaulah yang memaksa aku berjalan mundur. Menjauhimu. Kaulah yang tiada henti menghujam belati di jantung ini. Membuat luka meradang, bernanah. Dan kaulah yang menggores luka didirimu. Yang menuntut begitu banyak dari ketidak mampuanku. Bukan karena aku.

Aku yang diam ini hanya terus terbonekakan oleh benang-benang kuasamu. Kuasa yang kau sebut keadilan. Kuasa yang berakhirnya mimpiku. Jalan ini memang salah ku tempuh. Tapi yang salah itu begitu mampu menjadi candu bagiku. Bagiku yang buta akan kebahagiaan – meski sesaat. Lalu jalan mana yang akan aku pilih?


Ketika kenyataan telah tersaji begitu memberi arti. Kerena aku tidak sedang menggertakmu dengan ini. Kau yang tak mampu mendengar suara hati. Kupaksa melihat bukti. Dari ego yang telah mengoyak nurani. Aku yang tidak pernah meminta darimu ini. Seketika mengemis memohon. Hanya agar kau mau mengabulkan pintaku. Yang tergila oleh lembaran putih berlukisan alfabet dungu.

Aku disini menggema digendang telingamu. Yang telah tuli dengan bisik-bisik hati. Karena tak ada lagi jiwa yang bersarang diragawi. Aku hanya ingin kau sedikit melonggarkan benang kebebasan untukku. Untukku yang kini terkesan durhaka karena ilmu. Karena cukup kau pasung aku dengan kehendakmu. Karena cukup sudah kau rajam aku dengan maumu.

Lalu apa tikdakmu Ibu? Ketika semua telah meluap. Memuntahkan keinginan dalam bentuk benci. Dalam balutan sakit hati yang semakin teracuni kini. Masih kah kau hendak memperparah keadaan ini dengan mereda sesaat. Lalu mencekik aku dengan kuasamu? Dengan segala tandukmu yang hanya menjadikan aku brutal. Tak terkendali. Kebebasan yang antara kau dan aku tak ingini. Tapi tercipta dari lakumu yang menggeliat memaksa aku.


Maka kau akan melihat gelap ditengah terik mentari. Dan pelangi yang akan selalu berwarna sama. Kelabu. Karena jelas aku akan memilih mati. Dari pada kau paksa aku hidup tanpa mimpi. Hidup tanpa harapan untuk merasa hidup. Dan aku akan jauh memilih jalan kelam yang terlihat bersinar dimataku. Jalan yang karena kaulah aku memusuhimu.
Sejatinya aku telah benar-benar bosan. Mengumbar setiap kebencianku dalam paragraf-paragraf diksi. Bukan aku tak punya kebahagiaan untuk dibagi. Bukan aku tak sanggup merangkainya menjadi keceriaan diatas kertas ini. Tapi jumlahnya tak pernah sepadan akan apa yang merasuki. Jangan berkata aku tak mensyukuri hidup ini! Tapi apa yang seharusnya aku syukuri?

Apa kehidupan yang seperti ini? Yang kau pun tahu – penuh luka disetiap sendi. Aku selalu benci mengakui bahwa aku terikat. Garis keturunan yang membelenggu ini. Rumah ini sudah menjadi seperti neraka bagiku. Neraka yang menghancurkan jiwaku. Berulang kali. Aku selalu iri melihat canda yang melekat. Rasa cinta yang sesungguhnya ada. Antara kau dan dia.
                                                                                                
Dan aku hanya selalu berpura. Berpura melengkungkan senyum dihadapan orang yang berkuasa. Berpura tak terjadi apa-apa. Namun dalam hati menyimpan murka yang meradang. Kebencian yang tak berujung. Ia pun sama. Menatapku dengan tatapan hina. Memperlakukanku dengan sikap mengasihani.



Bukan aku tak mau keluar dari garis yang menyengsarakan batin ini. Tapi kemana aku akan pergi? Jika kaki ini terantai besi. Jika aku terus saja dipaksa hancur. Demi memuaskan batinnya, memperolok aku. Aku lebih baik memilih tersiksa ragawai asal jangan batin ini. Terlambat.

Luka tak akan pernah bisa terobati. Hanya terus menjadi. Jika nanti ia mendapati aku menyilangi arus. Jangan pernah tampar aku. Karena aku hanya lari, lari dari aturannya yang tak pernah mengimbangi. Karena mungkin dengan cara ini saja. Ia mau mendengar kataku.


Mendengar setiap dukaku yang selalu berakhir lirih. Dukaku yang tak pernah mau didengar karena ego diri. Atau karena kebanggaannya terhadap putra orang lain. Dan kebahagiaan yang berakhir dengan pemberontakan diri. Yang ingin dimengerti.
Kau datang dengan belati dibalik senyum itu. Datang hendak menebar nanah. Jangan kau kira ku tak tahu racun yang sengaja kau tanam didiriku dulu. Menjalar. Menyisa disetiap nadi-nadi yang mengalir bersama luka. Kini hadirmu menjadi amarah yang meradang dijantungku.

Kau tak lagi menjelma. Karena kaulah Iblis yang sebenarnya. Yang terus saja mencoba menebar bencana. Hingga kini! Hingga kini aku telah terbiasa tanpamu. Aku yang telah mereda, hidup kembali tanpa derita. Tapi kau datang. Entah dengan maksud apa? Kembali menggoda jiwaku mendekap dalam kelam. Dalam gelap terpasung tanpa cahaya.

Kau memang Iblis. Dengan rayuan manismu kau coba rangkuh aku. Kau coba peluk lebih erat. Lebih dalam. Hingga aku jatuh terperosok kedalam nestapa. Nerakamu sesaat terdengar indah ditelingaku. Mengayuh riuh mengalun lembut katamu. Sesaat ku terperangah terjebak oleh rayu busukmu. Oleh neraka yang  kau sulap menjadi nirwana.

Tapi tamparan keras kulayangkan pada diriku. Kuguncangkan jiwaku. Tersadar dari tipu yang sekejap mengaburkan pandanganku. Yang terlena aku dibuatnya membisu. Bahwa kau hanya ingin aku sebagai alat. Alat yang dapat diperdaya tapi aku tak bisa. Walau kau coba memperdaya.


Aku tahu bahwa kau belum pernah dapat menemukan sosok yang lebih baik dari aku. Meski kau telah berdua bersama yang lain. Tapi kau tetap saja datang merangkuh aku. Dengan segala jurus rahasiamu. Aku tahu bahwa kau tak pernah akan menemukan cahaya yang lebih terang dariku. Yang sempat mencintaimu dengan hatiku. Tak akan kau dapat dari cintamu yang baru.